IHSG Hijau, Buruh Terpukul: Islam Mengingatkan, Kesejahteraan Bukan Sekadar Angka Pasar

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id— Dalam pandangan Islam, kesehatan ekonomi tidak diukur dari euforia pasar keuangan, melainkan dari terjaganya kehidupan dan martabat manusia. Karena itu, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menghijau sementara buruh dan pekerja justru terpukul oleh PHK, kerja kontrak, dan ketidakpastian hidup, kondisi ini menunjukkan negara yang rapuh secara struktural.

Allah SWT mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah kemewahan segelintir pihak, melainkan keadilan yang dirasakan bersama:

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ketika keuntungan pasar hanya dinikmati pemilik modal, sementara buruh menanggung beban penyesuaian, maka keadilan ekonomi telah dilanggar.

Pasar Modal Menguat, Dunia Kerja Melemah

Dalam beberapa bulan terakhir, penguatan IHSG ditopang oleh sektor perbankan, komoditas, dan korporasi besar. Namun pada saat yang sama, publik menyaksikan gelombang PHK di industri tekstil, garmen, alas kaki, dan manufaktur padat karya. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan, sementara yang bertahan dipaksa menerima sistem kerja kontrak dan outsourcing yang kian tidak pasti.

Ironisnya, langkah-langkah ini justru diapresiasi pasar sebagai “efisiensi” dan sinyal positif bagi profitabilitas. Padahal bagi buruh, efisiensi tersebut berarti upah stagnan, jam kerja tak menentu, dan hilangnya jaminan sosial.

Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan perlakuan tidak adil terhadap pekerja:

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menegaskan bahwa pekerja harus dimuliakan, bukan dijadikan korban strategi keuntungan.

Buruh sebagai Korban Negara Rapuh Struktural

Dalam negara yang rapuh secara struktural, pertumbuhan tidak dibangun di atas produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja, melainkan pada ekstraksi sumber daya dan spekulasi finansial. Akibatnya, buruh tidak diposisikan sebagai aset pembangunan, tetapi sebagai variabel penyesuaian ketika tekanan ekonomi muncul.

Revisi regulasi ketenagakerjaan yang semakin fleksibel, lemahnya perlindungan buruh, serta minimnya industrialisasi padat karya menunjukkan absennya negara sebagai penyeimbang antara kepentingan modal dan hak tenaga kerja.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mengurangi hak-hak manusia dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Hud: 85)

Ketika hak buruh dikorbankan demi menjaga kinerja pasar, kerusakan sosial menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Mengandalkan IHSG sebagai cermin utama keberhasilan ekonomi adalah kekeliruan serius. Pasar saham dapat tumbuh tanpa menciptakan lapangan kerja, bahkan di tengah meningkatnya pengangguran dan kerja rentan. Ketika buruh terpukul, daya beli melemah, dan konsumsi rumah tangga tertekan, fondasi ekonomi nasional sesungguhnya sedang rapuh.

Solusi: Menyatukan Pertumbuhan dan Keadilan Sosial

Untuk keluar dari paradoks IHSG hijau dan buruh terpuruk, Islam menuntut perubahan arah kebijakan yang berpihak pada keadilan:

Pertama, menempatkan perlindungan buruh sebagai inti strategi ekonomi nasional, bukan sekadar isu teknis ketenagakerjaan. Kedua, mendorong reindustrialisasi padat karya, agar pertumbuhan menciptakan pekerjaan formal yang layak dan berkelanjutan.

Ketiga, memperkuat regulasi dan pengawasan ketenagakerjaan, guna mencegah PHK massal dan praktik kerja tidak adil. Keempat, mengaitkan insentif korporasi dengan penciptaan kerja dan kesejahteraan buruh, bukan semata laba dan kinerja saham.

Dan kelima, memperluas jaring pengaman sosial, agar buruh terdampak PHK tidak langsung jatuh ke jurang kemiskinan.

Penutup: Hijau di Bursa, Merah di Kehidupan Rakyat

IHSG yang hijau seharusnya menjadi kabar baik bagi seluruh rakyat, bukan hanya bagi pemilik modal. 

Dalam Islam, pertumbuhan yang mengorbankan buruh adalah pertumbuhan tanpa keberkahan.

Tanpa keberpihakan nyata kepada pekerja, negara Indonesia yang rapuh secara struktural hanya akan melahirkan stabilitas semu: indah di layar bursa, pahit di kehidupan nyata. Negara harus kembali pada mandatnya melindungi, melayani, dan mengatur agar keadilan sosial tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam kehidupan buruh dan rakyat sehari-hari.

Share This Article