muslimx.id — Menjelang pergantian kekuasaan, suhu sering kali berubah. Manuver terjadi di berbagai arah. Pernyataan-pernyataan menjadi lebih sensitif. Jabatan yang seharusnya dipandang sebagai amanah perlahan berubah menjadi sesuatu yang dipertahankan mati-matian. Dalam situasi seperti ini, fenomena takut kehilangan jabatan menjadi semakin terlihat dalam kehidupan politik dan kekuasaan.
Di berbagai tempat, publik menyaksikan bagaimana kekuasaan kadang dipertahankan dengan segala cara mulai dari membangun citra berlebihan, memainkan pengaruh, menjaga lingkaran loyalitas, hingga mengendalikan opini publik. Jabatan tidak lagi diposisikan sebagai tanggung jawab sementara, tetapi seolah menjadi identitas yang tidak boleh hilang.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan terbesar dalam kekuasaan sering kali bukan sekadar ambisi untuk naik, tetapi ketakutan untuk turun.
Ketika Jabatan Menjadi Identitas Diri
Fenomena takut kehilangan jabatan sering bermula ketika seseorang terlalu lama menyatu dengan kekuasaan. Jabatan perlahan membentuk identitas.
Pengaruh, penghormatan, fasilitas, dan akses yang dimiliki membuat seseorang merasa memiliki posisi yang istimewa.
Dalam kondisi ini, kehilangan jabatan tidak lagi dipandang sebagai bagian normal dari pergantian amanah, tetapi dianggap sebagai kehilangan harga diri dan kekuasaan. Akibatnya, muncul dorongan untuk mempertahankan posisi dengan berbagai cara.
Ambisi yang Mengalahkan Amanah
Dalam perspektif takut kehilangan jabatan, ambisi yang berlebihan dapat mengubah cara seseorang memandang kekuasaan.
Awalnya jabatan mungkin dipandang sebagai sarana pengabdian. Namun seiring waktu, jabatan berubah menjadi tujuan itu sendiri. Keikhlasan mulai tergeser oleh kepentingan mempertahankan posisi.
Keputusan-keputusan yang diambil tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada kepentingan rakyat, tetapi pada bagaimana kekuasaan tetap aman. Di sinilah amanah mulai kehilangan makna.
Kekuasaan dan Ketakutan Kehilangan Pengaruh
Fenomena takut kehilangan jabatan juga berkaitan dengan rasa takut kehilangan pengaruh. Dalam dunia kekuasaan, jabatan sering menentukan seberapa besar seseorang didengar. Ketika posisi terancam hilang, muncul kecemasan bahwa pengaruh juga akan hilang.
Kondisi ini membuat sebagian orang sulit melepaskan kekuasaan dengan lapang. Padahal, kekuasaan sejatinya bersifat sementara. Tidak ada jabatan yang abadi.
Dampak terhadap Kehidupan Bernegara
Ketika takut kehilangan jabatan mulai mendominasi cara berpikir pemimpin, dampaknya tidak hanya bersifat pribadi. Kebijakan dapat dipengaruhi oleh kepentingan mempertahankan kekuasaan.
Ruang kritik menyempit. Lingkaran kekuasaan menjadi semakin tertutup. Bahkan dalam beberapa kondisi, perbedaan pendapat dianggap ancaman.
Jika dibiarkan, situasi ini dapat melemahkan kualitas demokrasi dan kepercayaan masyarakat.
Perspektif Islam: Jabatan adalah Amanah, Bukan Kemuliaan
Dalam Islam, jabatan bukan simbol kemuliaan pribadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kalian akan berambisi terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang layak diperebutkan dengan nafsu berlebihan.
Dalam konteks takut kehilangan jabatan, Islam mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah yang bersifat sementara. Kemuliaan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh lamanya berkuasa, tetapi oleh keadilan dan kejujurannya.
Partai X tentang Ketakutan Kehilangan Jabatan
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa fenomena takut kehilangan jabatan menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kekuasaan. Menurutnya, jabatan sering kali tidak lagi diposisikan sebagai amanah, tetapi sebagai pusat kepentingan.
“Ketika seseorang terlalu mencintai jabatan, maka objektivitasnya bisa hilang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kekuasaan yang terlalu dipertahankan berpotensi melahirkan penyimpangan.
“Rasa takut kehilangan kekuasaan sering membuat orang membenarkan banyak hal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prayogi mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam kepemimpinan. Pemimpin yang baik harus siap datang dan siap pergi.
Penutup: Belajar Melepaskan Kekuasaan
Pada akhirnya, fenomena takut kehilangan jabatan mengajarkan bahwa persoalan terbesar dalam kekuasaan sering kali bukan saat memperoleh jabatan, tetapi saat harus melepaskannya.
Ketika jabatan terlalu dicintai, amanah dapat berubah menjadi ambisi. Padahal, kekuasaan hanyalah titipan yang suatu saat akan berakhir. Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah ujian, bukan kebanggaan.
Karena itu, belajar melepaskan kekuasaan dengan ikhlas adalah bagian penting dari menjaga amanah dan menjaga hati dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.