muslimx.id — Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah film. Namun bagi sutradara Iran Majid Majidi, tujuh tahun justru menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memahami kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dan mencari cara bagaimana sosok Rasulullah dapat dihadirkan melalui bahasa sinema tanpa kehilangan kedalaman pesan yang dibawanya.
Kisah perjalanan tersebut disampaikan Majidi ketika hadir sebagai pembicara dalam acara Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall, Teheran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan diikuti peserta dari berbagai negara, termasuk delegasi Sekolah Negarawan dari Indonesia.
Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir dalam acara tersebut terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf. Di tengah forum yang membicarakan Rasulullah ﷺ melalui perspektif rahmat, kisah Majidi menjadi refleksi tentang bagaimana seni dapat menjadi jalan untuk mengenalkan nilai Islam kepada masyarakat dunia.
Sebuah Pertemuan yang Mengubah Perjalanan
Majidi mengawali kisahnya dari sebuah pertemuan yang kemudian mengubah perjalanan kreatifnya. Pada tahun 1386 kalender Iran, ia menerima telepon dari kantor Pemimpin Tertinggi Iran untuk menghadiri sebuah pertemuan yang berlangsung di kediaman pribadi Pemimpin Tertinggi.
Pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi Majidi karena sebelumnya ia belum pernah mendapatkan kesempatan untuk bertemu secara langsung. Dalam pertemuan itu, pembicaraan kemudian mengarah kepada sebuah pertanyaan tentang bagaimana kehidupan para tokoh agama dan nabi telah banyak diangkat ke dalam karya sinema, sementara kehidupan Nabi Muhammad ﷺ relatif sangat sedikit dihadirkan melalui film besar.
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak hanya berkaitan dengan produksi sebuah film. Majidi diminta mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ dan mempertimbangkan kemungkinan untuk mengangkatnya ke dalam sebuah karya sinema. Dari sinilah sebuah proyek besar mulai tumbuh menjadi perjalanan intelektual dan spiritual yang berlangsung bertahun-tahun.
Bagaimana Menghadirkan Nabi Muhammad ﷺ melalui Sinema?
Majidi menyadari sejak awal bahwa tugas tersebut bukan pekerjaan sederhana. Bagaimana menggambarkan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ? Bagaimana menerjemahkan sejarah beliau ke dalam bahasa film? Dan bagaimana menghadirkan pesan Islam melalui sinema tanpa mengurangi kedalaman spiritual dari kehidupan Rasulullah ﷺ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan penelitian yang panjang. Majidi harus berhadapan dengan sejarah, berbagai sumber, konteks masyarakat Arab pada masa Rasulullah ﷺ, serta tantangan bagaimana sebuah kehidupan yang sangat mulia diterjemahkan menjadi sebuah karya visual.
Gagasan tersebut kemudian semakin tertanam dalam dirinya. Majidi tidak lagi melihat proyek tersebut sekadar sebagai pekerjaan seorang sutradara, tetapi sebagai perjalanan untuk memahami salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Karena itu, proses kreatifnya berkembang menjadi proses pencarian yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesungguhan.
Tujuh Tahun untuk Sebuah Perjalanan
Sekitar tujuh tahun dihabiskan Majidi dalam proses pembuatan film tersebut. Waktu yang panjang itu menunjukkan bahwa sebuah karya yang membawa tema besar tidak selalu dapat lahir melalui proses yang singkat. Ada penelitian, perenungan, pencarian bentuk visual, serta usaha memahami pesan yang hendak disampaikan kepada penonton.
Namun perjalanan Majidi tidak berhenti ketika film selesai diproduksi. Ia kemudian menghabiskan sekitar tiga hingga empat tahun untuk memperkenalkan karya tersebut ke berbagai negara, melakukan perjalanan, bertemu dengan berbagai kalangan, dan berusaha membuka ruang agar film tersebut dapat disaksikan oleh masyarakat yang lebih luas.
