muslimx.id — Masa depan petani Indonesia akan sangat ditentukan oleh satu pertanyaan penting: apakah generasi muda masih melihat pertanian sebagai jalan hidup yang layak untuk dipilih? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika anak muda memiliki semakin banyak pilihan pekerjaan. Dunia industri, teknologi, perdagangan, jasa, dan ekonomi digital menawarkan berbagai bentuk pekerjaan yang sebelumnya tidak tersedia bagi generasi terdahulu.
Di tengah pilihan yang semakin luas itu, pertanian menghadapi tantangan untuk meyakinkan generasi muda bahwa menjadi petani bukan berarti memilih kehidupan yang tertinggal. Sebab jika bertani terus dipandang sebagai pekerjaan yang berat, berpenghasilan tidak pasti, beresiko tinggi, dan kurang memiliki masa depan, maka regenerasi akan menjadi persoalan yang semakin serius.
Mengapa Anak Muda Menjauh dari Pertanian?
Ada kecenderungan untuk menyalahkan generasi muda ketika mereka tidak tertarik menjadi petani. Anak muda dianggap terlalu memilih pekerjaan yang nyaman, tidak mau bekerja keras, atau lebih tertarik pada pekerjaan yang terlihat modern. Pandangan seperti itu terlalu sederhana untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya.
Generasi muda memiliki pertimbangan yang rasional mengenai masa depannya. Mereka ingin memiliki penghasilan yang layak, ruang untuk berkembang, kepastian usaha, akses terhadap teknologi, dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup. Jika sektor pertanian tidak mampu menawarkan hal-hal tersebut, wajar apabila mereka mempertimbangkan pilihan lain.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat anak muda “mau bertani”. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan kondisi agar bertani menjadi pilihan yang masuk akal bagi generasi muda.
Petani Tidak Harus Identik dengan Cara Lama
Salah satu persoalan dalam melihat profesi petani adalah gambaran bahwa petani selalu identik dengan pekerjaan manual di sawah. Gambaran tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan arah pertanian yang terus berkembang.
Pertanian hari ini dapat melibatkan mesin, sensor, data cuaca, teknologi irigasi, pemasaran digital, pengolahan hasil, hingga sistem distribusi yang lebih modern. Seorang anak muda yang masuk ke sektor pertanian dapat menjadi petani sekaligus pengusaha, pengelola usaha tani, inovator, atau pengembang produk pertanian.
Perubahan cara pandang tersebut penting karena generasi muda tidak harus meninggalkan teknologi untuk masuk ke pertanian. Justru teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi baru dengan dunia pertanian.
Pertanian yang membutuhkan ilmu, kreativitas, manajemen, dan kemampuan teknologi tentu memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan gambaran pertanian sebagai pekerjaan fisik semata.
Masalahnya Bukan Hanya Minat, tetapi Ekosistem
Minat memang penting, tetapi minat tidak tumbuh dalam ruang kosong. Lingkungan menentukan apakah sebuah profesi terlihat memiliki masa depan atau tidak.
Seorang anak muda mungkin memiliki ketertarikan pada pertanian, tetapi akan menghadapi pertanyaan ketika hendak memulainya. Di mana ia mendapatkan lahan? Dari mana modal diperoleh? Bagaimana mendapatkan teknologi? Kepada siapa hasil panen dijual? Bagaimana menghadapi perubahan harga? Apa yang terjadi ketika gagal panen?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani membutuhkan ekosistem. Pelatihan saja tidak cukup. Anak muda membutuhkan akses terhadap modal, lahan, teknologi, pendampingan, informasi pasar, dan jaringan distribusi.
Jika berbagai persoalan tersebut tidak terjawab, ajakan kepada anak muda untuk kembali ke pertanian hanya akan menjadi slogan.
Perspektif Islam: Semua Pekerjaan Halal Memiliki Kehormatan
Dalam Islam, kehormatan sebuah pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh status sosialnya. Selama pekerjaan tersebut halal dan dilakukan dengan cara yang baik, ia memiliki nilai di hadapan Allah. Prinsip ini penting untuk mengubah cara masyarakat memandang petani.
Pekerjaan bertani mungkin tidak selalu menghasilkan penampilan yang dianggap bergengsi. Petani mungkin bekerja dengan pakaian sederhana, berada di sawah sejak pagi, dan menghadapi berbagai risiko yang tidak terlihat oleh masyarakat perkotaan. Namun, hasil pekerjaannya dibutuhkan oleh hampir seluruh manusia.
