muslimx.id — Toleransi perbedaan sosial sebenarnya diuji dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Salah satunya adalah hubungan dengan tetangga. Seseorang mungkin tidak pernah memilih siapa yang tinggal di sebelah rumahnya. Ia bisa memiliki tetangga dengan kebiasaan berbeda, latar belakang berbeda, tingkat ekonomi berbeda, bahkan cara hidup yang sama sekali tidak sama dengan dirinya.
Dahulu, perbedaan semacam itu merupakan bagian biasa dari kehidupan lingkungan. Orang tidak harus memiliki selera yang sama untuk saling menyapa. Tidak harus memiliki gaya hidup yang sama untuk saling membantu. Tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk ikut gotong royong. Namun perlahan, kehidupan sosial mulai berubah. Orang semakin nyaman hidup dalam lingkaran yang serupa, sementara mereka yang berbeda semakin mudah dianggap sebagai orang luar.
Tetangga Tidak Harus Menjadi Seperti Kita
Persoalan bertetangga seringkali dimulai dari hal sederhana. Ada tetangga yang terlalu ramai, ada yang lebih pendiam, yang senang berkumpul, yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah.yang memiliki gaya hidup sederhana, sementara yang lain terlihat lebih berkecukupan. Ada pula perbedaan dalam cara mendidik anak, memilih makanan, menggunakan kendaraan, hingga mengatur kehidupan keluarga.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan. Banyak diantaranya hanya menunjukkan bahwa manusia memiliki karakter dan pilihan yang berbeda. Namun ketika ukuran kenyamanan kita digunakan untuk menilai seluruh lingkungan, orang lain akan selalu terlihat salah hanya karena tidak hidup seperti kita.
Di sinilah toleransi menjadi penting. Hidup bertetangga tidak berarti harus menyukai semua kebiasaan orang lain. Toleransi berarti memahami batas antara sesuatu yang benar-benar mengganggu kehidupan bersama dengan sesuatu yang sekadar berbeda dari kebiasaan pribadi.
Masyarakat akan sulit hidup rukun jika setiap perbedaan kecil selalu diperlakukan sebagai persoalan besar.
Islam Menempatkan Tetangga dalam Kedudukan Penting
Islam memberikan perhatian yang besar terhadap hubungan dengan tetangga. Al-Qur’an dalam QS An-Nisa ayat 36 memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan juga tetangga dekat maupun tetangga jauh.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan dengan tetangga bukan sekadar hubungan sosial biasa. Ada tanggung jawab moral di dalamnya. Seorang Muslim tidak cukup hanya menjaga ibadah pribadi, tetapi juga dituntut memperhatikan bagaimana kehadirannya memberikan rasa aman dan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.
Rasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap hak tetangga. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, beliau menyampaikan bahwa Jibril terus-menerus berwasiat tentang tetangga hingga beliau mengira tetangga akan mendapatkan bagian warisan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis. Tetangga tidak harus menjadi sahabat dekat. Tetapi keberadaan mereka tetap perlu dihormati. Perbedaan tidak seharusnya menghapus kepedulian.
Partai X Ketika Lingkungan Kehilangan Rasa Saling Mengenal
Rinto Setiyawan, anggota majelis tinggi Partai X, melihat bahwa perubahan hubungan bertetangga merupakan salah satu tanda semakin sempitnya ruang sosial masyarakat.
“Lingkungan yang sehat bukan lingkungan yang semua orang memiliki gaya hidup sama. Justru lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang mampu membuat orang berbeda tetap merasa aman untuk hidup berdampingan,” ujar Rinto.
Menurutnya, masyarakat perlu menghidupkan kembali kebiasaan sederhana yang membuat orang saling mengenal. Menyapa, berbicara ketika bertemu, membantu ketika ada kesulitan, dan hadir ketika tetangga membutuhkan merupakan bentuk hubungan sosial yang tidak membutuhkan biaya besar.
“Jangan sampai kita tinggal berdampingan selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal siapa yang hidup di sebelah kita,” katanya.
Kondisi semacam itu semakin mungkin terjadi ketika kehidupan masyarakat berubah menjadi sangat individual. Rumah memiliki pagar yang semakin tinggi, aktivitas banyak dilakukan melalui perangkat digital, dan interaksi langsung semakin berkurang. Akibatnya, orang dapat hidup sangat dekat secara geografis tetapi sangat jauh secara sosial.
Perbedaan Tidak Harus Menjadi Jarak
Ada kalanya perbedaan memang menimbulkan ketegangan. Kebiasaan seseorang dapat mengganggu kenyamanan tetangganya. Dalam situasi seperti ini, toleransi bukan berarti membiarkan semuanya. Kehidupan bersama tetap membutuhkan aturan, batas, dan kesediaan untuk saling menghormati.
Namun, persoalan yang perlu dihindari adalah ketika hal-hal yang sebenarnya dapat dibicarakan dengan baik justru berubah menjadi prasangka. Tetangga yang jarang menyapa dianggap sombong, yang memiliki kendaraan lebih baik dianggap pamer, yang memiliki kebiasaan berbeda dianggap tidak cocok dengan lingkungan.
Prasangka semacam itu dapat tumbuh ketika masyarakat kehilangan budaya berbicara secara langsung dan santun. Orang lebih mudah membuat kesimpulan tentang orang lain daripada mencoba memahami keadaan sebenarnya.
Padahal, bisa jadi seseorang yang terlihat berbeda sedang menghadapi persoalan yang tidak diketahui tetangganya. Bisa jadi ia pendiam bukan karena sombong. Bisa jadi ia tidak ikut berkumpul bukan karena tidak peduli. Kehidupan sosial membutuhkan kemampuan untuk tidak terburu-buru menghakimi.
Penutup: Gotong Royong dan Ruang Pertemuan
Salah satu cara paling sederhana untuk menjaga toleransi perbedaan sosial adalah menghidupkan kembali ruang pertemuan masyarakat. Gotong royong, kegiatan lingkungan, pertemuan warga, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, atau sekadar duduk berbincang dapat menciptakan kesempatan untuk saling mengenal.
Ketika orang saling mengenal, banyak prasangka dapat berkurang. Perbedaan yang sebelumnya terlihat besar menjadi lebih mudah dipahami karena manusia mulai melihat manusia lain bukan sekadar dari penampilannya.
Inilah yang sering hilang dalam masyarakat modern. Kita memiliki banyak sarana untuk berkomunikasi, tetapi belum tentu memiliki banyak kesempatan untuk benar-benar mengenal orang lain. Media sosial membuat kita dapat mengetahui kehidupan orang yang sangat jauh, sementara kehidupan tetangga sendiri kadang tidak kita ketahui.
Islam justru mengajarkan pentingnya menjaga hubungan sosial. Kebaikan kepada tetangga tidak membutuhkan kesamaan. Ia membutuhkan kepedulian.