muslimx.id – Bahaya membungkam kritik bukan hanya persoalan kebebasan berpendapat, tetapi menyentuh wilayah akidah, moral sosial, dan tanggung jawab kolektif umat.
Dalam banyak masyarakat, kritik hari ini tidak lagi dipandang sebagai bentuk kepedulian, melainkan dicurigai sebagai ancaman. Suara yang berbeda sering diberi stigma, ditekan secara simbolik, atau bahkan dibungkam melalui mekanisme struktural. Akibatnya, rakyat memilih diam. Bukan karena setuju, tetapi karena takut.
Diam Bukan Sikap Netral dalam Islam
Dalam Islam, diam terhadap kemungkaran bukan sikap aman, apalagi netral. Diam adalah pilihan moral yang memiliki konsekuensi. Ketika kebatilan dibiarkan, dan kebenaran tidak lagi disuarakan, maka dosa tidak lagi bersifat individual, melainkan berubah menjadi dosa sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap level keimanan menuntut respons. Ketika lisan dibungkam, dan hati dipaksa diam, maka iman sosial sebuah masyarakat sedang berada di titik terlemah.
Di sinilah letak bahaya membungkam kritik: ia bukan hanya mematikan suara, tetapi melumpuhkan iman kolektif.
Pembungkaman Kritik dan Normalisasi Ketidakadilan
Ketika kritik dibungkam secara sistematis baik melalui tekanan simbolik, stigmatisasi, maupun ancaman hukum kemungkaran perlahan menjadi normal. Kebijakan yang zalim tidak lagi diperdebatkan, ketidakadilan tidak lagi dipersoalkan, dan penderitaan dianggap sebagai risiko yang harus diterima.
Islam mengingatkan bahwa kemungkaran yang dinormalisasi akan menjadi sistem, dan sistem yang zalim akan menelan semua, termasuk mereka yang semula diam.
Allah SWT berfirman:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal: 25)
Ayat ini adalah peringatan keras bahwa azab sosial tidak mengenal status. Ketika masyarakat membiarkan kezaliman tumbuh, maka dampaknya akan dirasakan bersama tanpa kecuali.
Hadis tentang Azab Kolektif: Peringatan yang Sering Diabaikan
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat jelas tentang bahaya diam terhadap kemungkaran:
“Sesungguhnya jika manusia melihat orang zalim lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semuanya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi landasan utama dalam memahami bahaya membungkam kritik. Azab tidak hanya menimpa pelaku kezaliman, tetapi juga mereka yang memilih diam karena takut, nyaman, atau ingin aman.
Dalam perspektif Islam, masyarakat yang membiarkan kezaliman sama berbahayanya dengan pelaku kezaliman itu sendiri.
Partai X: Represi dan Ketakutan Awal Keruntuhan Moral
Ketika rakyat takut bersuara, bukan hanya kritik yang mati, tetapi kejujuran publik ikut terkubur. Orang-orang baik memilih menyingkir. Yang tersisa hanyalah suara yang menyenangkan kekuasaan. Inilah awal keruntuhan moral sebuah bangsa.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk hidup dalam ketakutan terhadap sesama manusia. Ketakutan sejati hanya kepada Allah SWT. Ketika rasa takut kepada kekuasaan lebih besar daripada takut melanggar kebenaran, maka orientasi iman telah bergeser.
Bahaya membungkam kritik terletak di sini: ia mengubah masyarakat beriman menjadi masyarakat bisu.
Dalam Islam, kritik bukan ancaman, tetapi mekanisme penyelamat. Kritik menjaga kekuasaan agar tidak menyimpang, dan menjaga masyarakat agar tidak terjerumus dalam dosa kolektif.
Penutup: Ketika Diam Lebih Berbahaya dari Bicara
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk gaduh tanpa adab, tetapi juga tidak membenarkan ketenangan yang dibangun di atas ketakutan. Bahaya membungkam kritik bukan hanya merusak demokrasi atau kebebasan sipil, tetapi mengundang murka Allah secara kolektif.
Ketika kemungkaran dibiarkan, ketika kebenaran dibungkam, dan ketika rasa aman dibeli dengan diam, maka yang datang bukan keselamatan, melainkan kehancuran yang tertunda.
Islam memanggil umatnya untuk berbicara dengan adab, diam hanya pada yang sia-sia, dan berdiri tegak di hadapan kemungkaran.