muslimx.id – Sri Mulyani Indrawati resmi memulai babak baru dalam kariernya setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 8 September 2025. Ia bergabung sebagai pengajar di Blavatnik School of Government, University of Oxford, dalam program World Leaders Fellowship tahun 2026. Kehadirannya dinilai sebagai kontribusi penting bagi pembelajaran kebijakan publik global.
Blavatnik School menyebut bahwa Sri Mulyani akan berbagi pengalaman panjangnya sebagai mantan Menteri Keuangan dan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia. Dekan pendiri Blavatnik School, Ngaire Woods, menyambut antusias kehadirannya dan menyebut perspektif Sri Mulyani akan memperkaya dialog lintas negara, terutama terkait tantangan governance modern.
Sri Mulyani menyampaikan bahwa kesempatan ini merupakan kehormatan, sekaligus ruang untuk memperkuat nilai integritas dan kompetensi bagi calon pemimpin dunia. Ia menegaskan bahwa pemimpin masa depan harus mampu bertindak jujur, profesional, dan berpihak pada kepentingan publik.
Integritas dalam Kepemimpinan Menurut Ajaran Islam
Islam memandang jabatan sebagai sebuah amanah besar yang tidak boleh disalahgunakan. Pemimpin diperintahkan untuk berlaku adil, jujur, dan menjaga kepercayaan publik. Nilai-nilai ini selaras dengan pesan yang disampaikan Sri Mulyani dalam perannya sebagai pendidik kebijakan publik.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya amanah dan keadilan dalam kepemimpinan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menunjukkan bahwa pemimpin bukan hanya pengelola kebijakan, tetapi penjaga kepercayaan rakyat. Amanah bukan sekadar konsep moral, melainkan tuntutan syariat.
Pemimpin sebagai Teladan: Pesan Keras dari Hadis
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan tegas bahwa jabatan tanpa integritas akan mendatangkan kehancuran:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan kebanggaan. Pemimpin harus menjaga moral, transparansi, dan keadilan dalam setiap keputusan.
Refleksi dari Kepergian Sri Mulyani: Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan
Keberangkatan Sri Mulyani ke Oxford mengingatkan bahwa kepemimpinan modern memerlukan kombinasi antara kompetensi profesional dan integritas moral. Islam menempatkan kedua aspek ini sebagai satu kesatuan: pemimpin harus mampu dan harus jujur.
Dalam konteks kondisi bangsa, pesan ini semakin relevan. Publik menuntut pemimpin yang berani berkata benar, bekerja berdasarkan data, serta tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan kelompok.
Mendorong Lahirnya Pemimpin Berintegritas di Indonesia
Untuk membangun tata kelola yang bersih, Indonesia membutuhkan sistem yang mendorong lahirnya pemimpin berkarakter amanah. Pendidikan kebijakan publik, pelatihan etika, serta reformasi rekrutmen pejabat menjadi langkah penting agar jabatan diisi oleh orang yang tepat.
Islam memberikan panduan bahwa pemimpin harus memenuhi dua syarat utama—kuat dan amanah, sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf:
“Sesungguhnya aku adalah penjaga yang mengetahui dan dapat dipercaya (amanah).” (QS. Yusuf: 55)
Kuat berarti kompeten; amanah berarti dapat dipercaya. Keduanya wajib hadir dalam diri pemimpin.
Kepergian Sri Mulyani ke Oxford membawa pesan penting bahwa pemimpin harus terus belajar dan berkembang. Dalam ajaran Islam, integritas adalah pilar utama kepemimpinan. Jabatan adalah amanah, bukan privilese. Pemimpin yang berintegritas, berilmu, dan berakhlak akan melahirkan kebijakan yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat. Masa depan bangsa membutuhkan pemimpin yang mengabdi dengan hati bersih dan memegang teguh amanah yang Allah titipkan.