Kota Ramah Manusia: Membangun Kota yang Tidak Melupakan Anak-Anak dan Lansia

muslimX
By muslimX
9 Min Read

muslimx.id  — Kota ramah manusia seharusnya dapat dinikmati oleh semua kelompok usia, bukan hanya mereka yang kuat berjalan, memiliki kendaraan, aktif bekerja, dan mampu mengikuti ritme kehidupan perkotaan yang semakin cepat. Di balik pembangunan jalan, gedung, kawasan bisnis, dan pusat hiburan, ada kelompok masyarakat yang sering tidak menjadi pusat perhatian: anak-anak dan lansia.

Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain, bergerak, belajar, dan mengenal lingkungan. Sementara lansia membutuhkan kota yang aman, mudah diakses, tidak melelahkan, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial. Keduanya memiliki kebutuhan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu hal: kota harus memberi ruang bagi manusia untuk hidup sesuai tahap kehidupannya.

Kota yang hanya dirancang untuk orang dewasa yang produktif akan kehilangan sebagian wajah kemanusiaannya. Sebab manusia tidak selamanya muda, tidak selamanya kuat, dan tidak selamanya mampu bergerak dengan kecepatan yang sama.

Kota Jangan Hanya Dirancang untuk Mereka yang Produktif

Pembangunan perkotaan seringkali sangat dekat dengan kebutuhan ekonomi. Kawasan bisnis dibangun untuk pekerja, transportasi dirancang untuk mobilitas, pusat perdagangan dibuat untuk konsumen, sementara ruang publik sering diposisikan sebagai pelengkap.

Cara pandang tersebut membuat kota secara tidak langsung lebih berpihak kepada manusia yang sedang berada dalam usia produktif. Mereka yang bekerja, berkendara, berbelanja, dan memiliki kemampuan ekonomi lebih besar menjadi kelompok yang paling mudah diperhitungkan dalam perencanaan.

Padahal kehidupan manusia jauh lebih luas. Seorang anak belum memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri kemana ia harus pergi. Seorang lansia mungkin tidak lagi memiliki kekuatan fisik seperti ketika muda. Karena itu, kualitas kota justru dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Kota yang baik bukan hanya kota yang memudahkan orang bergerak cepat. Ia juga harus mampu membuat mereka yang bergerak lebih lambat tetap merasa aman.

Anak Membutuhkan Kota untuk Tumbuh

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka mengenal dunia di luar rumah. Bermain di taman, berjalan bersama orang tua, bersepeda, bertemu anak-anak lain, dan menikmati ruang terbuka merupakan bagian dari proses pertumbuhan.

Namun ruang kehidupan anak semakin sering menyempit. Kawasan permukiman berkembang tanpa ruang bermain yang memadai. Jalan yang ramai kendaraan membuat orang tua khawatir membiarkan anak bermain di luar. Ruang terbuka berubah fungsi menjadi kawasan komersial atau parkir.

Akibatnya, anak semakin banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dan di depan layar. Teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi perkembangan anak tetap membutuhkan pengalaman fisik dan sosial secara langsung.

Karena itu, membangun kota ramah manusia berarti juga membangun kota yang ramah anak. Kota harus memiliki ruang yang memungkinkan anak bergerak, bermain, berinteraksi, dan belajar mengenal lingkungan secara aman.

Lansia Bukan Beban dalam Kehidupan Kota

Hal serupa berlaku bagi kelompok lanjut usia. Ketika seseorang memasuki usia tua, kemampuan fisik secara alami berubah. Jarak yang dahulu terasa dekat mungkin menjadi lebih melelahkan. Tangga yang dulu mudah dinaiki bisa menjadi hambatan. Trotoar yang tidak rata dapat menjadi risiko.

Persoalannya, banyak fasilitas kota masih dirancang dengan asumsi bahwa semua orang memiliki kemampuan fisik yang sama. Akibatnya, lansia dapat semakin terbatas dalam menjalani kehidupan di ruang publik.

Padahal lansia bukan kelompok yang harus disingkirkan dari kehidupan kota. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki pengalaman, pengetahuan, sejarah keluarga, dan kontribusi sosial. Kota yang baik seharusnya memungkinkan mereka tetap bertemu dengan masyarakat, berolahraga, beribadah, berbelanja, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman.

Perhatian kepada lansia pada akhirnya bukan hanya tentang menyediakan fasilitas khusus. Ia merupakan bentuk penghormatan kepada manusia pada setiap tahap kehidupannya.

Islam Mengajarkan Penghormatan kepada yang Lebih Tua

Islam memiliki perhatian yang kuat terhadap hubungan antargenerasi. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, terutama ketika mereka memasuki usia lanjut.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 23:

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya.”

