muslimx.id — Pendidikan sering disebut sebagai tangga mobilitas sosial. Namun ketika akses terhadap pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tangga itu berubah menjadi tembok. Di sinilah ancaman ketimpangan ekonomi menemukan bentuknya yang paling berbahaya: mewariskan ketimpangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketimpangan tidak hanya terjadi pada distribusi pendapatan, tetapi juga pada distribusi kesempatan. Jika anak dari keluarga mampu mendapatkan pendidikan terbaik, sementara anak dari keluarga miskin tertinggal sejak awal, maka kesenjangan menjadi permanen.
Pendidikan sebagai Penentu Masa Depan Ekonomi
Akses pendidikan yang setara adalah fondasi pemerataan ekonomi. Tanpa pendidikan yang layak, sulit bagi masyarakat kelas bawah untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Ketimpangan pendidikan terlihat dalam: perbedaan kualitas sekolah kota dan desa, biaya pendidikan tinggi yang tidak terjangkau, akses teknologi dan literasi digital yang timpang, fasilitas belajar yang tidak merata.
Ancaman ketimpangan ekonomi menjadi serius ketika pendidikan gagal menjadi jembatan perubahan sosial.
Siklus Kemiskinan yang Berulang
Anak yang lahir dalam keluarga miskin cenderung menghadapi keterbatasan pendidikan. Keterbatasan itu berdampak pada rendahnya peluang kerja dan pendapatan di masa depan. Akhirnya, kemiskinan berulang dalam lingkaran yang sulit diputus.
Jika negara tidak hadir memperbaiki akses pendidikan, maka kesenjangan akan terus melebar. Pertumbuhan ekonomi nasional tidak otomatis menyentuh mereka yang tertinggal.
Al-Qur’an mendorong pentingnya ilmu sebagai sarana peningkatan derajat manusia:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci mobilitas dan kemuliaan. Ketika akses ilmu timpang, keadilan sosial ikut terganggu.
Ketimpangan Wilayah dan Infrastruktur
Di banyak daerah, sekolah masih kekurangan guru, fasilitas, bahkan ruang belajar yang layak. Sementara di wilayah tertentu, fasilitas pendidikan sangat modern dan lengkap.
Perbedaan ini menciptakan: ketimpangan kompetensi lulusan, disparitas peluang kerja, migrasi paksa ke kota besar, penumpukan ketimpangan wilayah.
Ancaman ketimpangan ekonomi bukan hanya soal individu, tetapi juga soal ketidakseimbangan antarwilayah.
Dampak terhadap Stabilitas Sosial
Ketika generasi muda merasa tidak memiliki akses yang adil terhadap pendidikan dan peluang ekonomi, rasa frustasi sosial meningkat. Ketidakpercayaan terhadap sistem bisa tumbuh.
Ketimpangan pendidikan bukan hanya masalah akademik ia berpotensi menjadi masalah stabilitas nasional.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memberi ruang yang sama bagi semua anak untuk berkembang.
Partai X: Titik Krusial Ketimpangan
Ketua Umum Partai X, Erick Karya, menilai bahwa pendidikan adalah titik krusial dalam mengatasi ketimpangan.
“Kalau kita ingin mengurangi ketimpangan ekonomi, kita harus mulai dari pendidikan. Tanpa akses yang adil, kesenjangan akan diwariskan,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman ketimpangan ekonomi akan semakin besar jika pendidikan hanya menjadi privilese kelompok mampu.
“Negara harus memastikan bahwa kualitas sekolah tidak ditentukan oleh kemampuan membayar. Kalau tidak, kita sedang membangun ketimpangan permanen,” tegas Erick.
Ia menekankan bahwa investasi pendidikan bukan sekadar anggaran, tetapi strategi menjaga stabilitas bangsa.
Penutup: Mencegah Ketimpangan Sejak Bangku Sekolah
Ketimpangan ekonomi tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari ketidaksetaraan akses, terutama dalam pendidikan. Jika sekolah tidak menjadi ruang pemerataan, maka ketimpangan akan terus berulang.
Ancaman ketimpangan ekonomi dapat dicegah dengan memastikan setiap anak memiliki peluang yang sama untuk belajar dan berkembang.
Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh segelintir orang, tetapi oleh jutaan anak yang hari ini duduk di bangku sekolah.