muslimx.id — Sebuah meja makan ternyata dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak gagasan. Hal tersebut terlihat dalam gala dinner yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran, Iran, ketika Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi bersama para ulama, cendekiawan dan delegasi dari berbagai negara duduk dalam satu ruang. Delegasi Sekolah Negarawan dari Indonesia turut hadir dalam pertemuan tersebut sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran selama berada di Iran.
Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan Sekolah Negarawan untuk mempelajari berbagai pengalaman Iran dalam bidang pendidikan, kebudayaan, kepemimpinan, hubungan antarbangsa, teknologi dan pengembangan masyarakat. Gala dinner tersebut kemudian memberikan pengalaman lain tentang bagaimana hubungan antarbangsa dapat dibangun melalui perjumpaan yang lebih dekat dan suasana yang lebih terbuka.

Ketika Meja Makan Menjadi Ruang Perjumpaan
Gala dinner tidak hanya menjadi jamuan bagi para peserta konferensi. Pertemuan tersebut berkembang menjadi ruang untuk saling mengenal, bertukar pandangan dan membangun komunikasi antara tokoh-tokoh yang datang dari latar belakang negara serta tradisi pemikiran yang berbeda. Suasana informal semacam ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk berbicara lebih luas mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dunia Islam sekaligus mencari kemungkinan kerja sama di masa mendatang.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun hubungan antarbangsa tidak selalu harus dimulai melalui forum resmi. Hubungan dapat tumbuh dari percakapan sederhana, pertemuan antarmanusia dan kesempatan untuk memahami pengalaman satu sama lain. Dari ruang semacam inilah kepercayaan dapat dibangun secara perlahan hingga kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih luas.
Pesan mengenai persatuan menjadi salah satu tema yang terasa dalam pertemuan tersebut. Perbedaan mazhab, tradisi keagamaan, latar belakang sosial dan kepentingan masing-masing negara tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru karena dunia Islam memiliki keragaman yang sangat luas, diperlukan ruang perjumpaan yang memungkinkan setiap pihak memahami perbedaan tanpa menjadikannya sebagai sumber permusuhan.
Persatuan Tidak Berarti Keseragaman
Dunia Islam terdiri atas banyak bangsa dengan sejarah dan pengalaman yang berbeda. Setiap negara memiliki karakter masyarakat, tradisi keagamaan dan pengalaman sejarahnya masing-masing. Karena itu, persatuan tidak dapat dimaknai sebagai keharusan untuk membuat seluruh umat menjadi seragam dalam segala hal.
Persatuan justru membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik temu di tengah perbedaan. Perbedaan dapat tetap ada, tetapi hubungan antarmanusia tidak boleh berhenti karena perbedaan tersebut. Dalam konteks inilah dialog menjadi penting karena dialog memberikan ruang bagi setiap pihak untuk mendengar, memahami dan menemukan kepentingan bersama.
Pengalaman Sekolah Negarawan selama berada di Iran memperlihatkan bahwa gagasan tersebut tidak hanya dibicarakan dalam ruang konferensi. Delegasi juga melihat bagaimana perjumpaan akademik, kebudayaan dan kelembagaan dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan yang lebih luas. Dari universitas hingga lembaga keagamaan, dari pusat teknologi hingga forum internasional, setiap pertemuan memberikan pengalaman berbeda mengenai cara membangun hubungan dengan masyarakat dan bangsa lain.
Araghchi dan Hubungan Iran dengan Negara Muslim
Kehadiran Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi memberikan dimensi tersendiri dalam gala dinner tersebut. Dalam pemaparannya, Araghchi berbicara mengenai hubungan Iran dengan berbagai negara Muslim serta pentingnya memperkuat hubungan antara negara-negara yang memiliki kedekatan sejarah dan kebudayaan. Pembicaraan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya berkaitan dengan urusan pemerintahan, tetapi juga dapat diperkuat melalui hubungan masyarakat, pendidikan dan pertukaran pengetahuan.
Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian dalam pembicaraan tersebut. Araghchi menyebut Indonesia sebagai negara yang dekat dan bersahabat dengan Iran serta menyampaikan keinginan untuk memperluas kerja sama ekonomi. Bagi delegasi Sekolah Negarawan, perhatian tersebut menjadi catatan penting karena hubungan Indonesia dan Iran masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui berbagai bidang.
Hubungan kedua negara dapat diperkuat melalui pendidikan, penelitian, kebudayaan, teknologi dan pertukaran gagasan. Kerja sama semacam itu juga dapat memberikan manfaat yang lebih luas karena mempertemukan masyarakat dari dua negara secara langsung. Ketika hubungan dibangun melalui pengetahuan dan pengalaman bersama, hubungan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh dan tidak hanya bergantung pada pertemuan resmi antarpejabat.
Diplomasi yang Tumbuh dari Perjumpaan
Pengalaman di Teheran memberikan pelajaran bahwa diplomasi memiliki banyak bentuk. Ada pertemuan resmi yang berlangsung dalam ruang pemerintahan, tetapi ada pula hubungan yang tumbuh melalui forum akademik, kebudayaan, pertemuan keagamaan dan percakapan antarmanusia. Setiap bentuk perjumpaan tersebut memiliki peran dalam membangun pemahaman dan kepercayaan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memiliki kaitan erat dengan pendidikan kepemimpinan. Seorang calon pemimpin perlu memahami bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui dokumen dan kesepakatan, tetapi juga melalui kemampuan memahami manusia yang berada di balik sebuah negara. Pemimpin yang memiliki wawasan internasional perlu mampu mendengar pengalaman bangsa lain sekaligus membawa pengalaman bangsanya sendiri dalam ruang dialog.
Karena itu, gala dinner di Teheran dapat dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih luas. Delegasi Sekolah Negarawan tidak hanya menyaksikan pertemuan antara tokoh-tokoh dari berbagai negara, tetapi juga melihat bagaimana komunikasi dapat membuka ruang bagi kerja sama. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa hubungan yang kuat sering kali berawal dari sesuatu yang sederhana, yaitu kesediaan untuk duduk bersama dan berbicara.
Dari Teheran, Membangun Jembatan Indonesia-Iran
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa hubungan dengan bangsa lain perlu terus diperluas melalui berbagai jalur. Hubungan Indonesia dan Iran tidak harus berhenti pada hubungan antarlembaga pemerintahan. Dunia pendidikan, universitas, pusat penelitian, lembaga kebudayaan, komunitas intelektual dan generasi muda juga dapat mengambil peran dalam membangun jembatan antara kedua negara.
Sekolah Negarawan sendiri selama berada di Iran telah melakukan berbagai pertemuan dengan lembaga pendidikan, institusi keagamaan, pusat teknologi dan akademisi. Rangkaian perjumpaan tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama antarbangsa dapat dibangun melalui banyak pintu. Setiap pintu memberikan kemungkinan baru untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan penelitian, memperluas jejaring dan menciptakan kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari sebuah gala dinner di Teheran, Sekolah Negarawan mendapatkan satu pelajaran sederhana tetapi penting. Persatuan dan hubungan antarbangsa tidak selalu dimulai dari ruang besar dengan agenda yang rumit, tetapi dapat tumbuh dari kesediaan manusia untuk duduk bersama, saling mengenal dan membuka percakapan. Dari meja makan itulah sebuah jembatan dapat mulai dibangun, dari Teheran menuju Indonesia dan dari perjumpaan antarmanusia menuju kerja sama yang lebih luas.