Dari Katedral Antwerpen, Sekolah Negarawan Belajar Membangun untuk Generasi yang Belum Lahir

muslimX
By muslimX
8 Min Read

ANTWERPEN, BELGIA — Di tengah kota Antwerpen yang tumbuh sebagai salah satu pusat perdagangan penting Eropa, sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh menembus langit kota. Menara Cathedral of Our Lady yang terlihat dari kawasan Groenplaats bukan hanya menghadirkan keindahan arsitektur Gotik, tetapi juga menyimpan cerita tentang sebuah karya yang dibangun melampaui batas kehidupan manusia yang mengerjakannya.

Pada September 2025, kisah panjang itu menjadi bagian dari perjalanan belajar delegasi Sekolah Negarawan. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, serta perwakilan Chapter Eropa Imam Syafiih Kamil melihat Antwerpen bukan sekadar sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan. Mereka mencoba membaca bagaimana sebuah masyarakat mampu menjaga karya sejarah tetap hidup ketika zaman terus berubah.

Dari katedral tersebut muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam: apakah pembangunan yang kita lakukan hari ini mampu bertahan melampaui generasi kita sendiri?

Membangun Sesuatu yang Mungkin Tidak Kita Saksikan

Cathedral of Our Lady mulai dibangun pada abad ke-14 dan proses pembangunannya berlangsung selama waktu yang sangat panjang. Generasi yang memulai pembangunan tidak semuanya menyaksikan tahap akhirnya. Namun, pekerjaan tetap diteruskan karena ada keyakinan bahwa apa yang sedang dikerjakan memiliki nilai bagi masyarakat yang akan datang.

Di situlah letak pelajaran penting mengenai kepemimpinan lintas generasi. Tidak semua pekerjaan besar harus selesai dalam masa jabatan seseorang. Ada pembangunan yang memang membutuhkan waktu lebih panjang daripada usia seorang pemimpin, bahkan lebih panjang daripada satu generasi.

Prayogi R. Saputra melihat pengalaman tersebut sebagai bahan refleksi bagi Indonesia. Pembangunan bangsa tidak seharusnya hanya diukur dari apa yang dapat selesai dalam satu periode kepemimpinan. Ada pekerjaan besar dalam pendidikan, kebudayaan, lingkungan, tata kota, teknologi, dan pembangunan manusia yang hasilnya mungkin baru terlihat setelah puluhan tahun.

Seorang negarawan karena itu perlu memiliki kemampuan melihat jauh ke depan. Ia tidak hanya bertanya apa yang dapat dibangun hari ini, tetapi juga apakah keputusan yang dibuat sekarang akan memberikan manfaat bagi masyarakat yang belum lahir.

Ketika Bangunan Menjadi Jiwa Sebuah Kota

Memasuki Cathedral of Our Lady, perhatian tidak hanya tertuju pada struktur bangunan, tetapi juga pada karya seni yang tersimpan di dalamnya. Beberapa karya Peter Paul Rubens menjadi bagian penting dari warisan artistik katedral tersebut dan menunjukkan bagaimana bangunan keagamaan pada akhirnya dapat menjadi bagian dari sejarah seni dan kebudayaan sebuah kota.

Bagi Rinto Setiyawan, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun melalui aspek fisik. Seni, kebudayaan, pengetahuan, dan ekspresi manusia juga merupakan bagian dari kekuatan sebuah masyarakat. Bangunan dapat menjadi tempat berlindung, tetapi kebudayaanlah yang sering kali memberikan makna mengapa sebuah tempat perlu dipertahankan.

Pelajaran ini relevan bagi Indonesia yang memiliki kekayaan budaya sangat luas. Candi, masjid tua, gereja, keraton, kampung tradisional, rumah adat, pasar lama, hingga berbagai karya seni merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Semuanya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat membantu generasi baru memahami identitasnya.

Kota Modern Tidak Harus Kehilangan Ingatan

Antwerpen hari ini bukan lagi kota yang hidup dalam suasana abad pertengahan. Ia berkembang sebagai kota modern dengan aktivitas perdagangan, pelabuhan, bisnis, dan kehidupan masyarakat yang terus berubah. Namun, perkembangan tersebut tidak serta-merta menghilangkan bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas kota.

Bagi Erick Karya, hubungan antara perkembangan kota dan warisan sejarah menjadi hal yang menarik untuk diamati. Tantangan kota modern bukan sekadar bagaimana menyediakan infrastruktur baru, tetapi juga bagaimana memastikan pembangunan tersebut tetap memberikan ruang bagi identitas dan sejarah yang telah membentuk karakter kota.

