muslimx.id — Dalam wacana publik, sikap netral sering dipuji sebagai tanda kedewasaan dan objektivitas. Namun tidak semua netralitas bernilai moral. Dalam banyak kasus ketidakadilan, sikap diam justru menjadi bentuk keberpihakan terselubung. Inilah yang disebut netralitas palsu dalam pemerintahan tampak tidak memihak, tetapi secara dampak menguatkan pihak yang zalim.
Netral secara posisi tidak selalu netral secara moral. Ketika terjadi kezaliman, ketidakadilan, atau penyimpangan amanah publik, diam bukanlah titik tengah melainkan ruang aman bagi pelaku ketidakadilan.
Islam tidak memuliakan netralitas kosong. Islam memuliakan keadilan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah…” (QS. An-Nisa: 135)
Perintah ini tidak menyisakan ruang untuk netral terhadap ketidakadilan. Yang dituntut adalah keberpihakan pada kebenaran.
Netral Tidak Selalu Adil
Salah kaprah terbesar adalah menyamakan netral dengan adil. Padahal keduanya berbeda. Netral berarti tidak memilih pihak. Adil berarti memilih yang benar.
Dalam konflik antara benar dan salah, netralitas justru bisa menjadi pengkhianatan terhadap keadilan. Karena ia menempatkan kebenaran dan kesalahan di posisi yang sama seolah setara.
Dalam etika Islam, keadilan tidak boleh dikaburkan demi kenyamanan posisi. Bahkan terhadap pihak yang dibenci pun, keadilan tetap wajib ditegakkan.
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini menegaskan: standar moral bukan netralitas, tetapi keadilan.
Diam sebagai Keberpihakan Terselubung
Dalam banyak peristiwa sosial-pemerintahan, kezaliman bertahan bukan hanya karena pelakunya kuat tetapi karena banyak orang baik memilih diam. Diam memberi ruang, waktu dan perlindungan tidak langsung.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa membiarkan kemungkaran tanpa sikap adalah tingkat terlemah secara moral. Artinya, sikap minimal seorang beriman adalah penolakan bukan netralitas pasif.
Netralitas palsu sering bersembunyi di balik kalimat: “Saya tidak mau ikut-ikutan.”
Padahal yang terjadi adalah menghindari tanggung jawab moral.
Netralitas dan Kenyamanan Posisi
Sikap netral kadang dipilih bukan karena objektif, tetapi karena aman. Tidak kehilangan relasi, akses, posisi. Netral dijadikan tameng karier bukan sikap etis.
Padahal dalam tradisi intelektual Islam, ilmu menuntut kesaksian kebenaran. Orang berilmu tidak dibenarkan menyembunyikan fakta demi kenyamanan.
Al-Qur’an mengecam keras orang yang menyembunyikan kebenaran yang diketahuinya. Karena kebenaran yang tidak disuarakan bisa kalah oleh kebatilan yang disuarakan.
Partai X: Menanggapi Netralitas Palsu dalam Pemerintahan
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa netralitas palsu dalam pemerintahan sering muncul ketika orang ingin terlihat objektif tetapi menghindari risiko moral.
“Tidak semua netral itu bijak. Dalam situasi ada ketidakadilan yang jelas, netral justru bisa memperpanjang masalah,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan penting harus dibuat antara objektif dan pasif.
“Objektif itu berbasis fakta dan berani menyimpulkan. Pasif itu menghindari kesimpulan. Itu berbeda,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa keberanian moral tetap dibutuhkan dalam ruang publik. Kalau semua orang baik memilih netral, yang menentukan arah justru mereka yang paling agresif bukan paling benar.
Penutup: Netral di Hadapan Zalim Bukanlah Netral
Dalam perspektif Islam, sikap moral tidak diukur dari aman tidaknya posisi, tetapi lurus tidaknya keberpihakan. Ketika kezaliman tampak, diam bukan netral tetapi kelalaian.
Netralitas palsu dalam pemerintahan adalah ketika seseorang menjaga citra tidak memihak, tetapi membiarkan ketidakadilan berjalan tanpa koreksi.
Adil mungkin berisiko. Diam terasa aman. Tetapi di hadapan Allah, yang ditanya bukan posisi melainkan sikap. Karena netral di hadapan yang zalim bukanlah netral melainkan kehilangan keberanian moral.