muslimx.id – Salah satu ciri paling mencolok dari fenomena ketika agama dijual adalah menjamurnya simbol-simbol Islami di ruang kekuasaan, sementara nilai-nilai keadilan justru kian menjauh dari praktik pemerintahan. Agama tampil di panggung publik melalui slogan, busana, dan retorika, tetapi absen dalam pengambilan kebijakan yang menyentuh penderitaan rakyat.
Inilah paradoks besar keagamaan hari ini: Islam dijadikan identitas visual, bukan pedoman etika. Kesalehan dipertontonkan, sementara akhlak ditinggalkan. Dalam kondisi seperti ini, agama bukan lagi cahaya penuntun, melainkan tirai yang menutupi kebobrokan moral.
Simbol Islami Tanpa Substansi Moral
Islam menolak pemisahan antara simbol dan nilai. Dalam Al-Qur’an, iman selalu disandingkan dengan amal saleh. Ketika simbol keislaman berdiri sendiri tanpa keadilan dan kejujuran, maka yang terjadi adalah kemunafikan struktural.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2–3)
Ayat ini menjadi kritik keras terhadap praktik ketika agama dijual melalui simbol, sementara kebijakan justru menindas dan mengabaikan amanah. Islam tidak menilai kesalehan dari tampilan, tetapi dari keberpihakan kepada keadilan.
Partai X: Religionomic Berbasis Pencitraan
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa penggunaan simbol agama oleh kekuasaan sering kali bukan bertujuan memperkuat nilai Islam, melainkan mengamankan legitimasi kekuasaan. Menurutnya, simbol keagamaan diproduksi untuk membangun citra moral, bukan untuk memperbaiki praktik kekuasaan.
Prayogi menegaskan bahwa ketika agama diperlakukan sebagai alat branding kekuasaan, maka yang lahir adalah religionomic berbasis pencitraan agama dijual sebagai kemasan, bukan dijalankan sebagai nilai. Dalam kondisi ini, agama justru kehilangan daya kritisnya terhadap kekuasaan.
Pandangan ini memperkuat kenyataan bahwa ketika agama dijual, ia sering diposisikan sebagai perisai kekuasaan, bukan pengingat kesalahan.
Praktik Jahiliyah dengan Label Islami
Islam menyebut jahiliyah bukan semata karena ketiadaan agama, tetapi karena ketiadaan akhlak dan keadilan. Ketika kebohongan dilegalkan, ketidakadilan dinormalisasi, dan kritik dibungkam meskipun dibalut simbol Islami maka praktik tersebut hakikatnya adalah jahiliyah modern.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran keislaman terletak pada akhlak. Maka kekuasaan yang rajin memamerkan simbol agama tetapi abai pada akhlak sejatinya sedang menghidupkan kembali nilai jahiliyah dalam bentuk baru.
Penutup: Mengembalikan Substansi Islam dalam Kekuasaan
Dampak sosial dari fenomena ini sangat serius. Umat menjadi bingung membedakan mana agama sebagai ajaran ilahi, dan makna agama sebagai alat kekuasaan. Ketika simbol Islami terus dipertontonkan tetapi keadilan tidak dirasakan, lahirlah sinisme dan kelelahan moral di tengah masyarakat.
Islam tidak melarang simbol, tetapi menolak simbol tanpa makna. Agama harus hadir sebagai kekuatan etik yang mengoreksi kekuasaan, bukan sekadar ornamen legitimasi.
Selama ketika agama dijual masih dibiarkan, selama itu pula simbol Islami akan terus bertabrakan dengan praktik jahiliyah. Jalan keluarnya bukan menghapus agama dari ruang publik, tetapi mengembalikan agama ke fungsi aslinya: menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah.