Cara Memilih Pemimpin dengan Benar Menurut Islam dan Prinsip Keadilan

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id — Salah satu kesalahan terbesar dalam proses demokrasi adalah menilai calon pemimpin hanya dari popularitas dan kedekatan emosional. Padahal dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang harus ditimbang dengan prinsip keadilan dan kelayakan. Karena itu, memahami cara memilih pemimpin dengan benar tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai syariah tentang adil, amanah, dan tanggung jawab publik.

Memilih bukan sekadar preferensi tetapi penyerahan mandat. Dan mandat tidak boleh diberikan tanpa pertimbangan moral dan rasional.

Keadilan sebagai Standar Utama

Islam menempatkan keadilan sebagai fondasi tata sosial dan pemerintahan. Bahkan keadilan harus ditegakkan tanpa memandang kedekatan atau kebencian.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini memberi pedoman penting dalam cara memilih pemimpin dengan benar: pilihan tidak boleh didorong sentimen suka atau benci semata. Harus ada ukuran objektif.

Keadilan dalam memilih berarti: menilai program secara jujur, membaca rekam jejak secara utuh, tidak menutup mata terhadap kelemahan, tidak menutup telinga terhadap kritik yang valid.

Bahaya Fanatisme dalam Pilihan

Fanatisme kelompok sering membutakan penilaian. Orang membela calon “kelompoknya” meskipun faktanya lemah. Dalam Islam, fanatisme buta (ashabiyyah) justru dikecam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan…” (HR. Abu Dawud)

Fanatisme merusak cara memilih pemimpin dengan benar karena mengganti penilaian relasional dengan loyalitas emosional. Akibatnya, kualitas kepemimpinan dikorbankan demi identitas kelompok.

Islam mengajarkan loyalitas kepada kebenaran bukan kepada golongan.

Amanah dan Kompetensi Harus Bertemu

Al-Qur’an memberi gambaran kriteria pemimpin melalui kisah Nabi Musa:

“Sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil untuk bekerja adalah yang kuat dan terpercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)

Kuat berarti kompeten. Terpercaya berarti amanah.

Dua unsur ini tidak boleh dipisah. Kompeten tanpa amanah berbahaya. Amanah tanpa kompeten melemahkan sistem. Cara memilih pemimpin dengan benar harus memastikan keduanya hadir sekaligus.

Karena dampak kepemimpinan bukan hanya administratif tetapi sosial dan moral.

Menilai dengan Data, Bukan Narasi

Era informasi membuat citra mudah dibentuk dan dipoles. Karena itu, pemilih dituntut lebih kritis. Jangan hanya menilai dari pidato, tetapi dari kebijakan nyata. Jangan hanya melihat kampanye, tetapi lihat keputusan masa lalu.

Islam mengajarkan verifikasi informasi:

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Prinsip tabayyun ini menjadi pondasi penting dalam cara memilih pemimpin dengan benar. Verifikasi adalah kewajiban moral bukan pilihan tambahan.

Partai X: Cara Publik Menilai Calon Pemimpin 

Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa banyak kerusakan kebijakan berawal dari kesalahan cara publik menilai calon pemimpin.

“Sering orang memilih karena narasi, bukan karena data. Karena slogan, bukan rekam jejak,” ujarnya.

Menurutnya, keadilan dalam memilih berarti berani mengoreksi pilihan sendiri jika fakta menunjukkan kelemahan calon yang didukung.

Cara memilih pemimpin dengan benar itu menuntut kedewasaan. Kalau datanya tidak mendukung, jangan dipaksakan hanya karena kedekatan. Demokrasi sehat lahir dari pemilih yang jujur pada fakta, bukan setia pada ilusi.

Penutup: Pilihan Adil Melahirkan Arah yang Lurus

Memilih dengan adil adalah bagian dari ibadah sosial. Ia menentukan arah kebijakan, nasib masyarakat, dan kualitas tata kelola. Karena itu, Islam tidak membiarkan proses memilih berjalan tanpa panduan nilai.

Cara memilih pemimpin dengan benar menuntut: keadilan dalam menilai, keberanian meninggalkan fanatisme, verifikasi fakta, pertimbangan amanah dan kompetensi.

Jika keadilan dijadikan standar sejak memilih, maka peluang lahirnya kepemimpinan yang lurus menjadi lebih besar. Negara yang baik tidak hanya lahir dari calon yang baik tetapi dari pemilih yang adil.

Share This Article