muslimx.id — Di tengah kompleksitas persoalan bangsa hari ini, sikap apatis terhadap politik sering dibungkus dengan dalih kesalehan pribadi. Politik dianggap kotor, penuh intrik, dan tidak layak disentuh oleh mahasiswa Muslim. Padahal, dalam perspektif Islam, sikap menjauh dari urusan publik justru berpotensi menjadi pengkhianatan amanah keilmuan. Karena itu, belajar politik itu wajib, bukan sebagai pilihan ideologis, melainkan sebagai konsekuensi iman dan ilmu.
Islam tidak pernah memisahkan ilmu dari tanggung jawab sosial. Setiap pengetahuan yang dimiliki seorang Muslim mengandung amanah untuk menjaga kemaslahatan umat. Mahasiswa, sebagai kelompok terdidik, memikul tanggung jawab moral yang lebih besar untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana kebijakan dibuat, dan bagaimana keadilan ditegakkan atau dilanggar.
Ilmu dalam Islam Tidak Pernah Netral
Dalam Islam, ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana untuk menegakkan kebenaran. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah tujuan utama pengelolaan urusan publik. Politik sebagai mekanisme pengambilan keputusan kolektif tidak mungkin dilepaskan dari perintah ini. Karena itu, belajar politik itu wajib agar mahasiswa tidak menjadi penonton pasif ketika amanah keadilan dipertaruhkan.
Ilmu yang tidak digunakan untuk membaca ketidakadilan sosial berisiko menjadi ilmu yang mandul. Kesalehan yang hanya berhenti pada ritual, tetapi menutup mata terhadap penderitaan publik, bukanlah kesalehan yang diajarkan Islam.
Mahasiswa sebagai Pemikul Amanah Zaman
Dalam sejarah Islam, kelompok terpelajar selalu berada di garis depan perubahan. Para ulama, cendekiawan, dan pemuda memainkan peran penting dalam mengoreksi kekuasaan dan menjaga nilai. Mahasiswa hari ini mewarisi peran tersebut dalam konteks yang berbeda, tetapi dengan tanggung jawab yang sama.
Apatisme politik di kalangan mahasiswa bukanlah sikap netral. Ia adalah pilihan yang berdampak. Ketika mahasiswa memilih tidak peduli, ruang publik dibiarkan dikuasai oleh kepentingan sempit dan logika kekuasaan tanpa pengawasan moral.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa pembiaran adalah bentuk kegagalan moral. Dalam konteks negara modern, belajar politik adalah langkah awal agar mahasiswa mampu mengenali kemungkaran struktural sebelum berupaya mengoreksinya.
Partai X: Apatisme Mahasiswa Adalah Kemewahan Moral
Erick Karya, Ketua Umum Partai X, menilai bahwa sikap apatis di kalangan mahasiswa sering kali lahir dari kesalahpahaman tentang politik. Menurutnya, menjauh dari politik bukan tanda kesucian, melainkan kemewahan moral yang dibayar mahal oleh rakyat kecil.
“Mahasiswa yang memilih tidak belajar politik sebenarnya sedang menyerahkan masa depan negara kepada mereka yang paling siap memanipulasi kekuasaan,” ujar Erick.
Ia menegaskan bahwa belajar politik itu wajib justru agar mahasiswa tidak terseret menjadi alat kekuasaan. Dengan memahami politik, mahasiswa bisa menjaga jarak kritis, membedakan negara dan pemerintah, serta menilai kebijakan secara rasional dan etis.
“Kalau yang berilmu memilih diam, yang tidak peduli pada keadilan akan mengisi ruang itu. Dan saat itulah negara kehilangan arah moralnya,” tegasnya.
Bagi Erick, mahasiswa bukan calon politisi semata, tetapi calon penjaga nurani publik. Tanpa kesadaran politik, peran itu mustahil dijalankan.
Penutup: Dari Kesalehan Pribadi ke Kesalehan Sosial
Dalam Islam, menjaga kemaslahatan umum adalah bagian dari ibadah. Belajar politik, dalam kerangka ini, bukan aktivitas duniawi yang terpisah dari iman, tetapi bentuk ibadah sosial yang menuntut kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.
Belajar politik tidak berarti terjun ke kekuasaan praktis. Ia berarti memahami struktur kekuasaan, membaca dampak kebijakan, dan menyiapkan diri untuk bersuara ketika keadilan terancam. Inilah makna belajar politik itu wajib bagi mahasiswa Muslim.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi saleh sendirian. Kesalehan sejati selalu berdimensi sosial. Mahasiswa yang beriman tidak cukup rajin beribadah, tetapi juga harus peka terhadap arah negara dan nasib masyarakat.
Di titik inilah belajar politik itu wajib menemukan maknanya yang paling dalam: sebagai amanah keilmuan, tanggung jawab iman, dan jalan menjaga keadilan bagi umat dan bangsa.