muslimx.id — Gerakan mahasiswa cerdas tidak hanya diukur dari keberanian bersuara, tetapi juga dari kualitas adab dalam menyampaikan sikap. Dalam perspektif Islam, aktivisme bukan sekadar tindakan sosial, melainkan bagian dari akhlak publik. Cara menyampaikan kritik, metode perjuangan, dan sikap terhadap perbedaan menentukan nilai moral sebuah gerakan.
Di era digital, banyak gerakan lahir dari kemarahan kolektif yang cepat menyebar. Namun tidak semua kemarahan menghasilkan perubahan yang benar. Islam membedakan dengan tegas antara keberanian yang dibimbing hikmah dan ledakan emosi yang merusak.
Al-Qur’an menegaskan prinsip dakwah sosial:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini bukan hanya pedoman dakwah keagamaan, tetapi juga etika gerakan sosial dan intelektual.
Adab sebagai Fondasi Aktivisme
Gerakan mahasiswa cerdas dan beradab menempatkan etika sebagai fondasi. Kritik boleh keras, tetapi tidak kasar. Perlawanan boleh tegas, tetapi tidak merendahkan martabat manusia. Islam melarang perjuangan yang menghalalkan penghinaan, fitnah, dan manipulasi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Hadist ini memberi pesan penting: kualitas akhlak tetap menjadi ukuran, bahkan dalam konflik dan perbedaan pendapat. Aktivisme tanpa adab akan kehilangan legitimasi moralnya.
Gerakan yang beradab juga menjaga bahasa. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara melukai. Ketepatan kata adalah bagian dari kecerdasan gerakan.
Kritik Tegas Tanpa Kebencian
Gerakan mahasiswa cerdas tidak berarti lembek. Islam tidak melarang kritik keras terhadap ketidakadilan. Namun Islam melarang kebencian membutakan keadilan. Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini relevan dalam aktivisme bahkan terhadap pihak yang dianggap salah, standar keadilan tidak boleh diturunkan. Data harus tetap jujur. Tuduhan harus berbasis bukti. Narasi tidak boleh dilebihkan demi efek dramatis.
Gerakan yang menjaga objektivitas justru lebih kuat dan tahan uji.
Strategi Lebih Penting dari Sensasi
Banyak gerakan gagal bukan karena niatnya buruk, tetapi karena strateginya lemah. Terlalu fokus pada sensasi, kurang pada dampak. Terlalu mengejar viral, kurang membangun perubahan struktural.
Dalam tradisi Islam, hikmah selalu mengandung unsur ketepatan strategi. Rasulullah ﷺ dalam banyak peristiwa memilih pendekatan bertahap, dialogis, dan terukur, bukan reaktif. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan strategi adalah bagian dari akhlak perjuangan.
Gerakan mahasiswa cerdas seharusnya kuat di kajian, naskah posisi, rekomendasi kebijakan, dan pendidikan publik bukan hanya aksi simbolik.
Partai X: Masa Depan Gerakan Mahasiswa
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa masa depan gerakan mahasiswa ditentukan oleh kemampuannya menjaga adab sekaligus ketajaman analisis.
Menurutnya, gerakan yang emosional mudah mendapat perhatian, tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan kebijakan.
“Gerakan mahasiswa cerdas harus memadukan keberanian dan etika. Jika adab hilang, pesan ikut rusak. Dalam perspektif nilai Islam, cara memperjuangkan kebenaran sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri,” jelas Prayogi.
Ia menambahkan bahwa kekuatan moral gerakan justru lahir ketika publik melihat integritas, kedewasaan, dan tanggung jawab dalam setiap langkahnya.
Penutup: Aktivisme sebagai Cermin Akhlak Publik
Gerakan mahasiswa cerdas dan beradab adalah cermin dari kualitas moral generasi terdidik. Ia menunjukkan bahwa perjuangan tidak harus brutal untuk menjadi kuat. Ketegasan bisa berjalan bersama kesantunan. Kritik bisa berdiri tanpa caci maki.
Dalam perspektif Islam, adab bukan penghalang perubahan justru penjaganya. Tanpa adab, gerakan mudah berubah menjadi permusuhan. Dengan adab, gerakan menjadi jalan perbaikan.
Karena itu, aktivisme kampus perlu dibangun di atas tiga pilar: ilmu yang kuat, niat yang lurus, dan adab yang kokoh. Dari sinilah gerakan tidak hanya mengubah kebijakan, tetapi juga memuliakan peradaban.
Gerakan yang cerdas akan didengar. Gerakan yang beradab akan dipercaya. Dan gerakan yang keduanya akan meninggalkan jejak perubahan yang bermakna.