Sekolah Negarawan Pelajari Model Kepemimpinan Qom melalui Perspektif Akademisi Iran

muslimX
By muslimX
4 Min Read

muslimx.id – QOM, IRAN — Pendidikan negarawan tidak cukup hanya berbicara tentang teori kepemimpinan. Ia membutuhkan tradisi intelektual, kemampuan membaca perubahan zaman, serta pengalaman kelembagaan yang panjang. Perspektif inilah yang menjadi salah satu fokus kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke Qom, Iran, Kamis (20/8/2026).

Tim Sekolah Negarawan mengawali agenda dengan mengunjungi Institut Research Imam Khomeini di Qom. Rombongan diterima oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Mahmood Rafian dan kemudian mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah dosen serta Hujjatul Islam di lingkungan institut tersebut.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akademik dengan pertukaran pandangan mengenai pendidikan, riset, pemikiran, dan pembentukan kapasitas kepemimpinan.

Bagi Tim Sekolah Negarawan, dialog tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana lembaga pendidikan dan riset di Iran membangun lingkungan intelektual yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir dan karakter kepemimpinan.

Forum tersebut juga membuka ruang untuk membandingkan pengalaman Indonesia dan Iran dalam mengembangkan pendidikan yang berkaitan dengan kepemimpinan, masyarakat, dan negara.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, menjelaskan bahwa kunjungan ke Iran dirancang sebagai bagian dari proses pembelajaran internasional.

Menurutnya, benchmarking diperlukan agar pendidikan negarawan di Indonesia tidak berkembang dalam ruang yang tertutup, tetapi terus berinteraksi dengan pengalaman berbagai negara.

“Pertukaran gagasan seperti ini penting. Kita datang bukan untuk mencari model yang harus ditiru, tetapi untuk memahami pengalaman negara lain dan melihat apa yang relevan untuk konteks Indonesia,” kata Prayogi.

Setelah agenda di Institut Research Imam Khomeini, Tim Sekolah Negarawan melanjutkan kunjungan ke Pusat Administrasi Hauzah Iran di Qom.

Di lembaga tersebut, rombongan diterima oleh Kepala Hubungan Internasional Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Sayyid Mofid Husseini Kohsari. Pertemuan membahas berbagai hal berkaitan dengan sistem pendidikan Hauzah, pengelolaan kelembagaan, serta jejaring hubungan internasional.

Kunjungan ke dua institusi tersebut menjadi bagian dari agenda yang lebih luas. Tim Sekolah Negarawan dijadwalkan berada di Iran selama dua pekan untuk bertemu dengan berbagai organisasi pendidikan, pusat riset, pusat teknologi, serta lembaga yang mengembangkan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Selain aspek pendidikan dan teknologi, salah satu agenda utama adalah melakukan benchmarking terhadap tata kelola pemerintahan Iran.

Dengan pendekatan tersebut, kunjungan Sekolah Negarawan tidak hanya diarahkan untuk memahami pendidikan keagamaan atau tradisi intelektual Iran, tetapi juga melihat hubungan antara pendidikan, riset, teknologi, dan tata kelola negara. Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan mengatakan pengalaman internasional diperlukan untuk memperkaya perspektif peserta dan pengelola Sekolah Negarawan.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama dan Hubungan Internasional sekaligus Direktur Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf, turut mendampingi agenda kunjungan dan dialog dengan berbagai institusi di Iran. Rangkaian kunjungan selama dua pekan tersebut diharapkan dapat menghasilkan jejaring kerja sama dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas antara lembaga-lembaga di Iran dan Sekolah Negarawan di Indonesia.

Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan ke Iran merupakan bagian dari proses membangun pendidikan kepemimpinan yang terbuka terhadap pengalaman global, namun tetap berangkat dari kebutuhan dan karakter Indonesia. Qom menjadi salah satu titik awal dari proses tersebut: sebuah ruang untuk mempertemukan tradisi intelektual, pendidikan, riset, dan gagasan tentang masa depan kepemimpinan.

Share This Article