muslimx.id — Salah satu pelajaran penting yang disimak delegasi Sekolah Negarawan dalam acara Riwayat-e Rahmat adalah bagaimana Nabi Muhammad ﷺ tetap menempatkan kemanusiaan sebagai batas dalam situasi peperangan. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diuji ketika keadaan berjalan damai, tetapi juga ketika manusia menghadapi konflik, tekanan, dan situasi yang penuh ketegangan. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan seorang pemimpin mengendalikan kekuatan menjadi bagian penting dari tanggung jawab kepemimpinan.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Seyed Abbas Araghchi ketika berbicara dalam acara yang digelar di Talar-e Vahdat, Teheran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Riwayat-e Rahmat diselenggarakan dalam rangka memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan mempertemukan tokoh agama, akademisi, seniman, pejabat, serta perwakilan dari berbagai negara. Delegasi Sekolah Negarawan turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran selama berada di Iran.
Delegasi Sekolah Negarawan dalam acara tersebut terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian perjalanan yang sebelumnya mempertemukan Sekolah Negarawan dengan berbagai lembaga pendidikan, kebudayaan, penelitian, dan teknologi di Iran. Pengalaman di Vahdat Hall kemudian memberikan dimensi lain berupa pembelajaran mengenai keteladanan Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.

Kekuatan yang Tetap Memiliki Batas
Dalam pidatonya, Araghchi menyampaikan bahwa kehidupan Nabi Muhammad ﷺ mengandung pelajaran yang sangat besar bagi manusia. Salah satu contoh yang diangkat adalah bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan batas dalam peperangan agar kekuatan tidak berubah menjadi tindakan yang merusak kehidupan. Menurut Araghchi, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar anak-anak dan orang lanjut usia tidak dicelakai, hewan tidak disakiti, pepohonan tidak dirusak, dan sumber air tidak dicemari.
Pesan tersebut menjadi menarik jika dilihat dari perspektif kepemimpinan. Konflik merupakan salah satu keadaan paling sulit yang dapat dihadapi seorang pemimpin karena keputusan yang diambil dalam situasi tersebut dapat memengaruhi kehidupan banyak manusia. Ketika emosi, kepentingan, dan tekanan meningkat, seorang pemimpin justru dituntut memiliki kemampuan lebih besar untuk mengendalikan kekuatan dan memastikan bahwa keputusan tetap berada dalam batas moral.
Di sinilah teladan Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan relevansinya. Kekuatan yang dimiliki seorang pemimpin tidak berarti memberikan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu tanpa batas. Sebaliknya, kekuatan harus dikendalikan oleh prinsip agar keputusan yang diambil tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan dan kehilangan penghormatan terhadap kehidupan manusia.
Kepemimpinan Tidak Hanya tentang Kemenangan
Araghchi juga menghubungkan prinsip yang disampaikan dalam teladan Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai konvensi internasional yang berkembang pada masa modern. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk membatasi kekerasan dan melindungi manusia dalam situasi konflik merupakan persoalan yang terus dihadapi umat manusia. Perkembangan hukum internasional modern memperlihatkan adanya kesadaran bahwa kekuatan tetap membutuhkan aturan agar manusia yang tidak terlibat langsung dalam konflik tidak menjadi korban.
Bagi pendidikan kenegarawanan, perspektif tersebut memberikan bahan refleksi yang penting. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu menentukan batas dari tindakan yang dapat dilakukan. Bahkan ketika menghadapi pihak yang dianggap sebagai lawan, terdapat prinsip kemanusiaan yang tetap harus dijaga.
Kepemimpinan karena itu tidak semata-mata berbicara mengenai bagaimana memenangkan sebuah konflik. Kepemimpinan juga berbicara tentang bagaimana memastikan bahwa kemenangan tidak dibangun dengan mengorbankan martabat manusia. Semakin besar kekuatan yang dimiliki seorang pemimpin, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan kekuatan tersebut digunakan secara terkendali.
Pesan Nabi ﷺ untuk Dunia yang Masih Berkonflik
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai batas moral peperangan juga ditempatkan dalam konteks persoalan dunia kontemporer. Araghchi menyinggung penderitaan masyarakat di Gaza serta berbagai kekerasan yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia. Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi dan kemampuan persenjataan tidak secara otomatis menjadikan manusia semakin beradab.
Kemajuan peradaban justru dapat dilihat dari kemampuan manusia mengendalikan kekuatan yang dimilikinya. Teknologi dapat membuat manusia memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk menghancurkan, tetapi nilai kemanusiaan menentukan apakah kemampuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Karena itu, semakin besar kemampuan manusia, semakin penting pula keberadaan etika yang membatasi penggunaannya.
Dalam konteks tersebut, teladan Nabi Muhammad ﷺ menjadi relevan untuk dibaca kembali. Seorang pemimpin tidak hanya perlu menentukan bagaimana menghadapi sebuah ancaman, tetapi juga harus memahami apa yang tidak boleh dilakukan ketika menghadapi ancaman tersebut. Prinsip perlindungan terhadap anak-anak, orang lanjut usia, hewan, pepohonan, dan sumber air menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak boleh hilang hanya karena manusia berada dalam keadaan konflik.
Belajar Mengendalikan Kekuasaan
Bagi delegasi Sekolah Negarawan, pesan tersebut memperkaya pengalaman selama mengikuti Riwayat-e Rahmat. Acara tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana keteladanan beliau dapat dibaca dalam konteks persoalan dunia modern. Nilai rahmat, keadilan, penghormatan terhadap manusia, dan pengendalian kekuatan menjadi bagian penting dari pembelajaran tersebut.
Dalam perspektif kenegarawanan, pelajaran itu memiliki makna yang sangat mendasar. Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menggunakan kekuasaan, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan untuk membatasi dirinya ketika memiliki kekuasaan tersebut. Kepemimpinan yang kehilangan batas moral berisiko menjadikan kekuatan sebagai alat penindasan, sementara kepemimpinan yang berpegang pada prinsip kemanusiaan dapat menjadikan kekuatan sebagai sarana untuk menjaga kehidupan.
Dari Vahdat Hall, delegasi Sekolah Negarawan membawa pulang sebuah pelajaran yang telah diajarkan Nabi Muhammad ﷺ lebih dari 14 abad lalu. Kekuatan tidak pernah berdiri sendiri karena selalu melekat tanggung jawab di dalamnya. Dan ketika manusia memiliki kemampuan untuk menentukan nasib manusia lainnya, rahmat, keadilan, serta penghormatan terhadap kehidupan harus tetap menjadi batas yang tidak boleh dilampaui.