Pada tahap tersebut, Majidi bukan lagi hanya seorang sutradara. Ia menjadi seseorang yang membawa sebuah karya dari satu tempat ke tempat lain dengan harapan masyarakat dunia dapat melihat Nabi Muhammad ﷺ melalui perspektif yang berbeda. Film menjadi jembatan untuk mempertemukan masyarakat dengan kisah tentang rahmat, kemanusiaan, dan kehidupan Rasulullah ﷺ.
Ketika Rahmat Menembus Batas
Respons yang diterima dalam perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari pengalaman Majidi. Ia menemukan bahwa pesan tentang rahmat dan kemanusiaan dapat diterima oleh masyarakat dari latar belakang yang berbeda.
Sejumlah ulama dari negara-negara Arab juga memberikan tanggapan positif setelah menyaksikan film tersebut. Bagi Majidi, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya seni yang membawa pesan kemanusiaan dapat melampaui batas geografis dan identitas ketika pesan yang disampaikannya menyentuh kebutuhan dasar manusia.
Di sinilah gagasan Riwayat-e Rahmat menemukan relevansinya. Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya dikenang sebagai sosok dalam sejarah, tetapi sebagai pembawa risalah yang menghadirkan rahmat bagi kehidupan manusia. Ketika nilai tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa seni dengan kesungguhan, ia dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Islam kepada mereka yang mungkin sebelumnya mengenalnya melalui gambaran yang tidak utuh.
Menjawab Islamofobia dengan Narasi Rahmat
Bagi Majidi, film tentang Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar upaya untuk menceritakan kembali masa lalu. Karya tersebut juga memiliki hubungan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat dunia pada masa sekarang, terutama ketika Islam kerap dipahami melalui gambaran yang sempit dan tidak lengkap.
Islamofobia dapat tumbuh ketika masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Islam secara lebih utuh. Karena itu, menghadirkan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ melalui kisah tentang rahmat, keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan menjadi salah satu cara untuk membuka ruang pemahaman yang lebih luas.
Pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah dunia yang semakin terhubung tetapi tidak selalu semakin memahami satu sama lain. Teknologi membuat manusia dapat melihat berbagai peristiwa dari tempat yang jauh dalam hitungan detik, tetapi kedekatan informasi tidak selalu menghasilkan kedalaman pemahaman. Dalam situasi seperti itu, seni dapat mengambil peran dengan menghadirkan manusia, nilai, dan kisah melalui pendekatan yang lebih dekat dengan perasaan.
Ketika Seni Menjadi Jalan Mengenalkan Rasulullah ﷺ
Kisah tujuh tahun perjalanan Majid Majidi akhirnya menjadi salah satu cerita menarik dalam Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall. Ia memperlihatkan bahwa sebuah karya seni besar terkadang tidak lahir hanya dari kemampuan teknis seorang seniman, tetapi dari perjalanan panjang untuk memahami nilai yang hendak disampaikan.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut juga menjadi pelajaran bahwa pendidikan tentang kepemimpinan dan peradaban dapat berlangsung melalui banyak jalan. Buku, ruang kelas, penelitian, forum internasional, hingga karya seni dapat menjadi medium untuk mengenalkan nilai kepada generasi yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana nilai tersebut disampaikan dengan kesungguhan dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, perjalanan Majid Majidi selama bertahun-tahun dapat dibaca sebagai sebuah pencarian untuk menghadirkan kembali pesan rahmat Nabi Muhammad ﷺ kepada dunia melalui bahasa yang dapat dipahami manusia modern. Tujuh tahun menjadi waktu untuk membuat sebuah film, tetapi perjalanan setelahnya menunjukkan bahwa memperkenalkan sebuah nilai kepada dunia membutuhkan kesabaran yang jauh lebih panjang.
Dari Teheran, kisah tersebut meninggalkan satu renungan bahwa mengenalkan Nabi Muhammad ﷺ kepada dunia bukan hanya tentang menghadirkan sosok beliau di layar. Lebih jauh, ia adalah usaha untuk menghadirkan kembali pesan rahmat, kemanusiaan, keadilan, dan keteladanan yang menjadi bagian penting dari risalah beliau ke dalam kehidupan manusia hari ini.