muslimx.id — Fenomena etika sosial menurun tidak hanya terlihat dari perilaku individu, tetapi juga dari sikap kolektif masyarakat yang semakin permisif terhadap berbagai bentuk pelanggaran. Budaya permisif ini membuat kesalahan tidak lagi dianggap serius, bahkan dalam banyak kasus justru dibiarkan tanpa teguran.
Ketika masyarakat mulai terbiasa melihat pelanggaran tanpa reaksi, maka disitulah awal dari kerusakan sosial yang lebih besar. Nilai-nilai yang seharusnya dijaga perlahan memudar, digantikan oleh sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran.
Budaya permisif bukan hanya soal membiarkan, tetapi juga tentang hilangnya kepedulian terhadap moral.
Budaya Permisif dan Melemahnya Kontrol Sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat, kontrol sosial memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan norma. Namun, ketika etika sosial menurun, kontrol tersebut mulai melemah.
Masyarakat cenderung memilih diam ketika melihat pelanggaran. Sikap ini seringkali muncul karena anggapan bahwa hal tersebut bukan urusan pribadi, atau karena sudah terbiasa melihat hal yang sama berulang kali.
Akibatnya, pelanggaran tidak lagi mendapatkan koreksi. Tanpa adanya kontrol sosial, kesalahan akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kebiasaan.
Budaya permisif ini pada akhirnya menciptakan lingkungan yang tidak sehat, di mana nilai-nilai moral tidak lagi menjadi prioritas.
Perspektif Islam: Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Tanggung Jawab Bersama
Dalam Islam, menjaga moral masyarakat bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga kewajiban bersama.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Ayat ini menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kebaikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya…” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa membiarkan kesalahan bukanlah pilihan dalam Islam.
Dalam konteks etika sosial menurun, budaya permisif bertentangan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Membiarkan pelanggaran berarti ikut membuka ruang bagi kerusakan yang lebih luas.
Partai X tentang Bahaya Budaya Permisif
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Diana Isnaini, menilai bahwa budaya permisif merupakan salah satu penyebab utama etika sosial menurun.
Menurutnya, sikap membiarkan kesalahan justru memperparah kondisi moral masyarakat.
“Ketika masyarakat mulai permisif, maka pelanggaran tidak lagi memiliki konsekuensi sosial. Ini yang membuat kesalahan terus berulang,” ujar Diana.
Ia menegaskan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam menjaga etika sosial.
“Kontrol sosial harus tetap ada. Jika masyarakat diam, maka nilai-nilai moral akan semakin melemah,” jelasnya.
Kita perlu mengembalikan keberanian untuk saling mengingatkan, agar kehidupan sosial tetap berjalan sesuai dengan nilai yang benar.
Penutup: Menguatkan Kepedulian terhadap Moral Sosial
Pada akhirnya, etika sosial menurun tidak bisa dilepaskan dari sikap permisif yang berkembang di masyarakat. Ketika kesalahan dibiarkan, maka kerusakan akan semakin meluas.
Diperlukan upaya untuk mengembalikan kepedulian terhadap nilai-nilai moral. Masyarakat harus kembali berperan aktif dalam menjaga etika sosial, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari solusi.
Dalam perspektif Islam, amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban yang harus dijalankan bersama. Karena itu, membangun kembali kepedulian terhadap kebaikan adalah langkah penting untuk memperbaiki kondisi sosial.
Mengurangi budaya permisif berarti memperkuat kembali nilai-nilai moral. Dan dari situlah perbaikan etika sosial menurun dapat diwujudkan secara nyata.