muslimx.id — Pembahasan tentang Islam dan demokrasi menjadi sangat relevan. Sebab persoalan terbesar pemerintahan modern bukan hanya soal sistem, tetapi tentang hilangnya nilai ketuhanan dalam cara manusia menjalankan kekuasaan.
Pemerintahan pada dasarnya bukan sekadar persoalan kekuasaan. Dalam sejarah peradaban manusia, pemerintahan selalu berkaitan dengan bagaimana kehidupan masyarakat diatur, bagaimana keadilan ditegakkan, dan bagaimana amanah dijalankan. Namun dalam kehidupan modern hari ini, pemerintahan sering kali mengalami pergeseran makna. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab moral, tetapi sebagai alat mempertahankan kepentingan dan pengaruh.
Fenomena ini terlihat dalam berbagai dinamika demokrasi modern. Pemerintahan semakin dipenuhi pencitraan, pertarungan opini, propaganda, dan persaingan kekuasaan yang keras. Nilai spiritual perlahan tersingkir dari ruang publik. Akibatnya, pemerintahan kehilangan dimensi moral dan ketuhanan yang seharusnya menjadi pondasi penting dalam kehidupan masyarakat.
Ketika Politik Hanya Menjadi Perebutan Kekuasaan
Fenomena Islam dan demokrasi menunjukkan bahwa pemerintahan modern sering dipahami sebatas perebutan pengaruh dan kemenangan elektoral.
Kekuasaan menjadi tujuan utama. Popularitas menjadi alat utama. Sementara amanah moral sering berada di posisi kedua.
Akibatnya, banyak proses pemerintahan lebih fokus pada strategi memenangkan dukungan daripada membangun kualitas kepemimpinan.
Padahal politik yang kehilangan nilai moral mudah berubah menjadi ruang konflik kepentingan tanpa arah kebaikan yang jelas.
Demokrasi dan Hilangnya Dimensi Spiritual
Dalam konteks Islam dan demokrasi, demokrasi modern sering menempatkan suara mayoritas sebagai pusat legitimasi kekuasaan. Namun dalam praktiknya, kekuasaan yang lahir dari suara rakyat belum tentu selalu menghadirkan keadilan dan moralitas.
Fenomena ini terlihat ketika pemerintahan dipenuhi fitnah, manipulasi opini, praktik uang, dan polarisasi sosial. Manusia lebih sibuk memenangkan kekuasaan dibanding menjaga nilai kebenaran.
Akibatnya, politik kehilangan ruh spiritual yang seharusnya menjaga manusia dari keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Ketika Moral Pemerintahan Melemah
Fenomena Islam dan demokrasi juga terlihat dari melemahnya akhlak dalam kehidupan pemerintahan modern. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi permusuhan.
Lawan diperlakukan sebagai musuh yang harus dihancurkan. Bahkan kebohongan dan fitnah kadang dianggap wajar demi kemenangan.
Padahal ketika moral hilang dari politik, masyarakat akan hidup dalam suasana penuh ketegangan dan saling curiga.
Kondisi ini membuat demokrasi kehilangan tujuan utamanya sebagai sarana membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
Kekuasaan yang Kehilangan Amanah
Dalam Islam, kekuasaan bukan sekadar hak, tetapi amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Namun fenomena Islam dan demokrasi menunjukkan bahwa banyak manusia modern memandang jabatan hanya sebagai simbol keberhasilan dan kekuatan.
Akibatnya, kekuasaan sering dipertahankan dengan segala cara. Padahal ketika kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai amanah, maka politik mudah kehilangan rasa takut kepada Allah SWT.
Di titik inilah nilai ketuhanan perlahan hilang dari kehidupan politik.
Perspektif Islam: Politik sebagai Amanah Moral
Dalam Islam, pemerintahan tidak dipisahkan dari moral dan tanggung jawab spiritual. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam Islam harus dijalankan dengan amanah dan keadilan.
Dalam konteks Islam dan demokrasi, Islam mengajarkan bahwa sistem pemerintahan apa pun tidak akan menghadirkan kebaikan jika manusia yang menjalankannya kehilangan akhlak dan nilai ketuhanan.
Karena inti dari kepemimpinan bukan sekadar memperoleh kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Partai X tentang Krisis Spiritual Politik Modern
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa persoalan terbesar pemerintahan modern bukan hanya pada sistem demokrasi itu sendiri, tetapi pada hilangnya kesadaran moral dan spiritual dalam kehidupan politik. Menurutnya, fenomena Islam dan demokrasi menunjukkan bahwa politik modern semakin menjauh dari nilai amanah.
“Banyak proses politik hari ini lebih fokus pada perebutan kekuasaan dibanding membangun tanggung jawab moral kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintahan tanpa nilai ketuhanan mudah melahirkan penyalahgunaan kekuasaan.
“Ketika manusia tidak lagi merasa diawasi oleh nilai moral dan agama, maka politik akan mudah dipenuhi manipulasi dan kepentingan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prayogi mengingatkan pentingnya menghadirkan kembali etika spiritual dalam demokrasi. Demokrasi membutuhkan akhlak agar kebebasan tidak berubah menjadi ruang pertarungan tanpa moral.
Penutup: Politik Membutuhkan Nilai Ketuhanan
Pada akhirnya, fenomena Islam dan demokrasi mengajarkan bahwa persoalan utama pemerintahan modern bukan hanya soal mekanisme kekuasaan, tetapi tentang hilangnya nilai ketuhanan dalam kehidupan publik.
Demokrasi dapat memberi ruang partisipasi rakyat, tetapi tanpa moral dan amanah, pemerintahan mudah berubah menjadi arena konflik kepentingan yang merusak masyarakat.
Dalam perspektif Islam, kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan keadilan, akhlak, dan rasa tanggung jawab kepada Allah SWT.
Karena itu, di tengah dunia kekuasaan yang semakin keras dan pragmatis, manusia perlu kembali menyadari bahwa kekuasaan tanpa nilai ketuhanan hanya akan melahirkan kehampaan moral dan krisis kemanusiaan dalam kehidupan bernegara.