Pendidikan Politik di Kampus: Ketika Ilmu Tunduk pada Ketakutan, Bukan pada Tauhid

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.id — Pendidikan politik di kampus sering kali menghadapi hambatan yang tidak tertulis, tetapi kuat pengaruhnya: ketakutan. Mahasiswa memahami bahwa politik penting, tetapi memilih menjaga jarak karena stigma. Terlalu kritis dicurigai, terlalu vokal dianggap bermasalah, dan terlalu peduli dipersepsikan berbahaya. Dalam situasi ini, pendidikan politik di kampus tidak berhenti karena larangan formal, melainkan karena rasa takut yang dipelihara secara kultural.

Ketakutan ini membentuk paradoks. Kampus sebagai ruang ilmu justru melahirkan kehati-hatian berlebihan, sementara realitas sosial di luar kampus dipenuhi persoalan ketidakadilan yang menuntut keberanian bersuara. Akibatnya, mahasiswa terdidik tumbuh dengan kesadaran yang terbelah: tahu, tetapi memilih diam.

Stigma Politik dan Pudarnya Keberanian Moral

Stigma terhadap politik di kampus sering dikaitkan dengan citra negatif: konflik, kekuasaan kotor, dan kepentingan sempit. Alih-alih diajak memahami politik sebagai urusan kemaslahatan publik, mahasiswa didorong untuk menjauh demi “keamanan akademik”. Pendidikan politik di kampus pun kehilangan fungsinya sebagai pembentuk keberanian moral.

Dalam Islam, sikap ini patut dipertanyakan. Takut adalah fitrah manusia, tetapi ketika rasa takut diarahkan pada selain Allah hingga membungkam kebenaran, di situlah masalah bermula. Al-Qur’an mengingatkan agar orang beriman tidak tunduk pada ketakutan yang melumpuhkan:

“Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)

Ayat ini menegaskan bahwa keberanian moral lahir dari tauhid. Pendidikan politik di kampus yang membiarkan stigma tumbuh tanpa koreksi sejatinya sedang melemahkan fondasi keberanian itu.

Diam Bukan Netral

Dalam praktiknya, ketakutan sering dibungkus dengan istilah netralitas. Mahasiswa memilih diam agar dianggap objektif. Namun dalam Islam, diam terhadap kezaliman bukan sikap netral. Ia adalah keberpihakan pasif yang membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa koreksi.

Pendidikan politik di kampus seharusnya membantu mahasiswa membedakan antara adab dan ketakutan, antara kehati-hatian dan pembungkaman diri. Tanpa pembedaan ini, kampus justru melahirkan generasi yang terampil menyesuaikan diri, tetapi miskin keberanian iman.

Tauhid sebagai Sumber Keberanian

Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi fondasi etika sosial. Orang yang bertauhid memahami bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh tekanan mayoritas atau ancaman stigma. Keberanian menyampaikan yang benar, dengan adab dan tanggung jawab, adalah bagian dari kesaksian iman.

Pendidikan politik di kampus yang berakar pada tauhid akan melatih mahasiswa bersikap kritis tanpa kebencian, berani tanpa keangkuhan. Politik tidak dipandang sebagai arena perebutan kuasa, melainkan sebagai ruang amanah yang harus dijaga dari penyimpangan.

Partai X: Ketakutan Melemahkan Demokrasi

Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa ketakutan di kalangan mahasiswa adalah persoalan serius bagi masa depan demokrasi. Menurutnya, demokrasi tidak hanya membutuhkan prosedur, tetapi juga warga yang berani berpikir dan bersuara.

Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat paling aman untuk belajar berbeda pendapat. Ketika mahasiswa takut berdiskusi dan menyampaikan kritik, ruang publik di luar kampus justru akan diisi oleh narasi dangkal dan manipulatif. Dalam pandangannya, ketakutan bukan menjaga stabilitas, melainkan melemahkan kualitas demokrasi dan nalar publik.

Pandangan ini sejalan dengan etika Islam yang menempatkan keberanian menyampaikan kebenaran sebagai tanggung jawab moral, bukan pilihan opsional.

Penutup: Membebaskan Ilmu dari Ketakutan

Ketakutan yang dipelihara di kampus akan terbawa hingga mahasiswa memasuki masyarakat. Mereka mungkin menjadi profesional yang kompeten, tetapi enggan bersikap ketika melihat ketidakadilan. Pendidikan politik di kampus yang gagal mengatasi stigma ini berkontribusi pada lahirnya masyarakat yang apatis dan mudah dimanipulasi.

Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi penakut dalam urusan kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jihad terbaik adalah menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim. Pesan ini menegaskan bahwa keberanian moral adalah puncak kesalehan sosial.

Membebaskan pendidikan politik di kampus dari stigma dan ketakutan berarti mengembalikan ilmu pada ruh tauhid. Kampus tidak perlu menjadi arena kekuasaan praktis, tetapi harus menjadi ruang aman bagi keberanian berpikir dan bersuara.

Ketika mahasiswa berani karena iman, bukan karena dorongan emosi, pendidikan politik di kampus akan melahirkan warga yang dewasa, beradab, dan bertanggung jawab. Inilah tujuan hakiki pendidikan politik dalam perspektif Islam: menjadikan ilmu tegak di atas tauhid, bukan tunduk pada ketakutan. 

Share This Article