Menilai Kebijakan Pemerintah Secara Ilmiah: Peran Riset dan Aktivisme Mahasiswa

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id— Dalam tradisi perubahan sosial, mahasiswa sering disebut agen kontrol dan agen perbaikan. Namun dalam perspektif Islam, peran itu tidak cukup ditopang semangat dan keberanian saja. Menilai kebijakan pemerintah menuntut pendekatan ilmiah: riset, data, dan analisis yang jernih. Tanpa itu, aktivisme mudah berubah menjadi reaksi bukan evaluasi.

Islam menempatkan ilmu sebagai dasar tindakan. Bahkan niat baik tidak cukup jika tidak ditopang pemahaman yang benar. Karena itu, kritik terhadap kebijakan publik harus melalui proses intelektual yang dapat diuji, bukan sekadar slogan atau tekanan massa.

Allah berfirman:

“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menjadi fondasi bahwa kualitas penilaian sangat ditentukan oleh kualitas pengetahuan.

Aktivisme Berbasis Riset

Menilai kebijakan pemerintah secara ilmiah berarti membaca naskah kebijakan, memeriksa latar belakangnya, memahami indikator keberhasilan, dan mengkaji dampaknya di lapangan. Ini adalah kerja riset bukan sekadar kerja opini.

Aktivisme mahasiswa berbasis riset biasanya memiliki ciri: mengutip data primer dan sekunder, membandingkan regulasi dan praktik, menyusun argumen berbasis bukti, menawarkan alternatif solusi. Model ini lebih berat, tetapi lebih kuat. Kritik berbasis riset tidak mudah dipatahkan, karena berdiri di atas fakta.

Dalam metodologi Islam, tradisi ini sejalan dengan konsep tabayyun (verifikasi) dan tatsabbut (ketelitian). Para ulama hadis meneliti perawi satu per satu sebelum menerima satu riwayat. Itu adalah standar riset klasik dalam peradaban Islam.

Menariknya, standar ketelitian itu justru lebih ketat daripada banyak debat publik hari ini.

Dari Moral Protes ke Ilmu Evaluasi

Islam mengakui pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, termasuk dalam urusan kebijakan publik. Namun amar ma’ruf tidak identik dengan protes keras. Ia mencakup nasihat berbasis ilmu dan evaluasi berbasis bukti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya…” (HR. Muslim)

Mengubah dengan lisan dalam konteks kebijakan modern berarti menyampaikan kritik yang argumentatif dan terukur bukan sekadar retoris.

Protes tanpa data sering berumur pendek. Evaluasi berbasis ilmu berumur panjang dan berdampak sistemik.

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki keunggulan metodologis: akses jurnal, data statistik, kajian akademik, dan perangkat analisis. Jika ini tidak dipakai, maka keunggulan moral gerakan menjadi setengah.

Etika Intelektual dalam Kritik

Menilai kebijakan pemerintah juga menuntut adab intelektual: tidak memotong data, tidak mengutip di luar konteks, tidak menyembunyikan temuan yang tidak sesuai narasi, tidak membesar-besarkan angka.

Al-Qur’an mengecam manipulasi keterangan dan distorsi fakta. Kejujuran ilmiah adalah bagian dari amanah.

Kritik yang salah data bukan hanya lemah tetapi bisa menyesatkan publik. Dalam Islam, menyesatkan opini umum termasuk dosa sosial.

Karena itu, integritas riset adalah bagian dari akhlak.

Partai X: Kebijakan Pemerintah

Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa peran mahasiswa dalam menilai kebijakan pemerintah akan efektif jika ditopang disiplin riset.

“Gerakan mahasiswa paling kuat dalam sejarah selalu berbasis kajian, bukan sekadar mobilisasi. Data membuat kritik punya bobot dan arah,” ujarnya.

Menurut Erick, pembuat kebijakan justru lebih responsif terhadap kritik yang terukur.

“Kalau argumennya jelas, datanya kuat, dan dampaknya terpetakan, itu tidak bisa diabaikan. Pemerintah bisa berbeda pendapat, tapi tidak bisa menganggapnya kosong,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa emosi tanpa metodologi mudah dimanfaatkan kepentingan lain. Aktivisme berbasis riset melindungi gerakan dari manipulasi.

Penutup: Ilmu adalah Tenaga Penggerak Perubahan

Menilai kebijakan pemerintah secara ilmiah adalah bentuk jihad intelektual. Ia membutuhkan kerja membaca, meneliti, membandingkan, dan menyimpulkan dengan jujur.

Semangat menggerakkan langkah tetapi ilmu menentukan arah. Tanpa riset, kritik mudah salah sasaran. Dengan data, kritik menjadi peta perbaikan.

Dalam perspektif Islam, perubahan paling kuat bukan yang paling keras suaranya tetapi yang paling kokoh dasar ilmunya.

Share This Article