muslimx.id – Salah satu dampak paling serius dari fenomena negara yang dijalankan berdasarkan popularitas kejahatan politik adalah lahirnya krisis kepemimpinan berbasis amanah. Ketika keputusan negara ditentukan oleh tekanan opini publik yang viral, ukuran utama kepemimpinan bergeser: bukan lagi keberanian moral dan tanggung jawab di hadapan Allah, melainkan kemampuan meredam kemarahan warganet.
Dalam kondisi ini, pemimpin lebih takut kehilangan popularitas kejahatan politik dibanding kehilangan amanah. Negara pun dikelola dengan kecemasan, bukan dengan keteguhan nilai.
Takut Opini, Bukan Takut Allah
Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah berat. Kekuasaan bukan privilese, melainkan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun dalam negara yang dijalankan berdasarkan popularitas kejahatan politik, orientasi pertanggungjawaban bergeser. Pemimpin lebih sibuk menanggapi tekanan opini publik daripada menunaikan tuntutan keadilan. Ketakutan terbesar bukan murka Allah, melainkan badai viral yang mengancam citranya.
Akibatnya, kebijakan tidak lagi disaring melalui pertanyaan etik apakah ini adil, apakah ini benar melainkan melalui pertanyaan pragmatis: apakah ini aman secara citra?
Kepemimpinan yang Kehilangan Keberanian Moral
Pemimpin yang tunduk pada trending topic cenderung menghindari keputusan sulit. Padahal, kepemimpinan sejati justru diuji saat harus mengambil keputusan tidak populer demi kebaikan jangka panjang.
Dalam Islam, keberanian moral adalah ciri pemimpin amanah. Umar bin Khattab RA dikenal tidak segan mengambil kebijakan yang keras tetapi adil, sekalipun menghadapi protes. Ia tidak memerintah berdasarkan suasana hati massa, tetapi berdasarkan nilai.
Sebaliknya, dalam negara yang dijalankan berdasarkan popularitas kejahatan politik, lahirlah pemimpin yang reaktif. Negara tidak lagi dipimpin dengan visi dan amanah, melainkan dikendalikan oleh fluktuasi emosi publik yang viral.
Partai X: Amanah Tidak Bisa Dikalahkan oleh Popularitas
Rinto Setiyawan, Anggota Majelis Tinggi Partai X, menilai bahwa krisis terbesar dalam negara yang dikendalikan trending topic adalah hilangnya keberanian amanah dalam kepemimpinan.
“Ketika pemimpin lebih takut pada opini publik daripada pada tanggung jawab moralnya, di situlah amanah runtuh,” tegas Rinto.
Menurutnya, opini publik penting untuk didengar, tetapi tidak boleh menjadi sumber ketakutan. Pemimpin yang amanah justru harus mampu berdiri di hadapan publik dengan argumen, bukan bersembunyi di balik keputusan populis.
Rinto juga mengingatkan bahwa popularitas adalah ukuran yang rapuh. Ia berubah cepat, sementara dampak kebijakan bersifat jangka panjang.
“Negara tidak bisa dipimpin dengan logika viral. Amanah menuntut keteguhan, bukan sekadar ketenangan sementara,” ujarnya.
Amanah sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam
Islam mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang takut kepada Allah, bukan kepada sorak-sorai manusia. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Takwa inilah yang seharusnya menjadi kompas setiap kepemimpinan. Tanpa takwa, kekuasaan mudah tergelincir menjadi sekadar manajemen citra. Dalam negara yang dijalankan berdasarkan popularitas politik, pemimpin yang kehilangan takwa akan mudah tergoda memilih langkah aman secara kekuasaan, meski keliru secara moral.
Kepemimpinan berbasis amanah menuntut kesediaan menanggung risiko demi menjaga keadilan. Ia menuntut pemimpin yang berani tidak populer demi benar.
Penutup: Mengembalikan Kepemimpinan Berbasis Amanah
Negara yang dijalankan berdasarkan kekuasaan bukan hanya krisis kebijakan, tetapi krisis kepemimpinan. Ketika pemimpin takut opini, bukan takut Allah, negara kehilangan arah moralnya.
Kepemimpinan tidak boleh dikendalikan oleh ketakutan terhadap viral. Negara membutuhkan pemimpin yang berani memikul amanah, bukan sekadar mengelola citra.
Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah ujian, bukan panggung. Ketika amanah dikembalikan sebagai fondasi kepemimpinan, negara akan kembali dipimpin dengan nilai, bukan dengan trending topik.