Dari Teheran, Sekolah Negarawan Membaca Kekuatan Sinema sebagai Diplomasi Budaya

muslimX
By muslimX
7 Min Read

muslimx.id Diplomasi antarbangsa tidak selalu berlangsung di ruang pertemuan resmi, di balik meja perundingan, atau melalui dokumen kerja sama. Dalam banyak keadaan, hubungan antarmanusia justru tumbuh melalui sesuatu yang lebih sederhana, yaitu cerita yang mampu menyentuh hati. Film, musik, sastra dan seni dapat menjadi bahasa yang mempertemukan manusia ketika perbedaan bahasa, budaya dan latar belakang terasa begitu jauh.

Pelajaran tersebut terlihat ketika delegasi Sekolah Negarawan menghadiri acara Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall, Teheran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Dalam acara yang memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ itu, sutradara Iran Majid Majidi membagikan perjalanan panjangnya membuat film tentang Rasulullah ﷺ. Kisah tersebut bukan hanya tentang proses produksi sebuah film, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya budaya dapat bergerak melampaui batas negara dan menjadi ruang perjumpaan antarbangsa.

Ketika Sebuah Film Berawal dari Sebuah Pertanyaan

Majidi mengisahkan bahwa perjalanan tersebut bermula dari sebuah pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran. Dalam pertemuan itu, pembicaraan kemudian mengarah pada kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dan sebuah pertanyaan penting tentang bagaimana sosok Rasulullah ﷺ dapat diperkenalkan melalui medium sinema kepada masyarakat dunia. Dari gagasan tersebut lahirlah sebuah pekerjaan besar yang menuntut penelitian, perenungan dan proses kreatif yang panjang.

Majidi tidak melihat tugas tersebut sebagai pekerjaan membuat film biasa. Menghadirkan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ ke dalam layar menuntut kehati-hatian karena yang hendak disampaikan bukan sekadar rangkaian peristiwa sejarah. Ada nilai tentang rahmat, keadilan, kemanusiaan dan keteladanan yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa sinema tanpa kehilangan kedalaman pesannya.

Tujuh Tahun Membuat Film, Bertahun-Tahun Memperkenalkannya

Proses pembuatan film tersebut berlangsung sekitar tujuh tahun. Waktu sepanjang itu menunjukkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari proses yang cepat, tetapi dari kesediaan untuk melakukan penelitian dan memahami pesan yang hendak disampaikan. Bagi Majidi, perjalanan memahami kehidupan Nabi Muhammad ﷺ menjadi bagian penting sebelum cerita tersebut diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Namun perjalanan tidak berhenti ketika film selesai. Sekitar tiga hingga empat tahun berikutnya digunakan Majidi untuk memperkenalkan film tersebut kepada masyarakat internasional, mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan beragam kalangan. Ia bertemu dengan ulama, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai kelompok yang memiliki latar belakang berbeda.

Di titik inilah sebuah karya seni mulai menjalankan fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Film tersebut menjadi sarana perjumpaan, percakapan dan pengenalan terhadap nilai yang hendak disampaikan. Sebuah karya budaya akhirnya dapat membuka pintu yang mungkin sulit dibuka hanya melalui pernyataan resmi.

Sinema Tidak Mengenal Batas Geografis

Film tidak membawa paspor. Sebuah karya dapat meninggalkan ruang tempat ia dibuat dan berjalan menuju masyarakat yang bahkan memiliki bahasa, tradisi dan pengalaman sejarah yang berbeda.

Majidi merasakan sendiri bagaimana film tentang Nabi Muhammad ﷺ dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Respons positif dari sejumlah tokoh agama dan masyarakat Arab menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pesan kemanusiaan dapat menemukan jalannya ketika disampaikan melalui medium yang mampu membangun kedekatan emosional.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting tentang hubungan antarbangsa. Sebuah negara tidak hanya dikenal melalui kebijakan pemerintahnya, kekuatan ekonominya atau kemampuan teknologinya. Sebuah bangsa juga dikenali melalui cerita yang dibagikannya kepada dunia.

