muslimx.id — Dalam setiap momentum pemerintahan, suara kelompok intelektual dan mahasiswa memiliki pengaruh besar terhadap arah opini publik. Namun pengaruh itu hanya bernilai jika dibangun di atas literasi, riset, dan tanggung jawab moral. Karena itu, memahami cara memilih pemimpin dengan benar menjadi kewajiban yang lebih kuat bagi kalangan terdidik bukan sekadar pilihan partisipasi.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab etiknya. Dalam Islam, ilmu tidak hanya untuk diketahui, tetapi untuk membimbing keputusan termasuk keputusan.
Ilmu Harus Membimbing Pilihan
Islam menempatkan ilmu sebagai pembeda utama antara keputusan yang lurus dan yang keliru.
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini menjadi dasar bahwa keputusan penting tidak boleh diambil tanpa sepengetahuan. Cara memilih pemimpin dengan benar tidak bisa dilepaskan dari proses memahami: visi dan program, rekam jejak kebijakan, integritas pribadi, dampak sosial putusan.
Mahasiswa dan intelektual tidak cukup hanya ikut memilih tetapi harus menjadi penjernih informasi di tengah masyarakat.
Bahaya Ikut Arus dan Tren
Di era digital, tren opini bergerak cepat. Dukungan bisa viral dalam hitungan jam. Namun Islam tidak membenarkan keputusan berbasis arus massa semata.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (QS. Al-An’am: 116)
Mayoritas tidak selalu benar. Viral tidak selalu valid. Populer tidak selalu layak. Cara memilih pemimpin dengan benar menuntut keberanian berpikir mandiri bukan sekadar mengikuti arus percakapan. Peran intelektual adalah memperlambat keputusan agar analisis bisa mendahului emosi.
Aktivisme Berbasis Riset, Bukan Sentimen
Mahasiswa sering disebut agen perubahan. Namun perubahan yang tidak berbasis data sering berujung pada kekecewaan. Aktivisme tanpa riset mudah dimanipulasi narasi.
Tradisi ilmiah dalam Islam sangat menekankan verifikasi dan argumentasi. Ulama klasik tidak mengeluarkan kesimpulan tanpa dalil dan kajian. Prinsip ini relevan dalam pemerintahan modern.
Cara memilih pemimpin dengan benar mensyaratkan: membaca sumber primer, membandingkan kebijakan, menilai dampak program, menguji klaim kampanye. Pilihan yang lahir dari riset memiliki daya tahan moral yang lebih kuat.
Suara Intelektual adalah Penjaga Kualitas Demokrasi
Ketika kelompok terdidik memilih secara sembrono, kualitas demokrasi turun. Tetapi ketika mereka memilih dengan analisis matang, standar publik ikut naik. Di sinilah posisi strategis pemilih intelektual.
Mereka bukan hanya pengguna hak suara tetapi penjaga mutu pilihan sosial. Islam memuji orang yang menggunakan akal dalam mengambil keputusan:
“…mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya.” (QS. Az-Zumar: 18)
Ini adalah prinsip seleksi rasional inti dari cara memilih pemimpin dengan benar.
Partai X: Pengaruh Kualitas Pemimpin
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa kualitas pemimpin sangat dipengaruhi oleh kedewasaan pemilih terdidik.
“Mahasiswa dan kalangan intelektual itu penentu standar. Kalau mereka memilih dengan analisis, publik ikut naik. Kalau mereka ikut emosional, publik ikut jatuh,” ujarnya.
Menurutnya, cara memilih pemimpin dengan benar harus dimulai dari budaya membaca dan membandingkan.
Jangan puas dengan satu narasi. Bandingkan data, melihat rekam jejak, ukur konsistensi. Itu cara berpikir ilmiah yang harus dibawa ke ruang pemerintahan. Suara intelektual bukan hanya satu suara tetapi pengaruh berantai.
Penutup: Ilmu Tanpa Sikap Adalah Kelalaian
Ilmu yang tidak membimbing pilihan adalah kelalaian intelektual. Mahasiswa dan pemilih terdidik tidak cukup netral dan diam. Mereka dituntut menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan keputusan yang lebih adil.
Cara memilih pemimpin dengan benar bagi kalangan intelektual berarti: memilih dengan riset, menilai dengan data, menolak manipulasi narasi, membimbing publik dengan penjelasan.
Karena ketika orang berilmu memilih dengan benar, dampaknya bukan hanya satu suara tetapi satu arah perubahan.