Indonesia Krisis: Kesejahteraan Menurut Negara, Ketahanan Menurut Nilai Islam

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.idIndonesia Krisis bukan sekadar jargon pesimistis, melainkan potret nyata yang kian dirasakan oleh kelas menengah. Di tengah klaim pemerintah tentang stabilitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan, jutaan keluarga kelas menengah justru mengalami penurunan kualitas hidup secara perlahan namun pasti. Biaya hidup meningkat, pendapatan stagnan, dan perlindungan sosial semakin menjauh dari mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Pemerintah kerap menyatakan ekonomi dalam kondisi sehat berdasarkan indikator makro seperti pertumbuhan dan investasi. Namun di balik angka tersebut, kelas menengah justru mengalami tekanan berat. Biaya hidup meningkat mulai dari cicilan, pendidikan, hingga pajak sementara daya tahan ekonomi mereka semakin menipis.

Kelas menengah berada di posisi rentan karena tidak termasuk penerima bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kuat menghadapi guncangan ekonomi. Fokus negara pada statistik makro membuat krisis sosial ini terabaikan. Akibatnya, pertumbuhan dirayakan, sementara ketahanan hidup kelas menengah terus melemah tanpa perlindungan kebijakan yang memadai.

Partai X: Negara Tak Boleh Menutup Mata

Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menilai kondisi ini sebagai tanda kegagalan negara membaca denyut kehidupan rakyat.

“Jika pemerintah terus mengklaim sejahtera sementara kelas menengah jatuh perlahan, maka ada krisis kejujuran dalam kebijakan publik. Negara tidak boleh bersembunyi di balik statistik,” tegas Prayogi.

Ia kembali mengingatkan fungsi dasar negara yang tidak boleh diabaikan.

“Tugas negara itu hanya tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Kelas menengah hari ini justru tidak dilindungi, tidak dilayani, dan hanya diatur untuk menanggung beban.”

Menurutnya, pembiaran terhadap melemahnya kelas menengah adalah bentuk kelalaian struktural yang akan berdampak luas bagi masa depan bangsa.

Melemahnya kelas menengah bukan sekadar persoalan ekonomi rumah tangga, melainkan ancaman struktural bagi negara. Kelas menengah adalah penyangga konsumsi, stabilitas sosial, dan mobilitas ekonomi. Ketika mereka tertekan, konsumsi melemah, ketimpangan melebar, dan potensi konflik sosial meningkat.

Islam Ingatkan: Kesejahteraan adalah Amanah, Bukan Klaim

Dalam perspektif Islam, kesejahteraan tidak diukur dari klaim atau angka pertumbuhan semata, melainkan dari kemampuan rakyat menjalani hidup dengan layak dan bermartabat. Allah SWT berfirman:

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa kebijakan ekonomi harus mencegah pemusatan beban dan manfaat pada kelompok tertentu. Ketika kelas menengah terus tertekan sementara negara mengklaim sejahtera, maka telah terjadi ketimpangan distribusi yang bertentangan dengan prinsip keadilan Islam.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidaklah beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani)

Hadis ini mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan sekadar kondisi individu, melainkan tanggung jawab sosial dan politik. Negara yang mengklaim sejahtera sementara warganya jatuh perlahan sedang mengabaikan amanah kepemimpinan.

Islam memandang kerusakan sosial sebagai akibat dari kebijakan yang tidak adil. Negara yang membiarkan kelas menengah runtuh sejatinya sedang menyiapkan krisis jangka panjang baik ekonomi, sosial, maupun moral.

Solusi: Menyelamatkan Kelas Menengah sebagai Amanah Negara

Untuk mencegah krisis yang lebih dalam, Islam menuntut negara mengambil langkah korektif yang berpihak nyata pada rakyat, khususnya kelas menengah:

  1. Menjadikan perlindungan kelas menengah sebagai prioritas kebijakan ekonomi nasional.
  2. Meringankan beban pajak dan iuran yang menekan pendapatan riil.
  3. Menjamin akses terjangkau terhadap pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
  4. Menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, bukan sekadar mengejar statistik serapan.
  5. Menyusun kebijakan berbasis realitas sosial, bukan sekadar narasi pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan yang adil bukan yang paling indah dalam laporan, tetapi yang paling terasa dalam kehidupan rakyat.

Penutup: Klaim Sejahtera Tak Menghapus Krisis Nyata

Dari perspektif Islam, krisis tidak hilang hanya karena pemerintah mengklaim sejahtera. Selama kelas menengah jatuh perlahan dan negara memilih menutup mata, Indonesia Krisis akan terus menjadi kenyataan, bukan sekadar peringatan.

Negara yang jujur adalah negara yang berani mengakui penderitaan rakyatnya dan memperbaiki arah kebijakan. Sebab di hadapan Allah SWT, yang akan ditanya bukan seberapa indah narasi kesejahteraan, melainkan seberapa adil kekuasaan dijalankan untuk melindungi kehidupan rakyat.

Share This Article