Islam dan Demokrasi: Mengapa Pemerintahan Modern Mudah Melahirkan Perpecahan?

muslimX
By muslimX
5 Min Read

muslimx.id — Pembahasan tentang Islam dan demokrasi menjadi sangat relevan. Sebab Islam memandang persaudaraan dan persatuan sebagai fondasi penting dalam kehidupan masyarakat.

Demokrasi pada dasarnya hadir dengan tujuan memberi ruang partisipasi kepada masyarakat dalam menentukan arah kehidupan bernegara. Perbedaan pendapat dianggap sebagai bagian wajar dalam sistem demokrasi. Namun dalam praktik kehidupan modern, perbedaan seringkali berkembang menjadi konflik sosial yang tajam. Persaudaraan rusak karena pilihan politik. Hubungan keluarga renggang karena perbedaan dukungan. Masyarakat terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling menyerang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pemerintahan modern tidak jarang melahirkan polarisasi yang kuat di tengah masyarakat. Demokrasi yang seharusnya menjadi sarana membangun kehidupan bersama justru berubah menjadi arena pertarungan identitas dan kepentingan. Akibatnya, masyarakat lebih sibuk mempertahankan kelompoknya dibanding menjaga persatuan sosial.

Perbedaan Kekuasaan yang Berubah Menjadi Permusuhan

Fenomena Islam dan demokrasi memperlihatkan bahwa perbedaan pemerintahan dalam demokrasi modern sering tidak lagi dikelola dengan kedewasaan.

Pilihan politik berubah menjadi identitas kelompok. Lawan dianggap musuh. Perbedaan pendapat dipenuhi emosi dan kebencian. Akibatnya, ruang demokrasi kehilangan semangat dialog dan musyawarah.

Masyarakat menjadi mudah terpecah karena fanatisme yang berlebihan. Padahal perbedaan pandangan seharusnya tidak menghancurkan rasa persaudaraan.

Media Sosial dan Polarisasi Masyarakat

Dalam konteks Islam dan demokrasi, media sosial memperkuat konflik di tengah masyarakat.

Informasi menyebar sangat cepat. Opini dibangun dengan emosi. Provokasi lebih mudah viral dibanding diskusi yang sehat. Akibatnya, masyarakat hidup dalam ruang informasi yang penuh ketegangan.

Setiap kelompok hanya ingin membenarkan dirinya sendiri. Fenomena ini membuat demokrasi semakin dipenuhi pertarungan opini dibanding upaya mencari solusi bersama.

Pemerintahan yang Kehilangan Akhlak

Fenomena Islam dan demokrasi juga terlihat dari semakin melemahnya adab dalam kehidupan politik modern.

Fitnah dianggap strategi politik. Hinaan dianggap bagian dari kebebasan berpendapat. Bahkan kebencian terhadap kelompok lain sering dipelihara demi kepentingan politik. Padahal ketika politik kehilangan akhlak, masyarakat akan kehilangan ketenangan sosial.

Demokrasi akhirnya tidak lagi melahirkan kedewasaan politik, tetapi justru memperbesar konflik horizontal di tengah masyarakat.

Fanatisme dan Hilangnya Persaudaraan

Dalam kehidupan modern, banyak orang lebih loyal kepada kelompok politik dibanding menjaga hubungan kemanusiaan. Fenomena Islam dan demokrasi memperlihatkan bahwa fanatisme membuat manusia sulit bersikap adil.

Kesalahan kelompok sendiri dibela. Kebaikan pihak lain ditolak. Akibatnya, pemerintahan menciptakan polarisasi yang semakin dalam.

Padahal masyarakat yang sehat membutuhkan kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama.

Perspektif Islam: Persaudaraan di Atas Permusuhan

Dalam Islam, persaudaraan memiliki posisi yang sangat penting. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan tidak boleh dihancurkan oleh perbedaan kepentingan duniawi.

Dalam konteks Islam dan demokrasi, Islam mengajarkan bahwa perbedaan pendapat harus disikapi dengan adab, musyawarah, dan rasa tanggung jawab sosial.

Karena politik seharusnya menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan, bukan sumber perpecahan masyarakat.

Partai X tentang Polarisasi Modern

Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa salah satu tantangan terbesar demokrasi modern adalah semakin kuatnya polarisasi sosial akibat fanatisme. Menurutnya, fenomena Islam dan demokrasi menunjukkan bahwa masyarakat modern sering terjebak dalam konflik identitas pemerintahan yang berlebihan.

“Politik hari ini sering membuat masyarakat lebih mudah bermusuhan dibanding saling memahami,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan kedewasaan moral agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

“Jika politik tidak dijaga dengan akhlak dan rasa persaudaraan, maka demokrasi mudah melahirkan konflik sosial yang berkepanjangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prayogi mengingatkan pentingnya membangun budaya dialog dalam kehidupan pemerintahan. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk mencari solusi bersama, bukan alasan untuk saling membenci.

Penutup: Kekuasaan Tidak Boleh Menghancurkan Persaudaraan

Pada akhirnya, fenomena Islam dan demokrasi mengajarkan bahwa pemerintahan yang kehilangan akhlak mudah melahirkan perpecahan di tengah masyarakat.

Demokrasi memang membuka ruang perbedaan, tetapi perbedaan itu harus dikelola dengan kedewasaan dan moralitas.

Dalam perspektif Islam, persaudaraan, keadilan, dan adab lebih penting daripada fanatisme yang merusak hubungan sosial.

Karena itu, di tengah kehidupan pemerintahan modern yang semakin penuh polarisasi, masyarakat perlu kembali menyadari bahwa perbedaan pilihan tidak boleh menghancurkan persatuan dan rasa kemanusiaan dalam kehidupan bersama.

Share This Article