muslimx.id — Krisis arah hidup semakin terasa ketika manusia modern memiliki banyak ukuran tentang kesuksesan, tetapi semakin sulit menentukan apa yang sebenarnya ingin dicapai dalam kehidupannya. Jabatan, kekayaan, pendidikan, popularitas, karier, dan berbagai pencapaian material sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Manusia terus didorong untuk mendapatkan lebih banyak, menjadi lebih tinggi, dan terlihat lebih berhasil daripada sebelumnya.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk memiliki kehidupan yang baik. Islam tidak melarang manusia mencari rezeki, membangun usaha, menuntut ilmu, mengejar karier, ataupun mendapatkan kedudukan yang baik. Persoalannya muncul ketika semua pencapaian tersebut tidak lagi ditempatkan sebagai sarana, tetapi berubah menjadi tujuan utama kehidupan.
Pada titik itulah seseorang dapat mengalami krisis arah hidup. Ia mengetahui apa yang ingin dimiliki, tetapi tidak lagi bertanya untuk apa semua itu dimiliki. Ia tahu bagaimana mengejar kesuksesan, tetapi lupa menanyakan kesuksesan seperti apa yang sebenarnya bernilai.
Ketika Kesuksesan Menjadi Tujuan Akhir
Sejak kecil, manusia sering diperkenalkan dengan ukuran keberhasilan yang relatif sederhana. Mendapatkan nilai tinggi dianggap berhasil. Memasuki sekolah atau perguruan tinggi terbaik dianggap berhasil. Mendapatkan pekerjaan bergengsi dianggap berhasil. Memiliki penghasilan besar dan kehidupan yang mapan juga dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah mencapai kesuksesan.
Ukuran tersebut tidak sepenuhnya keliru. Pendidikan penting. Pekerjaan penting. Kesejahteraan ekonomi juga penting. Namun persoalan muncul ketika seluruh kehidupan hanya diarahkan untuk mendapatkan pencapaian tersebut.
Manusia kemudian hidup dalam perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ketika mendapatkan pekerjaan, ia mengejar jabatan. Setelah mendapatkan jabatan, ia mengejar penghasilan lebih besar. Saat memiliki penghasilan lebih besar, ia meningkatkan gaya hidup. Setelah gaya hidup meningkat, standar keberhasilan pun kembali bergeser.
Target terus bertambah, tetapi rasa cukup semakin sulit ditemukan. Manusia akhirnya tidak lagi bertanya apakah dirinya sedang menjalani kehidupan yang bermakna. Ia hanya bertanya apakah dirinya sudah cukup berhasil dibandingkan orang lain.
Dunia Mengajarkan Manusia untuk Terus Membandingkan
Kehadiran media sosial membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Setiap hari manusia melihat potongan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia, lebih produktif, atau lebih populer.
Rumah baru ditampilkan. Kendaraan baru diperlihatkan. Perjalanan ke berbagai tempat dibagikan. Kesuksesan bisnis diumumkan. Jabatan baru dirayakan. Berbagai pencapaian menjadi konsumsi publik. Tanpa disadari, manusia mulai menggunakan kehidupan orang lain sebagai cermin untuk menilai kehidupannya sendiri.
Ia melihat keberhasilan orang lain lalu merasa tertinggal, melihat kekayaan orang lain lalu merasa kekurangan, melihat karir orang lain lalu merasa gagal. Padahal manusia tidak pernah diciptakan untuk menjalani kehidupan dengan ukuran yang sama.
Setiap orang memiliki kemampuan, amanah, kesempatan, ujian, dan jalan kehidupan yang berbeda. Karena itu, menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran utama kehidupan hanya akan membuat manusia terus merasa tidak cukup. Yang lebih berbahaya adalah ketika perbandingan tersebut akhirnya menentukan arah hidup.
Seseorang memilih pekerjaan bukan karena sesuai dengan kemampuan dan nilai yang diyakininya, tetapi karena pekerjaan tersebut dianggap bergengsi. Ia memilih pendidikan bukan karena ingin memperdalam ilmu, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan. Ia mengejar kekayaan bukan karena ingin memenuhi kebutuhan dan berbagi manfaat, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Pada akhirnya, manusia menjalani kehidupan untuk memenuhi pandangan orang lain.
Ketika Jabatan Menjadi Ukuran Harga Diri
Krisis arah hidup juga dapat terlihat dari cara manusia memandang jabatan. Jabatan pada dasarnya adalah amanah. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul. Namun dalam kehidupan sosial, jabatan sering berubah menjadi sumber kehormatan.
Seseorang dihormati karena posisinya. Pendapatnya dianggap penting karena kekuasaannya. Kehadirannya diperhitungkan karena jabatan yang dimilikinya. Akibatnya, jabatan perlahan menjadi identitas.
