muslimx.id– Pentingnya membicarakan jalan menghidupkan Pancasila bukan sebagai slogan, tetapi sebagai sistem nilai yang benar-benar bekerja dalam kehidupan berbangsa.
Pancasila secara formal masih berdiri kokoh sebagai dasar negara. Ia dibacakan dalam upacara, dikutip dalam pidato, dan dijadikan rujukan dalam berbagai dokumen resmi. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa Pancasila terasa semakin jauh dari kehidupan rakyat? Di tengah ketimpangan sosial yang melebar dan keadilan yang sering terasa semu, muncul kesadaran bahwa persoalannya bukan pada teks Pancasila, melainkan pada hilangnya ruh nilai dalam praktik kebijakan.
Pancasila sebagai Simbol, Bukan Pedoman
Salah satu gejala paling nyata dari krisis Pancasila adalah ketika ia diperlakukan sebagai simbol formal, bukan pedoman moral. Pancasila hadir dalam retorika, tetapi absen dalam keberpihakan. Keadilan sosial kerap diklaim, namun ketimpangan ekonomi dan hukum justru semakin terasa.
Dalam perspektif Islam, nilai tanpa moral adalah kehampaan. Sebuah sistem yang tidak membuahkan keadilan sejatinya sedang kehilangan ruhnya. Karena itu, jalan menghidupkan Pancasila tidak bisa ditempuh hanya dengan penguatan regulasi atau slogan ideologis, tetapi harus menyentuh dimensi etika kekuasaan.
Ketimpangan Sosial sebagai Cermin Kegagalan Nilai
Ketimpangan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi indikator kegagalan moral negara. Ketika sebagian kecil menikmati akses dan privilese, sementara mayoritas berjuang memenuhi kebutuhan dasar, keadilan sosial kehilangan maknanya.
Islam menempatkan keadilan sebagai fondasi kehidupan kolektif. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini sejalan dengan sila kelima Pancasila. Maka ketika ketimpangan dibiarkan, sesungguhnya bukan hanya nilai Islam yang dilanggar, tetapi juga Pancasila yang dikhianati. Inilah mengapa jalan menghidupkan Pancasila harus dimulai dari keberanian menegakkan keadilan nyata, bukan keadilan prosedural semata.
Partai X: Pancasila Kehilangan Fungsi Etiknya
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa problem utama Pancasila hari ini adalah reduksi nilai menjadi simbol kekuasaan. Menurutnya, Pancasila sering dipakai sebagai alat legitimasi, bukan sebagai alat koreksi terhadap kebijakan yang menyimpang.
Prayogi menegaskan bahwa selama Pancasila tidak dijadikan kerangka etis dalam pengambilan keputusan, maka ia akan terus kehilangan daya hidup. Pancasila, kata dia, membutuhkan keberanian moral untuk diterjemahkan ke dalam kebijakan yang berpihak, bukan sekadar retorika persatuan.
Pandangan ini menegaskan bahwa jalan menghidupkan Pancasila bukan proyek ideologis, melainkan proyek moral dan keberanian politik.
Penutup: Menemukan Kembali Jalan Menghidupkan Pancasila
Dalam sudut pandang Islam, sebuah sistem hanya bernilai jika ia menjaga tujuan-tujuan dasar kehidupan: keadilan, perlindungan jiwa, akal, dan harta. Tanpa moralitas, sistem apa pun termasuk Pancasila akan berubah menjadi slogan kosong.
Pancasila tidak membutuhkan pembelaan simbolik, tetapi pengamalan nyata. Ketika keadilan ditegakkan, ketimpangan dipersempit, dan kekuasaan dijalankan dengan akhlak, disitulah Pancasila kembali hidup.
Sebagaimana Islam mengajarkan bahwa amal lebih utama daripada slogan, demikian pula Pancasila hanya akan bermakna jika ia hadir dalam kebijakan yang adil. Jalan menghidupkan Pancasila adalah jalan panjang, tetapi ia harus dimulai sekarang dari keberanian moral, keteladanan kekuasaan, dan kesadaran kolektif bangsa.