muslimx.id– Fenomena ketika agama dijual bukanlah isu baru dalam sejarah umat manusia, namun dalam konteks pemerintahan modern, praktik ini tampil dengan wajah yang semakin halus dan sistematis. Agama tidak lagi semata-mata menjadi pedoman moral, melainkan berubah menjadi komoditas kekuasaan dipakai untuk legitimasi, pencitraan, bahkan transaksi kepentingan.
Inilah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai religionomic: kondisi ketika agama diperlakukan seperti aset pemerintahan dan ekonomi. Simbol-simbol keagamaan diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan untuk memperoleh loyalitas publik, sementara nilai-nilai substansial Islam justru terpinggirkan.
Dalam situasi seperti ini, ibadah kehilangan ruh keikhlasan, dan kekuasaan kehilangan rasa takut kepada Allah.
Ketika Agama Dijual dan Kekuasaan Kehilangan Dimensi Ibadah
Islam sejak awal menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan administratif, tetapi amanah yang akan dihisab.
Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…” (QS. Al-Qasas: 77)
Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia boleh dikelola, kekuasaan boleh dipegang, tetapi orientasi akhirat tidak boleh mati. Masalah muncul ketika kekuasaan justru menjadikan agama sebagai alat duniawi semata. Di titik inilah ketika agama dijual, ibadah berubah menjadi kosmetik, dan moral digantikan oleh strategi.
Partai X: Agama Jangan Jadi Alat Kekuasaan
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa religionomic adalah gejala serius dalam pemerintahan kontemporer. Menurutnya, agama tidak lagi diposisikan sebagai sumber etika, melainkan instrumen legitimasi kekuasaan.
Prayogi menegaskan bahwa ketika simbol agama digunakan untuk menutupi kebijakan yang tidak adil, maka agama telah direduksi menjadi alat transaksi kekuasaan, bukan pedoman moral. Dalam kondisi ini, agama justru kehilangan fungsi korektifnya terhadap kekuasaan.
Pandangan ini sejalan dengan kritik Islam klasik terhadap praktik menjual ayat-ayat Allah demi keuntungan dunia. Allah SWT memperingatkan:
Salah satu dampak paling berbahaya dari religionomic adalah matinya keikhlasan. Ibadah yang seharusnya lahir dari niat tulus berubah menjadi pertunjukan publik. Kesalehan tidak lagi dinilai dari kejujuran dan keadilan, melainkan dari seberapa efektif ia menarik simpati massa.
Prayogi menambahkan bahwa agama yang dijadikan alat kekuasaan pada akhirnya akan ditinggalkan oleh umat, terutama generasi muda, karena dianggap tidak lagi otentik dan membela keadilan.
Penutup: Mengembalikan Agama ke Fungsi Aslinya
Islam tidak menolak kehadiran agama di ruang publik. Justru Islam menuntut agar agama menjadi penuntun kekuasaan, bukan pelayannya. Agama hadir untuk mengoreksi, menasihati, dan membatasi kekuasaan agar tidak menyimpang.
Ketika niat digeser dari Allah menuju kepentingan kekuasaan, maka amal kehilangan nilainya. Inilah tragedi besar ketika agama dijual: bukan hanya umat yang dirugikan, tetapi juga agama itu sendiri yang diperalat.
Ketika agama dikembalikan pada fungsi moralnya, maka kekuasaan akan kembali memiliki rasa takut kepada Allah, dan kekuasaan akan dipahami sebagai ibadah, bukan peluang bisnis.
Jika tidak, maka ketika agama dijual, yang tersisa hanyalah simbol tanpa makna, dan kekuasaan tanpa akhlak sebuah kombinasi yang berbahaya bagi umat dan bangsa.