muslimx.id– Di tengah kebisingan pemerintahan elektoral dan banjir informasi instan, banyak warga terjebak pada sikap emosional: mudah marah, cepat percaya, dan enggan berdialog. Kekuasaan direduksi menjadi pertarungan slogan, bukan pencarian kebenaran. Dalam konteks ini, mandiri belajar politik lewat diskusi publik dan kajian tematik menjadi jalan penting untuk memulihkan nalar kolektif.
Islam sejak awal mengajarkan bahwa kebenaran tidak lahir dari suara paling keras, melainkan dari dialog yang jujur dan berlandaskan ilmu. Tradisi diskusi dan musyawarah bukan hal asing dalam Islam ia adalah fondasi peradaban.
Diskusi Publik sebagai Ruang Syura Modern
Dalam Islam, syura bukan sekadar prosedur formal, tetapi mekanisme kolektif untuk menemukan keputusan terbaik. Allah SWT berfirman:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini menegaskan bahwa urusan publik tidak boleh dimonopoli segelintir pejabat. Rakyat memiliki hak dan tanggung jawab untuk terlibat melalui dialog yang sehat. Dalam konteks kekinian, diskusi publik adalah bentuk syura modern ruang bertemunya gagasan, kritik, dan pertimbangan moral.
Melalui diskusi, rakyat tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar mendengar, menguji argumen, dan memperbaiki cara berpikir. Inilah inti mandiri belajar politik: tumbuh bersama dalam kesadaran, bukan larut dalam fanatisme.
Kajian Tematik: Menghubungkan Agama, Negara, dan Keadilan
Kekuasaan sering dipisahkan secara kaku dari nilai agama, atau sebaliknya agama diperalat untuk kepentingan. Kajian tematik hadir untuk menjembatani hubungan ini secara sehat dan ilmiah.
Tema seperti keadilan sosial, amanah kekuasaan, kemiskinan struktural, atau etika kepemimpinan dalam Islam perlu dibahas secara mendalam, bukan sekadar dikutip ayatnya. Kajian tematik melatih umat untuk: memahami konteks ayat dan hadis, mengaitkan nilai Islam dengan realitas kebijakan, dan menghindari simplifikasi dan politisasi agama.
Dengan cara ini, mandiri belajar politik tidak terjebak pada slogan moral, tetapi menjadi proses pematangan intelektual dan spiritual.
Melatih Nalar, Bukan Emosi
Salah satu penyakit pemerintahan hari ini adalah dominasi emosi atas nalar. Diskusi berubah menjadi debat kusir, dan perbedaan pendapat dianggap ancaman. Padahal Islam memuliakan akal sebagai sarana memahami wahyu dan realitas.
Rasulullah ﷺ sendiri membuka ruang dialog, bahkan dengan mereka yang berbeda pandangan. Perbedaan tidak dimatikan, tetapi dikelola dengan adab.
Diskusi publik dan kajian tematik yang sehat akan: mengurangi kebencian, menumbuhkan sikap kritis namun santun, dan membiasakan argumen berbasis data dan nilai.
Inilah proses penting dalam mandiri belajar politik, agar rakyat tidak mudah digiring oleh provokasi.
Partai X: Politik Sehat Lahir dari Budaya Diskusi
Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, memandang bahwa krisis hari ini bukan semata krisis sistem, melainkan krisis budaya dialog. Menurutnya, masyarakat terlalu lama diposisikan sebagai objek kampanye, bukan subjek diskusi.
Rinto menegaskan bahwa diskusi publik dan kajian tematik adalah sekolah politik rakyat. Di ruang-ruang inilah warga belajar memahami isu, mengasah argumentasi, dan membangun kesadaran kolektif tanpa tekanan elektoral.
Ia juga mengingatkan bahwa tanpa budaya diskusi, pemerintahan akan terus didominasi emosi dan loyalitas sempit. Sebaliknya, mandiri belajar politik melalui dialog akan melahirkan warga yang kritis, dewasa, dan tidak mudah dimanipulasi oleh narasi kekuasaan.
Penutup: Dari Diskusi Menuju Kesadaran Kolektif
Dalam tradisi Islam, ilmu tidak lahir dari keheningan total, tetapi dari perjumpaan gagasan. Para ulama besar tumbuh melalui majelis ilmu, perdebatan, dan diskusi panjang yang beradab.
Karena itu, menghidupkan diskusi publik dan kajian tematik sejatinya adalah menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam. Pemerintahan tidak lagi dipahami sebagai urusan penguasa, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang dipelajari dan diawasi secara kolektif.
Mandiri belajar politik lewat diskusi publik dan kajian tematik adalah investasi jangka panjang bagi peradaban. Ia tidak menghasilkan efek viral seketika, tetapi membangun fondasi nalar yang kokoh.