muslimx.id — Sebuah perpustakaan ternyata dapat menjadi lebih dari sekadar tempat menyimpan dan membaca buku. Di Bibliothèque municipale de Lyon, Perancis, ruang publik dirancang untuk menjadi bagian dari kehidupan warga, tempat orang belajar, beristirahat, berinteraksi, sekaligus menemukan rasa aman di tengah kehidupan kota yang terus bergerak.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu perhatian Sekolah Negarawan ketika melakukan kunjungan studi ke perpustakaan di Lyon. Dipimpin Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan, kunjungan ini juga melibatkan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya. Tim turut didampingi Fachry, diaspora Indonesia di Lyon yang membantu membuka wawasan mengenai konteks sosial, budaya, dan kebijakan lokal.

Perpustakaan sebagai Ruang Kehidupan
Kunjungan tersebut tidak semata-mata melihat bagaimana sebuah perpustakaan mengelola koleksi buku. Lebih jauh, delegasi mencoba memahami bagaimana fasilitas publik dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem perkotaan yang hidup dan terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat.
Bibliothèque municipale de Lyon memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat digunakan oleh warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lanjut usia. Perpustakaan tidak berdiri sebagai fasilitas yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan berbagai lapisan warga menggunakan satu tempat untuk kebutuhan yang berbeda.
Di titik inilah tata ruang bertemu dengan kebijakan sosial. Sebuah bangunan publik tidak hanya dinilai dari kemegahan arsitektur atau kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari seberapa jauh ruang tersebut mampu menjawab kebutuhan manusia yang menggunakannya.
Ketika Perpustakaan Menjadi Ruang Aman
Salah satu pengalaman yang menarik perhatian delegasi adalah keberadaan tunawisma yang memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang aman pada siang hari. Mereka dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk beristirahat, belajar, dan menjalani aktivitas sehari-hari dalam lingkungan yang relatif tertib dan terbuka.
Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan sosial perkotaan tidak selalu harus dijawab dengan pendekatan yang memisahkan kelompok rentan dari ruang publik. Justru, fasilitas umum dapat dirancang sedemikian rupa agar tetap memberikan akses, martabat, dan kesempatan bagi mereka yang berada di pinggiran kehidupan kota.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan kota pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung, teknologi, dan konektivitas. Kota juga harus memiliki ruang yang membuat manusia merasa diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Teknologi Harus Memanusiakan Kota
Kehadiran Erick Karya dari Enygma Solusi Negeri memberikan perspektif tambahan dalam melihat kemungkinan penerapan pengalaman Lyon di Indonesia. Teknologi dapat membantu pemerintah mengelola fasilitas publik secara lebih terintegrasi, tetapi teknologi tidak boleh berhenti pada efisiensi sistem.
Kota pintar semestinya bukan hanya kota yang dipenuhi sensor, aplikasi, kamera, dan sistem digital. Kota pintar adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk membuat layanan publik lebih mudah diakses, ruang sosial lebih terbuka, dan kehidupan warga menjadi lebih manusiawi.
Karena itu, integrasi antara teknologi dan tata ruang menjadi penting. Sistem pengelolaan fasilitas publik dapat dikembangkan untuk membaca kebutuhan masyarakat, sementara desain ruang tetap mempertahankan pendekatan yang humanis. Keduanya dapat berjalan bersama untuk menciptakan kota yang modern tanpa kehilangan kepedulian sosial.
Pelajaran untuk Indonesia
Indonesia memiliki tantangan perkotaan yang jauh lebih kompleks. Pertumbuhan penduduk, kepadatan kota, kesenjangan akses terhadap fasilitas publik, serta keberadaan kelompok masyarakat yang hidup di ruang-ruang marginal membutuhkan pendekatan yang tidak semata-mata bersifat administratif.
Pengalaman Lyon memberikan satu pertanyaan penting: untuk siapa sebenarnya ruang publik dibangun? Jika ruang publik hanya nyaman bagi kelompok tertentu, maka pembangunan kota belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial.
Sebaliknya, ketika perpustakaan, taman, pusat komunitas, dan berbagai fasilitas kota dapat digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang, ruang publik dapat menjadi instrumen untuk memperkuat hubungan sosial. Di sana, masyarakat bukan hanya menjadi pengguna fasilitas, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan kota.
Dari Lyon Menuju Gagasan Kota Indonesia
Kunjungan Sekolah Negarawan ke Bibliothèque municipale de Lyon pada akhirnya bukan sekadar perjalanan melihat fasilitas publik di negara lain. Ada upaya untuk menemukan gagasan yang dapat diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan Indonesia, tanpa harus menyalin begitu saja model yang diterapkan di Perancis.
Gagasan tentang tata ruang terintegrasi perlu ditempatkan dalam konteks Indonesia yang memiliki karakter sosial, budaya, dan persoalan perkotaan yang berbeda. Karena itu, yang paling penting bukan meniru bentuk bangunannya, melainkan memahami cara berpikir di balik pengelolaan ruang tersebut.
Perpustakaan Lyon mengajarkan bahwa ruang publik yang baik bukan hanya ruang yang tertata, tetapi ruang yang mampu mempertemukan manusia. Ketika teknologi, tata kelola, dan kepedulian sosial berjalan bersama, sebuah fasilitas publik dapat berubah menjadi bagian penting dari ekosistem kota.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman ini menjadi bagian dari pencarian gagasan tentang bagaimana Indonesia dapat membangun kota yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara sosial. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa modern infrastrukturnya, melainkan seberapa jauh kota tersebut mampu menjaga martabat manusia yang hidup di dalamnya.