muslimx.id — Ketimpangan ekonomi sering dibahas dari sisi pendapatan, tetapi akar persoalannya kerap terletak pada distribusi sumber daya. Siapa yang menguasai lahan, akses tambang, dan yang menikmati konsesi besar? Ketika distribusi sumber daya terkonsentrasi pada kelompok tertentu, maka ancaman ketimpangan ekonomi menjadi semakin nyata dan struktural.
Ketimpangan jenis ini tidak mudah terlihat, tetapi dampaknya panjang dan dalam.
Konsentrasi Aset dan Lahan
Distribusi lahan dan aset produktif yang tidak merata menyebabkan sebagian besar keuntungan ekonomi hanya dinikmati oleh kelompok kecil. Sementara masyarakat luas hanya menjadi pekerja atau bahkan tersisih dari akses produktif.
Kondisi ini menciptakan: ketergantungan ekonomi, kesenjangan pendapatan antar wilayah, lemahnya usaha kecil dan menengah, terbatasnya mobilitas sosial.
Jika kepemilikan aset produktif terlalu terkonsentrasi, maka pertumbuhan ekonomi sulit dirasakan secara merata.
Ketimpangan Wilayah: Desa dan Kota
Banyak daerah kaya sumber daya alam, tetapi masyarakat setempat justru hidup dalam keterbatasan. Sementara pusat ekonomi terkonsentrasi di kota besar.
Ketimpangan wilayah menyebabkan: urbanisasi berlebihan, ketimpangan infrastruktur, disparitas layanan publik, ketegangan sosial antarwilayah.
Ancaman ketimpangan ekonomi semakin kompleks ketika ketidakadilan distribusi menciptakan perasaan marginalisasi di tingkat daerah.
Kebijakan yang Tidak Berpihak
Distribusi sumber daya sangat dipengaruhi oleh kebijakan. Jika kebijakan lebih mempermudah kelompok besar dibanding pelaku usaha kecil, maka jurang ekonomi semakin melebar.
Dalam Islam, keadilan distribusi menjadi prinsip penting. Allah berfirman:
“…supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa sirkulasi kekayaan harus melibatkan banyak pihak. Jika hanya berputar pada segelintir elite, maka ketimpangan menjadi permanen.
Ketimpangan sebagai Bom Sosial
Ketika masyarakat merasa sumber daya di daerahnya tidak memberi manfaat bagi mereka, rasa ketidakadilan tumbuh. Dalam jangka panjang, ini bisa mengganggu stabilitas sosial dan politik.
Ancaman ketimpangan ekonomi bukan hanya tentang angka rasio, tetapi tentang rasa keadilan kolektif. Jika distribusi tidak adil, kepercayaan publik terhadap sistem akan melemah.
Partai X: Ketimpangan Distribusi Sumber Daya
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa ketimpangan distribusi sumber daya adalah isu strategis yang tidak boleh diabaikan.
“Masalahnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi siapa yang menikmati pertumbuhan itu,” ujarnya.
Menurutnya, ancaman ketimpangan ekonomi akan terus membesar jika kebijakan tidak membuka akses luas terhadap aset produktif.
“Kalau sumber daya terkonsentrasi pada kelompok tertentu, maka usaha kecil sulit berkembang. Negara harus memastikan distribusi peluang yang adil,” tegas Rinto.
Ia menekankan bahwa pemerataan bukan berarti menghambat investasi, tetapi memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Penutup: Keadilan Distribusi sebagai Pilar Stabilitas
Distribusi sumber daya yang adil adalah fondasi kepercayaan publik. Tanpa pemerataan akses, pertumbuhan ekonomi hanya menjadi angka tanpa makna sosial.
Ancaman ketimpangan ekonomi dapat ditekan jika kebijakan dirancang untuk memperluas kepemilikan, memperkuat usaha kecil, dan membangun daerah secara seimbang.
Karena stabilitas bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaan, tetapi oleh seberapa adil kekayaan itu dibagikan.