Belajar Politik Itu Wajib: Dari Tauhid Menuju Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Dalam Islam, tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan tentang keesaan Allah. Tauhid adalah cara pandang yang membentuk keberanian moral, termasuk keberanian menghadapi kekuasaan yang menyimpang. Karena itu, belajar politik itu wajib bagi mahasiswa Muslim, sebab tanpa kesadaran politik, tauhid berisiko menjadi keyakinan yang terputus dari realitas sosial.

Banyak mahasiswa merasa cukup menjaga kesalehan pribadi dan memilih menjauh dari urusan publik. Politik dianggap kotor, penuh konflik, dan rawan dosa. Namun pandangan ini justru bertentangan dengan semangat tauhid yang membebaskan manusia dari rasa takut kepada selain Allah.

Tauhid dan Keberanian Menghadapi Kekuasaan

Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak ditakuti dan ditaati secara mutlak. Ketika seorang Muslim takut bersuara karena khawatir stigma, tekanan sosial, atau ancaman kekuasaan, di situlah tauhid kehilangan daya sosialnya.

Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175)

Ayat ini menegaskan bahwa iman seharusnya melahirkan keberanian etis. Dalam konteks negara modern, keberanian itu dimulai dari kesadaran: memahami bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana dampaknya terhadap rakyat. Itulah mengapa belajar politik itu wajib, bukan sekadar dianjurkan.

Apatisme sebagai Masalah Tauhid Sosial

Apatisme sering dipandang sebagai pilihan pribadi. Namun dalam perspektif Islam, apatisme terhadap ketidakadilan sosial adalah masalah kolektif. Diam bukan selalu tanda kehati-hatian, melainkan bisa menjadi bentuk pembiaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani)

Hadits ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap urusan publik adalah bagian dari identitas keimanan. Mahasiswa, dengan kapasitas intelektualnya, memiliki tanggung jawab lebih besar untuk peduli dan memahami persoalan umat dan bangsa.

Partai X: Ketakutan Sosial Melahirkan Generasi Pasif

Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda hari ini adalah ketakutan sosial yang disamarkan sebagai sikap moderat. Menurutnya, banyak mahasiswa memahami ada ketidakadilan, tetapi memilih diam karena takut dicap politis atau berseberangan.

“Ketika mahasiswa takut belajar politik, yang hilang bukan hanya suara kritis, tetapi keberanian iman dalam ruang publik,” ujar Erick.

Ia menegaskan bahwa belajar politik itu wajib justru agar mahasiswa tidak mudah dikendalikan oleh opini atau tekanan kekuasaan. Dengan memahami politik, mahasiswa bisa bersikap rasional, kritis, dan berjarak dari fanatisme.

“Tauhid membebaskan manusia dari ketundukan pada sesama manusia. Kalau takut pada kekuasaan lebih besar daripada takut pada Allah, itu persoalan iman sosial,” tegasnya.

Menurut Erick, mahasiswa yang memahami politik dengan kerangka nilai Islam akan lebih tahan terhadap manipulasi. Mereka tidak mudah ditarik ke ekstremisme, tetapi juga tidak tenggelam dalam apatisme.

Penutup: Tauhid yang Hidup di Ruang Publik

Belajar politik bukan berarti ikut berebut kekuasaan. Ia adalah latihan kejujuran iman: berani mengakui ketidakadilan, berani bertanya, dan berani berpihak pada nilai. Dalam proses ini, mahasiswa belajar bahwa iman tidak selalu nyaman, tetapi selalu menuntut tanggung jawab.

Islam tidak memerintahkan umatnya menjadi penonton sejarah. Ia memanggil umatnya untuk menjadi saksi kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak populer.

Belajar politik itu wajib karena tauhid yang hidup akan selalu mencari wujud sosialnya. Mahasiswa Muslim tidak cukup menghindari dosa pribadi, tetapi juga harus peka terhadap dosa struktural yang lahir dari kebijakan dan kekuasaan.

Generasi yang beriman adalah generasi yang berani hadir dalam persoalan zamannya. Ketika mahasiswa memahami politik dengan kerangka tauhid, mereka tidak akan menjadi alat kekuasaan, tetapi penjaga nurani publik.

Di situlah tauhid menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam keberanian menjaga keadilan di ruang publik.

Share This Article