Dari Teheran, Sekolah Negarawan Belajar Memaknai Persatuan Islam sebagai Agenda Masa Depan

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id — Persatuan Islam sering kali dibicarakan sebagai sebuah cita-cita. Namun, ketika gagasan tersebut dibawa ke ruang konferensi internasional dan dipertemukan dengan persoalan politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, hingga masa depan peradaban, persatuan menjadi persoalan yang jauh lebih konkret. Pengalaman tersebut dirasakan Tim Sekolah Negarawan ketika mengikuti 40th International Islamic Unity Conference di Teheran, Iran, pada 27 Agustus 2026.

Teheran sebagai Ruang Pertemuan Gagasan

Konferensi tersebut mempertemukan sekitar 600 peserta dari sekitar 40 negara. Kehadiran berbagai tokoh dan delegasi dari latar belakang yang berbeda menjadikan forum tersebut bukan hanya sebagai ruang untuk membicarakan persoalan keagamaan, tetapi juga sebagai tempat mempertemukan pengalaman berbagai masyarakat Muslim dalam menghadapi perubahan dunia.

Bagi Tim Sekolah Negarawan, keikutsertaan dalam konferensi menjadi bagian dari rangkaian perjalanan pendidikan di Iran. Sebelumnya, delegasi telah mengunjungi berbagai institusi pendidikan, pusat riset, lembaga kebudayaan, institusi keagamaan, hingga pusat pengembangan teknologi. Setiap kunjungan memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana sebuah bangsa membangun manusia, institusi, pengetahuan, dan kebudayaan.

Konferensi Islamic Unity kemudian memberikan lapisan pengalaman yang berbeda. Jika kunjungan ke universitas memperlihatkan bagaimana pengetahuan dikembangkan, kunjungan ke pusat teknologi menunjukkan bagaimana inovasi dibangun, maka konferensi di Teheran memperlihatkan bagaimana persoalan umat dibicarakan dalam ruang internasional.

Persatuan Tidak Berarti Menghapus Perbedaan

Tema konferensi tahun ini berangkat dari pemikiran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei mengenai persatuan Islam. Pembahasannya mencakup berbagai persoalan, mulai dari identitas umat dan peradaban Islam modern, prinsip-prinsip bersama, tantangan persatuan, peran ulama dan institusi keagamaan, hingga ekonomi, pemerintahan, keamanan, perang, perdamaian, dan hubungan antarnegara Muslim.

Salah satu perspektif yang menarik dalam forum tersebut adalah bahwa persatuan tidak harus dimaknai sebagai penghapusan seluruh perbedaan. Dunia Islam terdiri atas masyarakat dengan sejarah, budaya, sistem politik, tradisi keagamaan, serta kepentingan nasional yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan yang tidak dapat begitu saja dihilangkan.

Dalam konteks itu, persatuan justru dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengelola perbedaan agar tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan politik maupun pandangan keagamaan tidak harus menjadi alasan untuk memutus komunikasi dan kerja sama.

Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi fragmentasi sosial dan konflik identitas yang semakin kompleks. Persatuan tidak cukup berhenti pada kesamaan bahasa atau simbol. Ia membutuhkan kemampuan membangun ruang dialog dan menemukan kepentingan bersama di tengah perbedaan.

Dari Slogan Menuju Kerja Sama

Bagi Sekolah Negarawan, gagasan persatuan menjadi semakin bermakna ketika diterjemahkan ke dalam kerja nyata. Persatuan tidak hanya dapat diwujudkan melalui konferensi atau pernyataan bersama, tetapi juga melalui penelitian, pendidikan, pertukaran mahasiswa, pengembangan teknologi, dan kerja sama antarlembaga.

Pengalaman perjalanan di Iran memperlihatkan contoh konkret mengenai hal tersebut. Selama berada di Isfahan, Sekolah Negarawan membangun komunikasi dengan sejumlah institusi pendidikan dan penelitian. Salah satunya melalui penandatanganan kerja sama dengan Nahjul Balaghah Institute yang membuka peluang joint student theses, joint research, konferensi bersama, serta kolaborasi di bidang sains dan teknologi.

Kerja sama semacam itu menunjukkan bahwa persatuan dapat memiliki bentuk yang sangat praktis. Mahasiswa dari dua negara dapat mengerjakan penelitian bersama. Akademisi dapat bertukar pengetahuan. Peneliti dapat membangun proyek lintas negara. Institusi pendidikan dapat saling mengembangkan program. Bahkan teknologi dapat menjadi ruang baru bagi masyarakat Muslim untuk membangun kemampuan bersama.

