Bahaya Membungkam Kritik atas Nama Stabilitas: Ketertiban Semu dan Azab Sosial

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id Bahaya membungkam kritik bekerja secara halus. Ia tidak selalu datang dalam bentuk larangan keras, tetapi melalui normalisasi: kritik dianggap tidak etis, tidak sopan, atau tidak patriotik.

Salah satu narasi paling sering digunakan untuk membungkam kritik adalah stabilitas. Atas nama ketertiban, suara rakyat dipersempit. Atas nama keamanan, celaan dianggap mengganggu. Padahal dalam perspektif Islam, stabilitas yang menyingkirkan keadilan bukanlah stabilitas, melainkan ketenangan palsu.

Stabilitas yang Dipertuhankan

Islam tidak menolak stabilitas. Namun Islam menolak ketika stabilitas dipertuhankan hingga mengalahkan kebenaran. Ketertiban yang dibangun dengan membungkam kritik adalah ketertiban tanpa ruh keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menempatkan keadilan sebagai fondasi utama, bukan stabilitas prosedural. Ketika celaan dibungkam demi menjaga citra ketertiban, keadilan justru dikorbankan. Inilah awal kerusakan sosial yang sering tidak disadari.

Ketertiban Semu dan Akumulasi Kezaliman

Masyarakat yang tampak tertib belum tentu sehat. Bisa jadi ketertiban itu lahir dari ketakutan, bukan kesadaran. Rakyat diam bukan karena setuju, tetapi karena takut. Dalam kondisi ini, kezaliman tidak hilang, hanya ditunda dampaknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak mengubahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa bahaya membungkam kritik bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang akumulasi dosa sosial yang pada akhirnya meledak dalam bentuk krisis besar.

Partai X: Stabilitas Tanpa Celaan Adalah Ilusi

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa penggunaan narasi stabilitas untuk menekan kritik adalah kesalahan serius dalam tata kelola negara.

“Stabilitas yang sehat justru membutuhkan kritik. Ketika kritik dianggap ancaman, yang lahir bukan stabilitas, tapi ilusi ketertiban. Masalah tidak selesai, hanya disembunyikan,” ujar Rinto.

Menurutnya, bahaya membungkam celaan terletak pada sifatnya yang menunda kehancuran. Negara terlihat tenang di permukaan, tetapi rapuh di dalam. Ketika tekanan sosial mencapai titik tertentu, ledakan menjadi tidak terhindarkan.

Rinto juga menegaskan bahwa dalam etika Islam, kekuasaan yang anti-kritik sedang memutus saluran nasihat padahal nasihat adalah mekanisme koreksi paling dasar dalam kepemimpinan.

Penutup: Stabilitas atau Keselamatan Moral?

Dalam sejarah Islam, para khalifah justru takut pada ketertiban yang dibangun di atas kebohongan. Umar bin Khattab RA pernah menghentikan khutbahnya ketika dikritik oleh rakyat biasa. Ini menunjukkan bahwa ketertiban sejati lahir dari keterbukaan terhadap kebenaran, bukan dari pembungkaman.

Bahaya membungkam kritik muncul ketika penguasa lebih sibuk menjaga wibawa daripada menjaga keadilan. Padahal wibawa sejati lahir dari keberanian menerima koreksi.

Ketika kritik dibungkam secara sistematis, masyarakat belajar satu hal: diam adalah jalan selamat. Diam menjadi budaya. Inilah bentuk dosa sosial modern bukan karena semua orang jahat, tetapi karena kebaikan dipaksa bersembunyi.

Islam mengajarkan bahwa keselamatan moral lebih utama daripada ketertiban semu. Bahaya membungkam kritik terletak pada kemampuannya membuat masyarakat merasa aman, padahal sedang menuju jurang kehancuran.

Negeri yang kuat bukan negeri yang sepi kritik, tetapi negeri yang berani mendengar kebenaran. Selama kritik masih diberi ruang, keadilan punya harapan. Namun ketika stabilitas dijadikan alasan untuk membungkam suara nurani, sejarah Islam menunjukkan satu kepastian: azab sosial tinggal menunggu waktu.

Share This Article