muslimx.id – QOM, IRAN — Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari Iran dalam membangun sumber daya manusia, pendidikan, teknologi, hingga tata kelola pemerintahan? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu latar belakang kunjungan Sekolah Negarawan ke Iran selama dua pekan. Rangkaian agenda dimulai di Kota Qom pada Kamis (20/8/2026), ketika Tim Sekolah Negarawan mengunjungi Institut Research Imam Khomeini. Rombongan diterima oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Mahmood Rafian dan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama para dosen serta Hujjatul Islam di lingkungan institut tersebut.
Dalam diskusi, tim Sekolah Negarawan bertukar pandangan mengenai pendidikan, riset, pemikiran, serta pengembangan kapasitas kepemimpinan. Dialog tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana institusi pendidikan dan riset di Iran membangun tradisi keilmuan dan kaderisasi.
Agenda kemudian berlanjut ke Pusat Administrasi Hauzah Iran di Qom. Di sana, Tim Sekolah Negarawan diterima oleh Kepala Hubungan Internasional Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Sayyid Mofid Husseini Kohsari.
Pertemuan tersebut membahas pengelolaan pendidikan Hauzah, kelembagaan, serta hubungan internasional. Bagi Tim Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi untuk memahami bagaimana lembaga pendidikan dapat membangun sistem dan jaringan yang bertahan dalam jangka panjang.
Namun, kunjungan ke Qom baru menjadi awal dari rangkaian agenda yang lebih panjang.
Selama berada di Iran, Tim Sekolah Negarawan dijadwalkan mengunjungi berbagai organisasi pendidikan, pusat riset, pusat teknologi, serta lembaga yang bergerak di bidang kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Teknologi menjadi salah satu perhatian penting dalam kunjungan tersebut. Sekolah Negarawan ingin melihat bagaimana perkembangan teknologi dan AI ditempatkan dalam ekosistem pendidikan, riset, serta pembangunan kapasitas manusia.

Selain itu, tim juga akan melakukan benchmarking tata kelola pemerintahan Iran. Melalui agenda tersebut, berbagai pengalaman kelembagaan dan praktik pemerintahan Iran akan dipelajari dan dibandingkan dengan kebutuhan pengembangan tata kelola di Indonesia. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, mengatakan kunjungan tersebut dirancang sebagai proses pembelajaran yang lebih luas.
“Kita ingin melihat bagaimana pendidikan, riset, teknologi, dan tata kelola pemerintahan saling terhubung. Dari sana kita bisa mendapatkan perspektif baru untuk pengembangan pendidikan negarawan di Indonesia,” ujar Prayogi.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyalin sistem yang diterapkan Iran ke Indonesia. Sebaliknya, pengalaman berbagai institusi di Iran akan dipelajari secara kritis untuk melihat praktik mana yang relevan dengan konteks Indonesia. Dalam perjalanan tersebut, Prayogi didampingi Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan serta Direktur Kerja Sama dan Hubungan Internasional sekaligus Direktur Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf.
Keterlibatan Abdullah Assegaf juga memperkuat dimensi hubungan akademik dan internasional dalam kunjungan tersebut, khususnya dalam membuka komunikasi dengan berbagai institusi di Iran. Selama dua pekan, Tim Sekolah Negarawan akan melakukan serangkaian pertemuan dan kunjungan untuk mengumpulkan pengalaman, gagasan, serta pengetahuan dari berbagai sektor.
Mulai dari Qom sebagai salah satu pusat pendidikan dan keilmuan, pusat-pusat riset, lembaga teknologi dan AI, hingga institusi yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan. Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun pendidikan kepemimpinan yang tidak hanya memahami teori kenegaraan, tetapi juga mampu membaca perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta dinamika tata kelola pemerintahan di berbagai negara. Dari Iran, Sekolah Negarawan ingin membawa pulang bukan sekadar cerita perjalanan, tetapi gagasan, jejaring, dan pelajaran yang dapat menjadi bahan untuk membangun model pendidikan negarawan Indonesia di masa depan.