muslimx.id — Pendidikan politik di kampus tidak hanya diukur dari kelengkapan kurikulum, tetapi dari hidup-matinya ruang diskusi. Kampus yang mengajarkan teori tanpa menyediakan ruang dialog kritis sesungguhnya sedang membangun kesadaran yang timpang. Mahasiswa belajar konsep, tetapi tidak dibiasakan beradu argumen secara jujur dan beradab. Akibatnya, pendidikan politik di kampus kehilangan denyut etikanya.
Dalam Islam, diskusi dan perbedaan pandangan bukan ancaman. Ia adalah bagian dari tradisi keilmuan dan jalan menuju kebenaran. Ketika ruang diskusi kritis menyempit, yang mati bukan sekadar forum intelektual, tetapi juga tradisi amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan akademik.
Diskusi Kritis sebagai Wujud Syura
Islam menempatkan musyawarah (syura) sebagai prinsip dasar dalam mengelola urusan bersama. Al-Qur’an menyebut ciri orang beriman sebagai mereka yang memutuskan perkara dengan musyawarah:
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan yang harus dikelola, bukan dihindari. Pendidikan politik yang menghindari diskusi kritis justru bertentangan dengan semangat syura. Kampus berubah menjadi ruang satu arah, di mana mahasiswa lebih dilatih patuh daripada berpikir.
Di banyak kampus, diskusi sering dipersepsikan sebagai sumber kegaduhan. Atas nama ketertiban, kritik dibatasi, forum diawasi, dan perbedaan pendapat dicurigai. Padahal, dalam Islam, ketertiban yang menyingkirkan kebenaran bukanlah nilai.
Pendidikan politik di kampus yang takut pada kritik akan melahirkan mahasiswa yang canggung menghadapi realitas pemerintahan. Mereka mungkin unggul dalam presentasi kelas, tetapi gagap ketika berhadapan dengan kebijakan publik yang tidak adil. Kritik yang seharusnya disalurkan secara beradab justru dipendam, lalu meledak di ruang-ruang yang tidak sehat.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Tanggung Jawab Sosial
Sering kali amar ma’ruf nahi munkar direduksi menjadi urusan moral personal. Padahal, dalam Islam, ia juga mencakup tanggung jawab sosial dan pemerintahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa diam bukanlah pilihan utama. Pendidikan politik di kampus seharusnya melatih mahasiswa untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan lisan yang beradab dan argumen yang bertanggung jawab. Tanpa ruang diskusi kritis, perintah ini kehilangan wadah sosialnya.
Partai X: Diskusi adalah Inti Pendidikan Politik
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa diskusi kritis merupakan jantung dari literasi pemerintahan. Menurutnya, pendidikan politik di kampus tidak akan hidup jika mahasiswa hanya dijadikan objek pengajaran, bukan subjek dialog. Kampus yang alergi diskusi justru gagal menyiapkan mahasiswa menghadapi kenyataan politik yang penuh perbedaan dan konflik kepentingan.
Prayogi menekankan bahwa diskusi bukan ancaman stabilitas, melainkan sarana pendewasaan. Mahasiswa yang terbiasa berdialog akan lebih mampu menyampaikan kritik tanpa kebencian dan menerima perbedaan tanpa kekerasan. Sebaliknya, kampus yang membungkam diskusi sedang menanam benih ketidakdewasaan kekuasaan.
Penutup: Menghidupkan Kembali Ruh Dialog
Ketika budaya diskusi materi, pendidikan politik di kampus berubah menjadi pengetahuan beku. Mahasiswa terbiasa mengutip teori, tetapi tidak terlatih menguji kebenaran. Dalam jangka panjang, ruang publik akan diisi oleh emosi tanpa argumen dan keberanian tanpa adab.
Islam mengajarkan keseimbangan antara keberanian dan hikmah. Diskusi kritis adalah sarana untuk menjaga keseimbangan itu. Tanpanya, amar ma’ruf nahi munkar kehilangan arah, dan kekuasaan kehilangan etika.
Menghidupkan kembali pendidikan politik di kampus berarti menghidupkan kembali ruh syura dan amar ma’ruf nahi munkar. Diskusi bukan untuk memecah belah, tetapi untuk memurnikan niat dan memperjelas kebenaran.
Kampus yang membuka ruang dialog akan melahirkan mahasiswa yang matang secara nalar dan kuat secara moral. Inilah pendidikan politik di kampus yang sejalan dengan Islam: mendidik keberanian berbicara benar, tanpa kehilangan adab dan tanggung jawab.