muslimx.id– Salah satu ancaman terbesar bagi arah Indonesia Emas bukanlah keterbatasan ekonomi atau teknologi, melainkan budaya diam yang dinormalisasi. Rakyat diajak percaya bahwa ketenangan lebih penting daripada kebenaran, dan stabilitas lebih utama daripada keadilan. Dalam kondisi seperti ini, bangsa mungkin tampak rapi di permukaan, tetapi sesungguhnya rapuh di dalam.
Islam menolak logika tersebut. Peradaban tidak pernah dibangun oleh rakyat yang dibungkam, melainkan oleh masyarakat yang sadar, berani, dan bertanggung jawab secara moral.
Budaya Bungkam dan Ilusi Stabilitas
Dalam banyak rezim sepanjang sejarah, pembungkaman kritik selalu dibungkus dengan alasan stabilitas. Kritik dianggap mengganggu persatuan, suara berbeda dicurigai sebagai ancaman, dan keheningan dipuji sebagai kedewasaan.
Namun sejarah membuktikan sebaliknya. Negara yang membungkam rakyatnya sedang menunda ledakan krisis, bukan mencegahnya. Ketika ruang kritik ditutup, kesalahan tidak berhenti terjadi, tetapi berhenti diperbaiki.
Islam memandang sikap ini berbahaya. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian. Barang siapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah: 283)
Ayat ini menunjukkan bahwa diam terhadap kebenaran bukan sikap netral, tetapi dosa moral.
Diam terhadap Kemungkaran adalah Masalah Kolektif
Dalam Islam, kezaliman yang dibiarkan tidak hanya menjadi dosa pelaku, tetapi juga dosa sosial. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika manusia melihat kemungkaran lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semuanya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini sangat relevan dalam membaca arah Indonesia Emas. Bangsa yang membiarkan ketidakadilan demi rasa aman semu sedang mempertaruhkan masa depannya sendiri. Kemajuan yang dibangun di atas pembiaran akan runtuh ketika krisis datang.
Islam menempatkan keberanian moral sebagai pilar masyarakat sehat. Kritik yang jujur bukan bentuk pembangkangan, melainkan wujud tanggung jawab sosial.
Bangsa Besar Tidak Takut pada Kritik
Islam mengajarkan bahwa pemimpin yang baik justru membuka ruang nasihat. Rasulullah ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin menerima kritik, bahkan dari rakyat biasa. Umar bin Khattab ra. pernah ditegur secara terbuka, dan beliau menerimanya dengan lapang dada.
Teladan ini menunjukkan bahwa negara kuat lahir dari dialog, bukan dari ketakutan. Arah Indonesia Emas hanya mungkin tercapai jika kritik dipandang sebagai vitamin demokrasi, bukan racun kekuasaan.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Penutup: Memilih Diam atau Menjaga Masa Depan
Arah Indonesia Emas tidak akan pernah lahir dari rakyat yang diam, takut, dan dipinggirkan. Islam mengajarkan bahwa diam terhadap kezaliman adalah awal kehancuran kolektif, sementara keberanian moral adalah jalan keselamatan bangsa.
Bangsa ini sedang memilih jalannya sendiri: apakah membangun masa depan di atas kesadaran dan keberanian, atau di atas keheningan yang menipu. Indonesia Emas bukan hadiah, tetapi hasil dari keberanian rakyat menjaga kebenaran.