Dengan demikian, persatuan tidak hanya berada di ruang gagasan. Ia dapat hadir di ruang kelas, laboratorium, pusat penelitian, perusahaan teknologi, dan berbagai institusi yang menghasilkan pengetahuan.

Generasi Muda dan Masa Depan Dunia Islam

Bagi generasi muda, persoalan persatuan memiliki tantangan yang semakin berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Dunia mereka tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis. Seorang mahasiswa di Indonesia dapat berdiskusi dengan mahasiswa Iran melalui teknologi digital. Peneliti dapat bekerja dengan mitra dari berbagai negara. Pengetahuan dapat berpindah dalam hitungan detik.

Namun keterhubungan tersebut tidak otomatis menghasilkan persatuan. Teknologi juga dapat memperbesar polarisasi, mempercepat penyebaran konflik, dan menciptakan ruang sosial yang dipenuhi perbedaan tanpa dialog yang sehat.

Karena itu, generasi masa depan membutuhkan kemampuan yang lebih dari sekadar penguasaan teknologi. Mereka membutuhkan kemampuan memahami perbedaan, membangun komunikasi lintas budaya, bekerja dalam tim internasional, dan mencari solusi atas persoalan bersama.

Dalam perspektif pendidikan kepemimpinan, pengalaman tersebut menjadi penting bagi Sekolah Negarawan. Seorang calon pemimpin tidak cukup hanya memahami bagaimana negaranya bekerja. Ia juga perlu memahami bagaimana bangsa lain melihat dunia, bagaimana masyarakat lain menghadapi persoalan, dan bagaimana hubungan antarnegara dapat dibangun melalui pengetahuan serta kerja sama.

Persatuan sebagai Ketahanan Peradaban

Pembahasan mengenai persatuan juga membawa persoalan yang lebih luas, yaitu masa depan peradaban. Sebuah peradaban tidak hanya bertahan karena memiliki sejarah yang panjang. Ia bertahan karena mampu menghasilkan ilmu pengetahuan, membangun institusi, menciptakan teknologi, mendidik generasi baru, dan mempertahankan kemampuan untuk bekerja sama.

Karena itu, persatuan Islam dapat dibaca sebagai salah satu bagian dari upaya membangun ketahanan peradaban. Dunia Islam memiliki sumber daya manusia, sejarah, kekayaan budaya, tradisi intelektual, serta potensi ekonomi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dapat dihubungkan menjadi kekuatan yang saling melengkapi.

Di sinilah pendidikan memiliki posisi penting. Persatuan yang tidak melahirkan pengetahuan akan sulit berkembang. Persatuan yang tidak menghasilkan kerja sama ekonomi akan mudah menjadi slogan. Persatuan yang tidak melahirkan teknologi dan inovasi akan menghadapi ketergantungan terhadap pihak lain.

Maka, persatuan perlu diterjemahkan menjadi ekosistem kerja sama yang nyata.

Dari Iran, Membawa Pulang Perspektif Baru

Bagi Tim Sekolah Negarawan, mengikuti konferensi Islamic Unity menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memahami Iran dan dunia Islam melalui pengalaman langsung. Perjalanan tersebut mempertemukan berbagai dimensi yang saling berhubungan: sejarah, agama, pendidikan, teknologi, pemerintahan, kebudayaan, hingga hubungan antarbangsa.

Dari universitas, tim melihat bagaimana pengetahuan dikembangkan. Dari kompetisi artificial intelligence, mereka melihat bagaimana talenta masa depan dipersiapkan. Dari kerja sama akademik, mereka melihat bagaimana hubungan antarnegara dapat dibangun melalui penelitian. Sementara dari konferensi Islamic Unity, mereka melihat bagaimana gagasan mengenai persatuan dibicarakan dalam konteks dunia yang terus berubah.

Semua pengalaman tersebut akhirnya bertemu pada satu pertanyaan besar: bagaimana generasi Muslim masa depan dapat membangun hubungan yang lebih kuat tanpa harus kehilangan identitas masing-masing?

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana. Namun perjalanan ke Teheran memberikan satu pelajaran penting bahwa persatuan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari kesediaan untuk bertemu, berdialog, belajar, dan bekerja bersama.

Dari Teheran, Sekolah Negarawan membawa pulang perspektif bahwa persatuan Islam bukan hanya warisan gagasan dari masa lalu. Ia juga merupakan agenda masa depan yang harus diterjemahkan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kepemimpinan, dan kerja sama nyata antarmanusia serta antarbangsa.

Share This Article