Ketika Karya Seni Menjadi Ruang Dialog

Majidi tidak datang sebagai seorang diplomat. Namun perjalanan sebuah film membuatnya bertemu dengan berbagai kalangan dari banyak negara. Karya seni yang ia bawa akhirnya mempertemukannya dengan orang-orang yang mungkin tidak akan pernah berada dalam satu ruang jika tidak ada karya tersebut.

Di sinilah kekuatan diplomasi budaya terlihat. Film dapat menjadi ruang dialog tanpa harus memulai percakapan dari perbedaan. Penonton terlebih dahulu diajak memasuki sebuah cerita, memahami karakter, merasakan emosi dan melihat nilai yang ingin disampaikan.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut sejalan dengan pembelajaran tentang kepemimpinan dan hubungan antarbangsa. Pengaruh sebuah bangsa tidak selalu dibangun melalui kekuatan yang terlihat, tetapi juga melalui kemampuan menghadirkan gagasan, nilai dan kebudayaan yang dapat dipahami masyarakat dunia.

Melawan Islamofobia dengan Narasi Rahmat

Majidi juga menghubungkan perjalanan film tersebut dengan tantangan Islamofobia. Menurut pengalaman yang ia bagikan, dunia membutuhkan gambaran yang lebih utuh tentang Islam karena pemahaman yang tidak lengkap dapat melahirkan prasangka dan kesalahpahaman.

Islam dapat diperkenalkan melalui pesan tentang rahmat, keadilan, kesetaraan, martabat manusia dan kemanusiaan. Ketika nilai-nilai tersebut hadir dalam sebuah cerita yang kuat, masyarakat yang sebelumnya tidak pernah membaca buku keislaman atau mengikuti kajian agama pun dapat memiliki kesempatan untuk mengenalnya.

Di sinilah sinema memiliki posisi yang penting. Sebuah film dapat menjadi pintu pertama bagi seseorang untuk mengenal sejarah, budaya dan nilai sebuah peradaban. Ketika pintu itu terbuka, dialog menjadi mungkin dan prasangka dapat perlahan digantikan oleh pemahaman.

Diplomasi Budaya Membutuhkan Kesabaran

Kisah Majidi juga mengajarkan bahwa diplomasi budaya tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Tujuh tahun digunakan untuk membuat film, kemudian tiga hingga empat tahun berikutnya digunakan untuk memperkenalkannya kepada dunia. Ada kesabaran panjang di balik sebuah karya yang pada akhirnya mampu melampaui batas geografis.

Pelajaran tersebut penting bagi Indonesia. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kemampuan sebuah bangsa untuk menceritakan dirinya sendiri menjadi bagian dari kekuatan nasional. Indonesia memiliki sejarah, kebudayaan, tradisi dan nilai keagamaan yang sangat kaya, tetapi semua itu membutuhkan narasi yang mampu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat dunia.

Dari Vahdat Hall, Sekolah Negarawan dapat melihat bahwa diplomasi tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di meja pertemuan. Diplomasi juga dapat hadir melalui seorang seniman, sebuah film dan sebuah cerita yang membuat manusia dari berbagai tempat merasa memiliki ruang untuk saling memahami.

Majid Majidi memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi jembatan. Ia dapat membawa sebuah pesan dari satu negeri menuju negeri lain, dari satu kebudayaan menuju kebudayaan lain dan dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada kemampuannya membangun sesuatu, tetapi juga pada kemampuannya menjelaskan kepada dunia nilai apa yang sedang diperjuangkannya dan kemanusiaan seperti apa yang ingin diwariskannya. Dari perjalanan panjang Majidi, Sekolah Negarawan menyimak satu pelajaran sederhana namun penting: terkadang sebuah kamera mampu membuka pintu dialog yang tidak dapat dibuka oleh kata-kata.

Share This Article