Ayat tersebut memang berbicara mengenai hubungan anak dengan orang tua, tetapi di dalamnya terdapat nilai penghormatan terhadap manusia yang telah memasuki usia lanjut. Nilai tersebut relevan dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Masyarakat yang menghormati lansia tidak akan membangun lingkungan yang membuat mereka merasa tidak memiliki tempat. Sebaliknya, kota harus menyediakan ruang agar generasi tua tetap dapat hidup secara bermartabat.

Demikian pula terhadap anak-anak. Islam memberikan perhatian terhadap perlindungan, pendidikan, dan kasih sayang kepada mereka. Anak bukan sekadar generasi penerus dalam statistik kependudukan, tetapi amanah yang sedang tumbuh menjadi manusia dewasa.

Kota yang Ramah Anak Juga Membantu Keluarga

Kota yang tidak ramah anak pada akhirnya memberikan beban tambahan kepada keluarga. Ketika tidak ada taman yang aman, orang tua harus mencari tempat lain untuk membawa anak. Saat trotoar tidak nyaman, perjalanan bersama anak menjadi lebih sulit. Ketika transportasi tidak aman, mobilitas keluarga menjadi terbatas.

Sebaliknya, lingkungan yang aman bagi anak memberikan manfaat bagi seluruh keluarga. Orang tua dapat membawa anak berjalan kaki. Anak dapat bermain di ruang terbuka. Keluarga dapat menghabiskan waktu bersama tanpa harus selalu pergi ke pusat perbelanjaan.

Hal yang sama berlaku bagi lansia. Ketika trotoar, transportasi, taman, dan fasilitas umum mudah digunakan oleh orang tua, keluarga tidak perlu terus-menerus khawatir ketika mereka beraktivitas di luar rumah.

Dengan demikian, kota ramah manusia sebenarnya bukan hanya kebijakan untuk kelompok tertentu. Ketika kota menjadi lebih ramah bagi anak dan lansia, kualitas kehidupan seluruh masyarakat ikut meningkat.

Partai X: Cara Kota Memperlakukan yang Rentan Menunjukkan Kualitasnya

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai bahwa kelompok rentan seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembangunan kota.

“Kalau kita ingin mengetahui apakah sebuah kota benar-benar manusiawi, lihat bagaimana anak-anak dan lansia menjalani kehidupan di dalamnya. Kalau mereka aman, nyaman, dan memiliki ruang untuk bergerak, berarti kota tersebut sudah mulai memikirkan manusia,” ujar Rinto.

Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya mengikuti kebutuhan kelompok yang paling kuat secara ekonomi atau paling banyak menggunakan fasilitas tertentu. Kota harus mempertimbangkan mereka yang memiliki keterbatasan dalam bergerak dan mengakses ruang publik.

“Anak-anak adalah masa depan, sementara lansia adalah bagian dari sejarah kehidupan masyarakat. Keduanya tidak boleh dianggap sebagai kelompok yang berada di luar perencanaan kota,” katanya.

Rinto menilai, pembangunan fasilitas publik seharusnya menggunakan perspektif yang lebih luas. Trotoar, taman, transportasi, ruang bermain, dan fasilitas umum harus dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai kelompok usia.

Penutup: Kota yang Menghormati Setiap Tahap Kehidupan

Pada akhirnya, kota ramah manusia adalah kota yang memahami bahwa kehidupan manusia memiliki banyak tahap. Kita pernah menjadi anak-anak yang membutuhkan ruang bermain. Kita akan menjadi orang dewasa yang bekerja dan membangun keluarga. Dan suatu hari, sebagian dari kita akan memasuki usia lanjut dan membutuhkan lingkungan yang lebih tenang serta mudah diakses.

Karena itu, membangun kota yang ramah anak dan lansia sebenarnya berarti membangun kota untuk diri kita sendiri. Kita sedang menciptakan lingkungan yang suatu hari akan kita gunakan bersama keluarga dan generasi berikutnya.

Islam mengajarkan penghormatan terhadap orang tua, kasih sayang kepada anak, dan kepedulian kepada sesama. Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai nasihat pribadi, tetapi juga dapat menjadi inspirasi dalam membangun ruang kehidupan bersama.

Sebab kota yang benar-benar maju bukan hanya kota yang membuat orang produktif bekerja.

Kota yang benar-benar maju adalah kota yang membuat anak-anak dapat tumbuh dengan aman, orang dewasa dapat menjalani kehidupan dengan nyaman, dan para lansia tetap merasa dihormati serta memiliki tempat di tengah masyarakat.

Share This Article