muslimx.id — Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa ini merayakan kemerdekaan dengan upacara, bendera, dan pidato penuh semangat. Namun sebuah pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka? Ataukah kita hanya merdeka secara formal, sementara jiwa dan cara berpikir bangsa masih terjajah?
Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada lepasnya rantai penjajahan fisik. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia bebas dari rasa takut selain kepada Allah, bebas dari ketundukan pada kezaliman, dan bebas dari mentalitas tunduk kepada kekuasaan yang menyimpang. Tanpa itu, kemerdekaan hanya menjadi simbol, bukan kenyataan.
Merdeka Secara Kekuasaan, Terjajah Secara Mental
Indonesia memang telah merdeka dari kolonialisme asing. Namun dalam praktik bernegara, muncul bentuk penjajahan baru yang lebih halus: penjajahan mental. Rakyat diajarkan patuh, bukan kritis. Kritik dicurigai, bukan dihargai. Kekuasaan dilindungi atas nama stabilitas, sementara keadilan seringkali dikesampingkan.
Ketika rakyat takut bersuara, ketika ketidakadilan diterima sebagai kewajaran, di situlah kemerdekaan kehilangan maknanya. Negara berdiri, tetapi jiwa merdeka tidak tumbuh.
Islam sejak awal memerangi segala bentuk perbudakan baik fisik maupun mental. Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)
Ayat ini menegaskan bahwa rasa takut yang salah adalah akar dari penindasan. Bangsa yang takut pada kekuasaan zalim tidak akan pernah benar-benar merdeka.
Nasionalisme Tanpa Nurani
Dalam banyak kasus, nasionalisme direduksi menjadi ritual simbolik: mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan membela pemerintah apapun kebijakannya. Padahal, mencintai negara tidak identik dengan membenarkan kekuasaan.
Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai pilar kehidupan sosial. Membiarkan ketidakadilan atas nama nasionalisme justru merupakan pengkhianatan terhadap nilai kebangsaan itu sendiri. Negara tidak butuh rakyat yang diam, tetapi rakyat yang berani menjaga arah moral bangsa.
Partai X: Kemerdekaan Tanpa Kesadaran Adalah Ilusi
Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa kemerdekaan Indonesia masih menyisakan persoalan mendasar pada aspek kesadaran politik dan moral bangsa. Menurutnya, bangsa ini terlalu cepat puas dengan kemerdekaan formal, tetapi lalai membangun kemerdekaan substantif.
“Banyak bangsa merdeka secara hukum, tapi tidak merdeka secara cara berpikir. Ketika rakyat takut mengkritik, takut berbeda, dan takut melawan ketidakadilan, itu tanda penjajahan mental masih bekerja,” ujar Erick.
Ia menegaskan bahwa kemerdekaan sejati justru diuji ketika negara berani dikoreksi oleh rakyatnya sendiri. Negara yang alergi kritik, menurutnya, sedang menunjukkan ketidakdewasaan dalam memahami kemerdekaan.
Islam dan Kemerdekaan Jiwa Bangsa
Dalam Islam, kemerdekaan adalah kondisi spiritual dan sosial. Rasulullah ﷺ membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Maka negara yang membungkam suara kebenaran sejatinya sedang menjauh dari spirit kemerdekaan Islam.
Kemerdekaan tanpa keadilan adalah kosong. Kemerdekaan tanpa keberanian moral adalah rapuh. Dan kemerdekaan tanpa amanah hanya akan melahirkan penguasa baru dengan wajah lama.
Penutup: Kemerdekaan sebagai Amanah, Bukan Warisan Mati
Pertanyaan apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka bukanlah bentuk pesimisme, melainkan bentuk cinta yang jujur. Bangsa yang berani mengkritik dirinya sendiri adalah bangsa yang ingin tumbuh, bukan bangsa yang ingin meruntuhkan diri.
Kemerdekaan harus terus diperjuangkan, bukan hanya diperingati. Ia adalah amanah yang harus dijaga dengan keberanian moral, kesadaran kritis, dan keberpihakan pada keadilan.
Jika kemerdekaan hanya berhenti pada seremoni, ia akan membusuk. Tetapi jika kemerdekaan dirawat dengan etika, iman, dan keberanian menegur kekuasaan, di situlah Indonesia benar-benar layak disebut merdeka lahir dan batin.