muslimx.id– Urgensi membicarakan jalan menghidupkan Pancasila hari ini tidak lagi cukup sebagai perdebatan ideologis, melainkan harus diletakkan sebagai persoalan moral kekuasaan. Ketika etika dikesampingkan, nilai-nilai luhur Pancasila kehilangan daya hidupnya. Pancasila tanpa moral mudah direduksi menjadi slogan seremonial dikumandangkan, tetapi tidak dihayati. Tanpa tanggung jawab etis, Pancasila kehilangan ruh kemanusiaannya dan gagal menjadi pedoman dalam praktik keadilan, keberpihakan, dan kebijakan publik.
Salah satu sebab utama mengapa Pancasila terasa kehilangan daya hidupnya adalah krisis moral dalam praktik kekuasaan. Pancasila sering dijadikan simbol legitimasi, tetapi tidak dijalankan sebagai pedoman etika. Akibatnya, kebijakan boleh terlihat sah secara prosedural, namun miskin keadilan secara substansial.
Kekuasaan yang Lepas dari Moral
Dalam banyak praktik pemerintahan modern, kekuasaan dipahami sebagai hasil mandat elektoral semata. Selama prosedur terpenuhi, kebijakan dianggap sah, meskipun dampaknya menyakiti rakyat. Logika inilah yang melahirkan apa yang disebut sebagai keadilan prosedural tanpa keadilan moral.
Islam memandang kekuasaan secara berbeda. Kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin lalu ia menipu mereka, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kekuasaan tanpa moral bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan pelanggaran amanah. Maka jalan menghidupkan Pancasila tidak mungkin ditempuh jika etika kekuasaan diabaikan.
Pancasila dan Bahaya Pragmatisme Kekuasaan
Pragmatisme kekuasaan sering kali membenarkan segala cara demi stabilitas dan kepentingan jangka pendek. Dalam kondisi ini, Pancasila diposisikan sebagai alat pemersatu semu, bukan sebagai standar etik. Ketika kritik dianggap gangguan dan keadilan dikalahkan oleh kepentingan, Pancasila kehilangan fungsinya sebagai penuntun moral bangsa.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dikorbankan atas nama apa pun. Karena itu, jalan menghidupkan Pancasila harus berani menolak pragmatisme yang menggerus nilai.
Partai X: Kekuasaan Tanpa Etika Merusak Kepercayaan Publik
Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa krisis Pancasila hari ini sangat terkait dengan menurunnya etika dalam pengambilan kebijakan. Menurutnya, ketika kekuasaan dijalankan tanpa kompas moral, yang rusak bukan hanya sistem, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap negara.
Erick menegaskan bahwa Pancasila seharusnya menjadi standar etika tertinggi, bukan sekadar alat retorika. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan yang kehilangan kepekaan moral akan melahirkan kebijakan yang sah di atas kertas, tetapi tidak adil dalam kenyataan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya karena menciptakan jarak antara negara dan rakyatnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa jalan menghidupkan Pancasila harus dimulai dari keberanian pemimpin menjadikan moralitas sebagai fondasi kekuasaan.
Penutup: Menghidupkan Pancasila Melalui Keteladanan Kekuasaan
Ketika negara gagal melindungi rakyat dari ketimpangan ekstrem, kriminalisasi berlebihan, atau kebijakan yang menggerus martabat manusia, maka negara sedang menjauh dari nilai Pancasila dan Maqashid sekaligus. Inilah sebabnya jalan menghidupkan Pancasila harus selalu diukur dari dampak etik kebijakan.
Pancasila tidak akan hidup melalui pidato panjang atau regulasi berlapis, tetapi melalui keteladanan moral para pemegang kekuasaan. Ketika pemimpin adil, jujur, dan berpihak kepada rakyat, Pancasila akan hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Jalan menghidupkan Pancasila adalah jalan etika jalan yang menuntut keberanian untuk menempatkan keadilan di atas kepentingan, dan amanah di atas ambisi. Tanpa itu, Pancasila akan tetap disebut, tetapi tidak pernah benar-benar dirasakan.