Al-Qur’an dalam QS An-Najm ayat 39 mengingatkan bahwa manusia memperoleh sesuai dengan apa yang telah diusahakannya. Prinsip kerja dan usaha tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk berikhtiar dalam kehidupan.
Petani menjalankan ikhtiar itu melalui tanah, benih, air, tenaga, pengetahuan, dan kesabaran. Hasilnya kemudian dinikmati oleh orang lain. Karena itu, profesi petani tidak seharusnya ditempatkan sebagai pekerjaan kelas dua.
Ketika Petani Tidak Lagi Menjadi Pilihan Terakhir
Persoalan yang perlu diubah bukan hanya persepsi anak muda, tetapi juga persepsi masyarakat terhadap petani. Selama profesi tersebut dianggap sebagai pilihan bagi mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan lain, pertanian akan sulit menarik generasi baru yang memiliki ambisi untuk berkembang.
Pertanian justru perlu diposisikan sebagai salah satu bidang strategis yang membutuhkan manusia dengan kemampuan terbaik. Petani masa depan membutuhkan pengetahuan tentang tanah sekaligus kemampuan mengelola usaha. Mereka perlu memahami musim sekaligus membaca data. Mereka membutuhkan keterampilan bertani sekaligus kemampuan memasarkan produk.
Dengan demikian, menjadi petani tidak berarti berhenti pada tradisi. Ia dapat menjadi bentuk profesi baru yang menggabungkan pengetahuan lama dengan inovasi baru.
Jika pertanian mampu memberikan ruang tersebut, anak muda tidak perlu memilih antara kehidupan modern dan kehidupan sebagai petani. Mereka dapat membawa kemajuan ke tengah sawah.
Partai X: Anak Muda Perlu Melihat Pertanian sebagai Ruang Berkarya
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, menilai bahwa regenerasi petani tidak akan berhasil jika pertanian hanya diperkenalkan kepada generasi muda sebagai pekerjaan yang harus diteruskan karena tradisi keluarga.
“Anak muda perlu melihat pertanian sebagai ruang untuk berkarya dan membangun masa depan. Kalau pertanian hanya dikenalkan sebagai pekerjaan orang tua yang harus diteruskan, tentu daya tariknya terbatas. Tetapi kalau mereka melihat bahwa pertanian bisa menjadi usaha modern, menggunakan teknologi, menghasilkan inovasi, dan memberikan penghasilan yang layak, cara pandangnya akan berbeda,” ujar Prayogi.
Menurutnya, generasi muda tidak perlu dipaksa untuk mengulang pola pertanian generasi sebelumnya. Yang perlu dilakukan adalah membuka ruang agar pengetahuan dan pengalaman generasi lama dapat bertemu dengan kreativitas generasi baru.
Pertanian membutuhkan keduanya. Pengalaman petani lama memberikan pengetahuan tentang tanah dan kehidupan pertanian, sementara generasi muda dapat membawa pendekatan baru melalui teknologi, manajemen, dan inovasi.
Mengembalikan Kebanggaan Menjadi Petani
Pada akhirnya, masa depan petani Indonesia tidak hanya bergantung pada jumlah orang yang masih bekerja di sawah hari ini. Masa depan tersebut bergantung pada apakah generasi berikutnya melihat pertanian sebagai profesi yang memiliki martabat dan masa depan.
Jika anak muda hanya diajak mencintai pertanian tanpa diberikan kesempatan untuk berkembang, maka ajakan tersebut tidak cukup. Mereka membutuhkan sistem yang membuat kerja keras di sektor pertanian memiliki hasil yang sepadan.
Pertanian perlu menjadi tempat di mana seorang anak muda dapat membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan teknologi, dan memperoleh kehidupan yang layak. Dengan begitu, menjadi petani tidak lagi dipahami sebagai kembali ke masa lalu, tetapi sebagai bagian dari membangun masa depan.
Sebab bangsa yang ingin memiliki pangan yang kuat membutuhkan petani yang kuat. Dan petani yang kuat membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya mau menanam, tetapi juga memiliki pengetahuan, teknologi, keberanian, dan kesempatan untuk mengembangkan pertanian.