muslimx.id — Cinta kepada negara dalam Islam bukanlah cinta yang membutakan, tetapi cinta yang menjaga. Negara tidak dicintai dengan cara dibenarkan ketika salah, melainkan digerakkan ketika menyimpang. Negara tidak dimuliakan dengan pembungkaman kritik, tetapi dengan keberanian menegakkan keadilan. Inilah makna cinta negara berbasis amanah.
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan bernegara bukanlah siapa yang sedang berkuasa, melainkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Di sinilah Islam meletakkan satu prinsip besar yang sering dilupakan: amanah.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan, hukum, dan kebijakan publik adalah amanah, bukan hak mutlak yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Cinta Negara dan Tanggung Jawab Keadilan
Islam menempatkan keadilan sebagai inti kehidupan sosial dan pemerintahan. Negara bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat. Karena itu, mencintai negara berarti menjaga agar negara tidak keluar dari jalur keadilan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini bukan sekadar nasihat moral individual, tetapi prinsip dasar dalam mengelola kehidupan bersama. Kekuasaan yang adil adalah amanah. Kekuasaan yang melukai keadilan, meskipun sah secara prosedur, tetap bermasalah di hadapan Allah.
Maka cinta negara berbasis amanah menolak logika “demi negara, apa pun boleh”. Justru atas nama negara, kekuasaan harus dibatasi dan diarahkan.
Bahaya Mengorbankan Keadilan demi Stabilitas
Sering kali ketidakadilan dipertahankan atas nama stabilitas. Kebijakan yang menyulitkan rakyat dibiarkan karena dianggap menjaga ketenangan. Kritik dianggap ancaman. Persoalan ditutup rapat demi citra.
Padahal Islam tidak mengenal stabilitas yang dibangun di atas pengorbanan keadilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika orang terpandang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi jika orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa negara runtuh bukan karena kritik, tetapi karena keadilan yang tebang pilih. Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, di situlah kehancuran perlahan dimulai.
Cinta Negara sebagai Ibadah Sosial
Dalam Islam, menjaga keadilan publik adalah bagian dari ibadah sosial. Membela yang lemah, mengingatkan yang berkuasa, dan menolak kezaliman adalah bentuk pengabdian kepada Allah dalam ruang kenegaraan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.” (HR. Thabrani)
Hadits ini menunjukkan bahwa cinta negara tidak diwujudkan dengan diam, tetapi dengan keberanian moral. Rakyat bukan sekadar penonton, melainkan penjaga arah. Negara bukan milik segelintir orang, melainkan amanah bersama.
Penutup: Doa dan Harapan
Cinta negara berbasis amanah bukan cinta yang menuntut rakyat selalu patuh, tetapi cinta yang menuntut negara selalu adil. Ia menuntut kekuasaan tunduk pada nilai, hukum berdiri di atas semua golongan, dan masa depan dipikirkan dengan jujur.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa seluruh kaum Muslimin. Tanamkan dalam hati kami kecintaan kepada negeri ini yang dilandasi iman, kejujuran, dan amanah.
Ya Allah, jadikan para pemimpin kami pemimpin yang adil, takut kepada-Mu, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan. Jauhkan negeri ini dari kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan amanah.
Ya Allah, bimbinglah kami semua agar mampu menjaga negara ini dengan keadilan dan kebenaran, dan anugerahkan kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن