muslimx.id — Masa depan petani Indonesia sesungguhnya bukan hanya persoalan siapa yang akan bekerja di sawah beberapa puluh tahun mendatang. Di balik persoalan regenerasi petani terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa yang akan memastikan bangsa ini tetap mampu menghasilkan pangan ketika generasi yang menanam mulai berkurang? Pertanyaan tersebut semakin penting ketika pertanian menghadapi tantangan regenerasi. Pemerintah sendiri menempatkan regenerasi petani sebagai salah satu arah penting pembangunan pertanian 2025–2029. Dokumen Kementerian Pertanian menyebut rendahnya minat generasi muda menjadi petani sebagai tantangan yang dapat mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja pertanian dan keberlanjutan produksi pangan.
Ketika Sawah Kehilangan Generasinya
Selama ini pertanian sering dipandang sebagai pekerjaan yang diwariskan dari orang tua kepada anak. Seorang anak tumbuh di lingkungan sawah, belajar menanam, memahami musim, mengenal tanah, lalu melanjutkan pekerjaan orang tuanya. Pola tersebut membuat pengetahuan pertanian dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, perubahan sosial membuat pola tersebut tidak selalu berlangsung. Banyak anak muda memiliki pilihan pekerjaan yang lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dapat bekerja di sektor industri, perdagangan, teknologi, jasa, dan berbagai profesi lainnya. Pertanian kemudian harus bersaing bukan hanya dalam soal pendapatan, tetapi juga dalam soal citra, kepastian masa depan, dan kesempatan untuk berkembang. Persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda mau atau tidak mau menjadi petani. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah sistem pertanian telah memberikan alasan yang cukup bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai masa depan?
Petani Bukan Sekadar Orang yang Mengolah Sawah
Cara pandang terhadap petani juga perlu diperluas. Petani bukan hanya seseorang yang bekerja di bawah terik matahari dengan cangkul dan sawah. Pertanian modern dapat melibatkan teknologi, manajemen usaha, pengolahan hasil, pemasaran, pembiayaan, data, hingga inovasi. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian bahkan menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam adopsi teknologi pertanian karena generasi muda dinilai lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Artinya, regenerasi petani tidak harus berarti mengembalikan anak muda kepada pola bertani masa lalu. Justru tantangannya adalah menghadirkan pertanian yang sesuai dengan zaman tanpa kehilangan pengetahuan dan nilai yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Petani masa depan dapat menjadi pengelola usaha tani, pengguna teknologi, pengembang produk pangan, pengolah hasil pertanian, sekaligus penghubung antara produksi di desa dan kebutuhan pasar.
Mengapa Generasi Muda Harus Melihat Pertanian sebagai Masa Depan?
Generasi muda membutuhkan alasan yang rasional untuk memilih pertanian. Kecintaan terhadap tanah dan tradisi memang penting, tetapi tidak cukup untuk membangun profesi yang berkelanjutan. Anak muda juga membutuhkan akses terhadap modal, teknologi, pengetahuan, pasar, dan kepastian bahwa kerja keras mereka dapat menghasilkan kehidupan yang layak.
Karena itu, membicarakan regenerasi petani tanpa membicarakan kesejahteraan petani akan membuat persoalannya tidak lengkap. Generasi muda tentu akan mempertimbangkan masa depan ekonominya. Mereka ingin mengetahui apakah bertani dapat memberikan penghasilan yang layak, apakah usaha tersebut dapat berkembang, dan apakah ada ruang bagi kreativitas serta inovasi.
Beberapa program pemerintah menunjukkan bahwa pertanian mulai diarahkan untuk lebih dekat dengan generasi muda. Kementerian Pertanian, misalnya, mendorong keterlibatan anak muda melalui penguatan kapasitas, pembiayaan, sarana produksi, teknologi, dan berbagai program pertanian modern.
Namun, tantangan regenerasi tidak selesai hanya dengan menghadirkan program. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang membuat anak muda merasa bahwa menjadi petani bukan berarti memilih kehidupan yang tertinggal.
Perspektif Islam: Mengelola Bumi adalah Amanah
Islam memberikan cara pandang yang menarik terhadap pekerjaan dan kehidupan pertanian. Dalam QS Al-Baqarah ayat 30, manusia disebut sebagai khalifah di bumi. Konsep tersebut dapat dibaca sebagai pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola kehidupan dan menjaga keberlangsungan bumi, bukan sekadar mengambil manfaat darinya.
Dalam konteks pertanian, tanah bukan hanya aset yang memiliki nilai ekonomi. Tanah menghasilkan pangan, menghidupi keluarga, menopang masyarakat, dan menjadi bagian dari keberlangsungan kehidupan. Karena itu, menjaga pertanian juga berkaitan dengan menjaga salah satu sumber kehidupan manusia.
Petani yang menanam padi mungkin tidak pernah bertemu dengan orang yang kelak memakan hasil panennya. Tetapi pekerjaannya menghubungkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Ada keluarga yang dapat makan karena hasil sawah tersebut. Pedagang yang mendapatkan penghasilan. Masyarakat yang memperoleh bahan pangan.
Di situlah pekerjaan pertanian memiliki dimensi kemanusiaan sekaligus amanah.
Partai X: Regenerasi Petani Harus Menjadi Persoalan Masa Depan Bangsa
Prayogi R. Saputra, Direktur X-Institute, melihat persoalan regenerasi petani tidak seharusnya dipahami sebagai persoalan profesi semata. Menurutnya, keberadaan petani berkaitan langsung dengan kemampuan suatu bangsa menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya.
“Kalau generasi muda semakin jauh dari pertanian, kita tidak hanya kehilangan tenaga kerja di sektor pertanian. Kita juga sedang menghadapi persoalan tentang siapa yang akan menjaga rantai pangan bangsa di masa depan. Karena itu, petani harus ditempatkan sebagai profesi strategis yang memiliki masa depan, bukan pekerjaan yang dianggap sekadar pilihan terakhir,” ujar Prayogi.
Menurutnya, pertanian juga perlu dibuka sebagai ruang bagi ilmu pengetahuan dan inovasi. Anak muda tidak harus memilih antara teknologi dan pertanian. Justru teknologi dapat menjadi bagian dari cara baru untuk membuat pertanian lebih produktif, efisien, dan menarik bagi generasi berikutnya.
Pandangan tersebut penting karena masa depan pertanian tidak mungkin hanya bergantung pada kemampuan generasi lama untuk terus bekerja. Regenerasi membutuhkan perpindahan pengetahuan sekaligus pembaharuan cara berpikir.
Menjaga Petani Berarti Menjaga Masa Depan Pangan
Pada akhirnya, masa depan petani Indonesia adalah persoalan yang jauh lebih besar daripada keberlanjutan sebuah profesi. Ketika petani semakin sedikit, persoalan yang muncul bukan hanya siapa yang mengolah sawah. Ada pertanyaan tentang siapa yang memproduksi pangan, bagaimana pengetahuan pertanian diteruskan, siapa yang menjaga lahan produktif, dan bagaimana bangsa ini mempertahankan kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Karena itu, anak muda perlu diperkenalkan kepada pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai bagian dari masa depan. Pertanian dapat menjadi ruang bagi teknologi, kewirausahaan, ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Islam pun mengajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun hanya dari apa yang kita konsumsi, tetapi juga dari apa yang kita rawat dan wariskan. Sawah yang hari ini menghasilkan makanan adalah hasil dari kerja generasi sebelumnya. Jika generasi berikutnya tidak lagi memiliki keterikatan dengan pertanian, maka yang hilang bukan hanya profesi petani, tetapi juga salah satu mata rantai penting kehidupan bangsa.
Maka pertanyaan “siapa yang akan memberi makan bangsa ketika sawah kehilangan generasinya?” tidak boleh dianggap sebagai pertanyaan yang terlalu jauh.
Justru pertanyaan itu perlu diajukan sekarang. Sebab masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas sawah yang masih tersisa, tetapi juga oleh siapa yang akan berdiri di atasnya, menanamnya, merawatnya, dan memastikan hasilnya sampai kepada masyarakat. Dan ketika generasi muda kembali melihat pertanian sebagai jalan kehidupan yang bermartabat, produktif, dan penuh peluang, mungkin disitulah masa depan petani Indonesia mulai menemukan harapannya.