muslimx.id — Di tengah miliaran manusia yang hidup di muka bumi, ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya tidak mudah dijawab: siapakah kita? Pertanyaan tersebut membawa manusia untuk melihat dirinya bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian kecil dari perjalanan panjang umat manusia yang terus berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam rangkaian Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran, pertanyaan semacam ini menjadi sebuah refleksi tentang arti kehidupan, kepemimpinan, dan jejak yang ditinggalkan manusia.
Delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf turut mengikuti rangkaian forum tersebut. Di tengah pertemuan yang membicarakan persatuan umat Islam, muncul ruang untuk merenungkan persoalan yang jauh lebih mendasar tentang posisi manusia dalam sejarah. Sebab sebelum berbicara tentang bagaimana membangun masyarakat dan peradaban, manusia terlebih dahulu perlu memahami untuk apa dirinya hidup.
Siapa Kita di Tengah Miliaran Manusia?
Pertanyaan itu dapat dimulai dari lingkaran yang paling dekat. Siapa saya di antara orang-orang yang hidup bersama saya, di antara keluarga, sahabat, tetangga, dan masyarakat di sekitar saya? Ketika lingkaran itu diperbesar, pertanyaannya menjadi semakin dalam: siapa saya di antara jutaan manusia dalam sebuah kota, puluhan juta manusia dalam sebuah negara, hingga miliaran manusia yang menghuni bumi?
Kemudian manusia dapat memperluas pertanyaan itu ke dalam dimensi waktu. Berapa lama kita hidup, berapa banyak manusia yang telah lahir sebelum kita, dan berapa banyak pula yang telah meninggalkan dunia? Dalam perjalanan sejarah Islam selama lebih dari seribu tahun, manusia datang dan pergi dalam jumlah yang tidak terhitung, membawa rumah, keluarga, pekerjaan, cita-cita, kegembiraan, ketakutan, dan harapan masing-masing.
Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menghapus sebagian besar nama dari ingatan manusia. Mereka pernah menjalani kehidupan dengan penuh kesibukan, pernah merasa bahwa persoalan hidup mereka sangat penting, tetapi setelah beberapa generasi berlalu, hampir tidak ada lagi yang mengingat siapa mereka. Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih mendalam tentang apa yang sebenarnya membuat sebuah kehidupan memiliki arti.
Ketika Nama Hilang, Tetapi Nilai Tetap Hidup
Sejarah memperlihatkan bahwa tidak semua manusia meninggalkan jejak yang sama. Ada yang hidup puluhan tahun dan kemudian hampir seluruh kisah hidupnya menghilang bersama perjalanan waktu. Namun ada pula manusia yang kehidupannya terus memberikan pengaruh jauh setelah dirinya meninggalkan dunia.
Dalam perspektif Islam, Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu contoh paling kuat. Kehidupan beliau berlangsung pada sebuah zaman tertentu, tetapi risalah, keteladanan, dan nilai yang beliau bawa terus hidup melampaui batas tempat dan waktu. Lebih dari empat belas abad kemudian, kehidupan beliau masih menjadi sumber ilmu, teladan, dan pedoman bagi manusia di berbagai belahan dunia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa panjang usia bukan satu-satunya ukuran keberadaan manusia. Ada kehidupan yang mungkin secara biologis tidak terlalu panjang, tetapi meninggalkan nilai yang hidup selama berabad-abad. Sebaliknya, ada kehidupan yang panjang secara usia, tetapi meninggalkan pengaruh yang sangat terbatas karena seluruh orientasinya hanya berhenti pada kepentingan diri sendiri.
Kepemimpinan Bukan Sekadar Tentang Jabatan
Bagi Sekolah Negarawan, refleksi semacam ini memiliki hubungan erat dengan pendidikan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya perlu bertanya berapa lama dirinya akan memegang jabatan, tetapi juga apa yang akan tersisa setelah masa kepemimpinannya berakhir. Sebab jabatan memiliki batas, kekuasaan dapat berganti, dan generasi akan terus datang silih berganti.
Yang dapat bertahan lebih lama adalah nilai, gagasan, ilmu, dan keteladanan. Seorang pemimpin mungkin suatu hari tidak lagi disebut dalam pemberitaan, tidak lagi berada di sebuah ruangan kekuasaan, dan tidak lagi memiliki posisi yang dahulu membuat banyak orang memperhatikannya. Namun apabila selama memimpin ia mampu membangun manusia, memperbaiki kehidupan masyarakat, dan menanamkan nilai kebaikan, jejak tersebut dapat terus bekerja jauh setelah dirinya pergi.
Karena itu, pendidikan seorang negarawan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mencapai posisi. Pendidikan kepemimpinan harus membawa seseorang pada kesadaran bahwa semakin besar amanah yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Dari “Siapa Saya” Menjadi “Apa yang Saya Tinggalkan”
Pertanyaan “siapakah saya?” pada akhirnya akan membawa manusia kepada pertanyaan yang lebih penting: apa arti keberadaan saya bagi orang lain? Pertanyaan ini menggeser pusat kehidupan dari sekadar mengejar keberhasilan pribadi menuju kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab sosial dan moral terhadap kehidupan di sekitarnya.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan bukan sesuatu yang berjalan tanpa tujuan. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab di bumi. Karena itu, makna kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dikumpulkan, seberapa tinggi kedudukan yang dicapai, atau seberapa lama nama seseorang dikenal.
Makna kehidupan justru semakin dalam ketika keberadaan manusia mampu menjadi jalan bagi hadirnya kebaikan. Ilmu yang dibagikan, manusia yang dibimbing, keadilan yang diperjuangkan, dan kemaslahatan yang dibangun dapat menjadi bagian dari jejak yang terus hidup. Dalam konteks inilah kehidupan tidak berhenti pada usia biologis, tetapi menemukan makna melalui manfaat yang ditinggalkan.
Dari Teheran, Sebuah Renungan untuk Indonesia
Konferensi Persatuan Islam di Teheran pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan hubungan antarkelompok dan masa depan umat. Ia juga dapat dibaca sebagai ruang untuk kembali bertanya tentang manusia, tentang tujuan hidup, dan tentang warisan apa yang hendak ditinggalkan kepada generasi sesudah kita. Persatuan menjadi lebih bermakna ketika manusia yang terlibat di dalamnya memiliki kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Bagi generasi pemimpin Indonesia, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Bangsa ini membutuhkan manusia yang tidak hanya ingin memperoleh tempat dalam sejarah, tetapi bersedia bekerja agar generasi setelahnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Pemimpin yang demikian tidak sibuk menghitung berapa lama dirinya dikenang, karena ia memahami bahwa tugas manusia bukan mengejar keabadian nama, melainkan menghadirkan sebanyak mungkin kebaikan selama diberi kesempatan untuk hidup.
Pada akhirnya, manusia tidak dapat memilih berapa lama ia akan berada di dunia. Namun manusia dapat memilih untuk apa waktunya digunakan dan jejak seperti apa yang hendak ditinggalkan. Mungkin kita hanyalah satu dari miliaran manusia yang pernah hidup di muka bumi, tetapi kehidupan yang diarahkan kepada pengabdian, ilmu, kebenaran, kemanusiaan, dan nilai-nilai Ilahi dapat meninggalkan cahaya bagi mereka yang datang setelah kita.