muslimx.id — Dalam Islam, memilih pemimpin bukan sekadar hak, tetapi tanggung jawab moral. Banyak orang datang ke bilik suara hanya sebagai rutinitas demokrasi. Padahal dalam perspektif syariah, suara yang diberikan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, memahami cara memilih pemimpin dengan benar menjadi bagian dari etika keimanan, bukan hanya partisipasi kenegaraan.
Kualitas negara sangat ditentukan oleh kualitas pemilihnya. Jika pilihan didasarkan pada emosi, fanatisme, atau imbalan sesaat, maka kepemimpinan yang lahir pun rawan menyimpang. Namun jika pilihan didasarkan pada ilmu, integritas, dan pertimbangan moral, maka arah kebijakan akan lebih dekat kepada keadilan.
Suara adalah Amanah, Bukan Sekadar Hak
Al-Qur’an menegaskan pentingnya amanah dalam setiap urusan publik:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang jabatan, tetapi juga tentang proses penyerahan jabatan termasuk melalui pilihan rakyat. Memberikan suara kepada calon yang tidak layak, padahal mengetahui kelemahannya, termasuk bentuk pengkhianatan amanah.
Karena itu, cara memilih pemimpin dengan benar dimulai dari kesadaran bahwa suara bukan milik pribadi sepenuhnya tetapi titipan tanggung jawab sosial.
Memilih Berdasarkan Kelayakan, Bukan Kedekatan
Islam menolak pengangkatan pemimpin karena kedekatan, loyalitas kelompok, atau hubungan pribadi semata. Prinsip kelayakan (ahliyyah) dan amanah harus menjadi dasar utama.
Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras:
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi pondasi penting dalam cara memilih pemimpin dengan benar. Ukuran utama bukan popularitas tetapi kapasitas. Bukan citra tetapi karakter. Bukan janji tetapi rekam jejak.
Pemilih yang matang akan menilai program, integritas, kompetensi, dan keberpihakan pada keadilan bukan sekadar retorika.
Dosa Kelalaian dalam Memilih
Sebagian orang menganggap semua calon sama saja, lalu memilih secara acak atau ikut-ikutan. Dalam pandangan Islam, kelalaian seperti ini tidak netral secara moral. Jika ada pilihan yang lebih amanah dan lebih adil, lalu diabaikan tanpa pertimbangan, maka itu termasuk kelalaian etis.
Kesaksian palsu dilarang dalam Islam. Memberikan suara kepada yang tidak layak padahal tahu faktanya bisa mendekati makna kesaksian yang tidak jujur.
Karena memilih pemimpin sejatinya adalah bentuk kesaksian publik: kita menyatakan bahwa orang ini layak memegang amanah.
Literasi sebagai Syarat Memilih
Cara memilih pemimpin dengan benar juga menuntut usaha intelektual. Pemilih tidak boleh malas mencari informasi. Program perlu dibaca. Riwayat perlu ditelusuri. Sikap kebijakan perlu dibandingkan.
Tradisi Islam menghargai keputusan berbasis ilmu. Bahkan dalam urusan pribadi, istikharah dianjurkan setelah ikhtiar informasi dilakukan bukan sebagai pengganti analisis.
Memilih tanpa pengetahuan adalah membuka pintu penyesalan kolektif.
Partai X: Pemilih Cerdas Kekuatan Demokrasi
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa kekuatan demokrasi tidak hanya ditentukan kualitas calon, tetapi terutama kualitas pemilih.
“Banyak orang sibuk menuntut pemimpin yang baik, tetapi lupa membangun diri sebagai pemilih yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, cara memilih pemimpin dengan benar harus berbasis data dan rekam jejak, bukan sekadar slogan.
Suara rakyat itu seperti tanda tangan amanah. Sekali diberikan, dampaknya bisa bertahun-tahun. Jadi tidak boleh asal. Pemilih yang cerdas adalah benteng pertama pencegah rusaknya kebijakan publik.
Penutup: Memilih adalah Ibadah Sosial
Memilih pemimpin bukan hanya aktivitas tetapi ibadah sosial jika diniatkan untuk menghadirkan kebaikan bersama. Setiap suara adalah kontribusi terhadap arah negara. Setiap pilihan adalah pernyataan moral.
Cara memilih pemimpin dengan benar berarti: menilai dengan ilmu, mempertimbangkan amanah, menghindari fanatisme, mendahulukan keadilan.
Karena di hadapan Allah, bukan hanya pemimpin yang dimintai pertanggungjawaban tetapi juga mereka yang mengangkatnya. Suara bisa menjadi pahala jariyah atau penyesalan panjang tergantung bagaimana ia digunakan.