muslimx.id — Di sebuah meja makan di tengah Kota Isfahan, percakapan tentang masa depan kota berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai hubungan antara nilai, pembangunan, dan kehidupan manusia.
Tim Sekolah Negarawan bersama sejumlah pemangku kepentingan non-pemerintah di Isfahan berdiskusi mengenai sebuah gagasan yang telah lama menjadi perhatian dalam kajian perkotaan, yaitu bagaimana sebuah kota tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan nilai yang menjadi arah kehidupan masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung di Club Municipality The 1 Restaurant tersebut mempertemukan pelaku wisata, dosen, akademisi, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan masyarakat dan tata kelola kota.
Di tengah diskusi mengenai kebudayaan dan pembangunan, muncul sebuah gagasan menarik tentang konsep Islamic City atau Kota Islam, yaitu upaya menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan perkotaan modern.

Sebuah Kota yang Dibangun dari Sebuah Gagasan Besar
Konsep Kota Islam yang dikembangkan di Isfahan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ruang fisik yang memiliki identitas keagamaan.
Dalam diskusi tersebut dijelaskan bahwa konsep tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara think tank Kota Islam, Sekretariat Kota Islam, serta pusat riset Pemerintah Kota Isfahan.
Salah satu gagasan yang diperkenalkan adalah Shahr-e Tayyeb, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai “Kota Tayyib” atau “Kota yang Baik”.
Gagasan tersebut berangkat dari upaya memahami bagaimana nilai yang bersumber dari Al-Qur’an, riwayat, pengalaman peradaban Islam, serta pemikiran para ahli dapat diterjemahkan menjadi konsep pembangunan kota yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Sebuah kota tidak hanya dilihat sebagai kumpulan bangunan dan jalan, tetapi sebagai ruang tempat manusia menjalani kehidupan secara menyeluruh.
Ketika Nilai Agama Diterjemahkan Menjadi Model Kehidupan Kota
Salah satu hal yang menarik dari konsep tersebut adalah pendekatan yang berusaha menghubungkan nilai normatif dengan sistem yang lebih terukur.
Dalam diskusi disebutkan bahwa pengembangan konsep Kota Islam tersebut telah menghasilkan lebih dari 2.000 indikator.
Indikator-indikator tersebut berasal dari beberapa sumber utama, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an, riwayat, pengalaman serta warisan peradaban Islam, dan teori maupun pemikiran para ahli mengenai kota Islam.
Ribuan indikator tersebut kemudian dikelompokkan dan disederhanakan menjadi indikator makro yang lebih mudah digunakan.
Tahap berikutnya adalah menerjemahkan indikator tersebut ke dalam rencana aksi atau action plan agar gagasan mengenai kota yang baik tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterapkan dalam proses pembangunan.
Dari sini terlihat bahwa sebuah nilai besar membutuhkan cara penerjemahan agar dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kota Tidak Hanya Dibangun dengan Beton dan Infrastruktur
Pembahasan mengenai Kota Islam menghadirkan perspektif bahwa keberhasilan sebuah kota tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik.
Jalan yang panjang, gedung yang tinggi, fasilitas transportasi yang modern, dan berbagai infrastruktur memang menjadi bagian penting dalam perkembangan kota.
Namun, sebuah kota juga memiliki pertanyaan yang lebih mendalam.
Apakah pelayanan publik telah dirasakan secara adil oleh masyarakat?
Apakah pembangunan mampu memperkuat kehidupan keluarga?
Apakah masyarakat memperoleh manfaat secara proporsional dari kemajuan yang diciptakan?
Dan apakah perkembangan kota menghadirkan kehidupan yang lebih manusiawi?
Pertanyaan tersebut memperluas cara melihat pembangunan. Kota bukan hanya tempat manusia tinggal, tetapi ruang yang membentuk cara manusia bekerja, berinteraksi, membangun keluarga, dan menjalankan kehidupan sosial.
Dari Masjid hingga Ruang Publik, Membaca Makna Sebuah Kota
Dalam perspektif Kota Islam, kehidupan perkotaan tidak hanya berbicara mengenai tempat ibadah atau bentuk arsitektur.
Sebuah kota juga mencakup lingkungan hidup, budaya, ekonomi, pelayanan publik, hubungan sosial, keluarga, dan berbagai aspek yang memengaruhi kualitas kehidupan manusia.
Artinya, kota yang baik bukan hanya kota yang terlihat maju dari luar, tetapi kota yang mampu menciptakan keseimbangan antara kemajuan material dan nilai kemanusiaan.
Sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan bangunan, tetapi juga meninggalkan cara berpikir tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama.
Belajar dari Isfahan untuk Membaca Masa Depan Kota Indonesia
Bagi Tim Sekolah Negarawan, diskusi mengenai konsep Kota Islam di Isfahan menjadi bagian dari pembelajaran dalam memahami berbagai pendekatan pembangunan.
Indonesia dan Iran memiliki konteks sejarah, budaya, dan sistem sosial yang berbeda. Namun, pertukaran gagasan mengenai tata kelola kota dapat menjadi ruang untuk saling belajar.
Indonesia sendiri memiliki banyak kota dengan sejarah panjang, mulai dari kota pesantren, kota lama, kawasan perdagangan tradisional, hingga berbagai ruang budaya yang membentuk kehidupan masyarakat.
Pertanyaannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi kekuatan pembangunan masa depan.
Sebuah kota tidak hanya membutuhkan perencanaan teknis, tetapi juga membutuhkan visi tentang manusia seperti apa yang ingin dibangun melalui ruang tersebut.
Membawa Pulang Sebuah Pertanyaan tentang Peradaban
Dari sebuah meja makan di Kota Isfahan, diskusi mengenai pembangunan kota akhirnya bergerak menuju pertanyaan yang lebih besar.
Kemajuan sebuah kota bukan hanya tentang seberapa banyak bangunan yang berhasil didirikan atau seberapa cepat pembangunan dilakukan. Kemajuan juga tentang apakah kota tersebut mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, hubungan sosial yang sehat, serta kehidupan yang memiliki arah nilai.
Sebab pada akhirnya, sebuah kota bukan hanya kumpulan gedung dan jalan. Sebuah kota adalah cermin dari cara sebuah masyarakat memahami kehidupan. Dan dari Isfahan muncul sebuah pertanyaan penting bagi generasi hari ini: apakah kota yang kita bangun hanya akan menjadi tempat manusia tinggal, atau menjadi ruang yang membantu manusia menjadi lebih baik?