muslimx.id — Banyak orang berharap hadirnya pemimpin yang adil, bersih, dan berpihak kepada rakyat. Namun sering dilupakan satu hal mendasar: kualitas pemimpin sangat dipengaruhi oleh kualitas pemilihnya. Negara yang baik tidak hanya lahir dari calon yang baik, tetapi dari proses pilihan yang benar. Karena itu, memahami cara memilih pemimpin dengan benar adalah fondasi utama kualitas negara.
Dalam Islam, tanggung jawab sosial tidak berhenti pada mengkritik hasil tetapi dimulai dari memperbaiki proses. Memilih adalah bagian dari proses itu.
Negara Adalah Cermin Pilihan Rakyat
Dalam banyak kajian sosial-pemerintahan, kualitas kebijakan berbanding lurus dengan kualitas kesadaran pemilih. Jika mayoritas pemilih rasional, pemimpin terdorong rasional. Jika mayoritas pemilih transaksional, kekuasaan ikut menjadi transaksional.
Al-Qur’an memberi isyarat bahwa perubahan sosial berkaitan dengan perubahan kualitas manusia:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini relevan dalam konteks pilihan. Cara memilih pemimpin dengan benar adalah bagian dari ikhtiar mengubah keadaan kolektif.
Memilih adalah Tanggung Jawab, Bukan Formalitas
Sebagian orang memilih sekedar menggugurkan kewajiban administratif. Datang, mencoblos, selesai. Padahal dampak satu pilihan bisa menentukan arah kebijakan bertahun-tahun.
Dalam Islam, setiap keputusan yang berdampak luas masuk wilayah tanggung jawab moral. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemilih adalah “pemimpin keputusan” di bilik suara. Ia menentukan siapa yang akan memimpin urusan publik. Maka cara memilih pemimpin dengan benar tidak boleh diperlakukan sebagai rutinitas kosong.
Ia harus disertai niat, ilmu, dan pertimbangan.
Tiga Pilar Pemilih Berkualitas
Agar pilihan melahirkan dampak baik, pemilih perlu membangun tiga pilar utama: Literasi, memahami isu, program, dan rekam jejak. Integritas, tidak menjual suara dan tidak ikut manipulasi. Keberanian moral, memilih yang layak meski tidak populer di lingkungan sendiri
Islam memuji orang yang menggunakan akal sehat dalam menentukan sikap:
“…yang menggunakan akal mereka.” (QS. Ali Imran: 190)
Cara memilih pemimpin dengan benar adalah praktik penggunaan akal dalam ruang publik.
Efek Berantai Pilihan yang Benar
Satu pilihan benar mungkin terlihat kecil, tetapi ia memiliki efek berantai: menaikkan standar calon, menekan praktik transaksional, memperkuat pemerintahan program, memperbaiki kualitas debat publik.
Sebaliknya, pilihan yang sembrono juga memiliki efek berantai kerusakan. Karena itu, Islam sangat ketat dalam urusan kesaksian dan amanah publik.
Suara adalah kesaksian kelayakan. Dan kesaksian tidak boleh asal.
Partai X: Cara Memilih Pemimpin dengan Benar
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa perbaikan negara harus dimulai dari pendidikan kualitas pemilih, bukan hanya rekrutmen calon.
“Orang sering fokus memperbaiki kandidat, tetapi lupa memperbaiki cara memilih. Padahal pasar politik mengikuti perilaku pemilih,” ujarnya.
Menurutnya, cara memilih pemimpin dengan benar adalah bentuk kontrol rakyat yang paling awal dan paling kuat.
Kalau pemilih disiplin berbasis data dan integritas, pejabat akan menyesuaikan. Tapi kalau pemilih permisif, elite juga longgar. Literasi pemilih adalah investasi peradaban, bukan sekadar kebutuhan pemilu.
Penutup: Dari Bilik Suara ke Pertanggungjawaban Akhirat
Memilih pemimpin bukan hanya peristiwa pemilihan tetapi peristiwa moral. Ia akan tercatat sebagai pilihan sadar yang berdampak pada kehidupan banyak orang. Dalam Islam, dampak sosial memperbesar bobot pertanggungjawaban.
Cara memilih pemimpin dengan benar berarti: memilih dengan ilmu, menjaga amanah suara, menolak transaksi, mendahulukan keadilan
Negara yang kuat tidak dimulai dari istana tetapi dari bilik suara yang jujur. Dan pilihan yang jujur hari ini, bisa menjadi jawaban yang meringankan di hadapan Allah nanti.