Prinsip ini penting bagi Indonesia. Modernisasi tidak harus berarti semua yang lama dianggap menghambat kemajuan. Sebaliknya, warisan masa lalu dapat menjadi bagian dari wajah kota modern apabila dikelola dengan perencanaan yang baik dan ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini.

Sebuah kota akan terasa berbeda ketika sejarahnya masih dapat dibaca melalui ruang-ruang yang dilalui masyarakat setiap hari. Generasi baru tidak hanya melihat gedung baru, tetapi juga dapat memahami jejak orang-orang yang hidup sebelum mereka.

Warisan Hanya Bertahan Jika Ada yang Merawat

Katedral Antwerpen juga mengajarkan bahwa umur panjang sebuah warisan tidak terjadi dengan sendirinya. Bangunan tua membutuhkan perawatan, perhatian, dan kesediaan masyarakat untuk menjadikannya bagian dari kehidupan mereka. Tanpa itu, sebuah peninggalan bersejarah hanya akan menjadi bangunan lama yang perlahan kehilangan makna.

Imam Syafiih Kamil melihat pengalaman tersebut sebagai pengingat mengenai pentingnya peran komunitas. Ketahanan sebuah masyarakat tidak hanya terlihat ketika menghadapi krisis, tetapi juga ketika mereka mampu menjaga sesuatu yang dianggap penting dalam perjalanan sejarahnya.

Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi perubahan zaman. Berbagai warisan budaya telah melewati pergantian kekuasaan, perubahan sosial, bencana, konflik, dan perkembangan teknologi. Tantangannya sekarang adalah memastikan warisan tersebut tidak berhenti sebagai objek yang dikagumi, tetapi tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi masa depan.

Apa yang Sedang Kita Bangun untuk Indonesia?

Perjalanan Sekolah Negarawan ke Antwerpen pada akhirnya membawa pertanyaan kembali ke tanah air. Indonesia sedang membangun banyak hal untuk masa depan, mulai dari kawasan perkotaan baru, infrastruktur, transformasi digital, hingga berbagai proyek pembangunan berskala besar. Namun, di balik semua itu terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang akan dikenang oleh generasi Indonesia beberapa puluh atau bahkan ratusan tahun mendatang?

Ibu Kota Nusantara, misalnya, tidak hanya dapat dilihat sebagai proyek pembangunan fisik. Ia juga merupakan kesempatan untuk membangun sebuah kota yang memiliki karakter, kebudayaan, ruang publik, teknologi, dan hubungan yang kuat dengan identitas Indonesia. Begitu pula revitalisasi kota-kota lama seharusnya tidak berhenti pada mempercantik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali cerita dan kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya.

Pembangunan yang berorientasi pada masa depan membutuhkan kesabaran. Tidak semua hasil harus segera terlihat, dan tidak semua keberhasilan harus melekat pada nama orang yang memulainya. Ada kalanya seorang pemimpin justru meninggalkan warisan terbesar ketika ia mampu memulai sesuatu yang kelak disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Belajar Menjadi Negarawan dari Sebuah Katedral

Dari Antwerpen, Sekolah Negarawan menemukan bahwa sebuah katedral dapat menjadi buku pelajaran tentang kepemimpinan. Batu demi batu mengajarkan kesabaran. Seni yang dirawat mengajarkan pentingnya kebudayaan. Bangunan yang bertahan di tengah kota modern mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan sejarah.

Pada akhirnya, seorang negarawan tidak hanya membangun untuk zamannya sendiri. Ia membangun untuk manusia yang mungkin belum dikenalnya, untuk anak-anak yang belum lahir, dan untuk generasi yang suatu hari akan menilai keputusan yang dibuat hari ini.

Karena itu, pertanyaan paling penting dari perjalanan ke Antwerpen bukanlah seberapa megah sebuah katedral dapat dibangun. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia mampu membangun karya, kebijakan, institusi, dan kebudayaan yang memiliki ketahanan serupa, sehingga generasi yang datang setelah kita masih dapat melihatnya sebagai bagian dari perjalanan besar bangsa.

Sebab peradaban tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun oleh manusia yang bersedia menanam sesuatu hari ini, meskipun mereka tahu bahwa mungkin bukan mereka yang akan menikmati teduhnya pada masa depan.

Share This Article