Ketika mendapatkan jabatan, seseorang merasa dirinya lebih berharga. Ketika kehilangan jabatan, ia merasa kehilangan dirinya sendiri. Padahal tidak ada jabatan yang bersifat abadi.
Kekuasaan berpindah. Kedudukan berubah. Masa kerja berakhir. Nama yang dahulu dikenal dapat perlahan dilupakan.
Islam justru mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Kekuasaan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi, tetapi kesempatan untuk menjalankan amanah dengan lebih besar.
Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak hanya bertanya, “Seberapa tinggi posisi saya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Seberapa baik amanah yang saya jalankan?”
Al-Qur’an Mengubah Ukuran Kemuliaan
Islam memberikan ukuran kemuliaan yang berbeda dari ukuran yang sering digunakan dalam kehidupan sosial.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, keturunan, popularitas, maupun penampilan. Ukuran kemuliaan di hadapan Allah adalah ketakwaan.
Pesan tersebut penting karena masyarakat modern sering menilai manusia melalui sesuatu yang mudah dilihat. Rumah dapat dilihat. Kendaraan dapat dilihat. Jabatan dapat diketahui. Penghasilan dapat dibayangkan. Popularitas dapat dihitung.
Namun ketakwaan tidak selalu terlihat. Ia berada dalam cara seseorang menjalankan amanah, menjaga kejujuran, menahan diri dari keburukan, memperlakukan orang lain, dan menjaga hubungannya dengan Allah.
Karena itu, seseorang yang terlihat sederhana belum tentu rendah di hadapan Allah. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sukses belum tentu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.
Harta Bukan Musuh, tetapi Jangan Menjadi Tujuan
Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci kekayaan. Harta adalah bagian dari kehidupan. Dengan harta manusia dapat memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang lain, membangun usaha, membiayai pendidikan, dan melakukan berbagai kebaikan.
Yang perlu dijaga adalah hubungan manusia dengan harta.
Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat tersebut memberikan keseimbangan. Manusia tidak diminta meninggalkan dunia. Ia tetap memiliki bagian dari kehidupan dunia. Tetapi dunia tidak boleh membuat manusia kehilangan orientasi akhirat.
Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Jabatan boleh dimiliki, tetapi jangan sampai membuat manusia merasa lebih mulia daripada orang lain. Ilmu boleh menjadikan seseorang unggul, tetapi jangan sampai melahirkan kesombongan. Kesuksesan boleh dikejar, tetapi jangan sampai membuat manusia lupa kepada siapa dirinya akan kembali.
Islam Tidak Mengajarkan Manusia untuk Berhenti Berprestasi
Kesalahpahaman terhadap pembahasan ini perlu dihindari. Membicarakan kesederhanaan dan orientasi akhirat bukan berarti Islam mengajarkan umatnya untuk berhenti berprestasi.
Seorang Muslim tetap harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia harus menuntut ilmu, berusaha memperoleh rezeki yang halal, membangun perusahaan, menjadi profesional, menjadi pemimpin, dan menciptakan berbagai karya yang bermanfaat.
Islam tidak memusuhi kemajuan. Yang perlu diluruskan adalah orientasinya. Kesuksesan dunia seharusnya tidak membuat manusia kehilangan tujuan akhirat. Justru pencapaian dunia dapat menjadi sarana untuk memperbesar manfaat dan menjalankan amanah.
Seorang pengusaha dapat menggunakan kekayaannya untuk membuka lapangan pekerjaan, ilmuwan dapat menggunakan ilmunya untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, dan pemimpin dapat menggunakan kekuasaannya untuk melindungi kepentingan rakyat.
Dengan demikian, ukuran kesuksesan tidak berhenti pada apa yang dimiliki, tetapi juga pada apa yang dilakukan dengan apa yang dimiliki.
Partai X: Pencapaian dan Tujuan Hidup Harus Dibedakan
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai masyarakat perlu membedakan antara pencapaian hidup dan tujuan hidup. Menurutnya, pencapaian merupakan sesuatu yang dapat diraih manusia, sementara tujuan hidup menentukan kemana pencapaian tersebut diarahkan.
“Kita perlu membedakan antara pencapaian hidup dan tujuan hidup. Pencapaian adalah apa yang berhasil kita raih, sedangkan tujuan hidup menjelaskan untuk apa pencapaian itu digunakan,” ujar Prayogi.
Menurutnya, persoalan muncul ketika masyarakat hanya mengajarkan manusia bagaimana mendapatkan kesuksesan tanpa memberikan pemahaman mengenai nilai dan tanggung jawab yang menyertai kesuksesan tersebut.
“Seseorang bisa memiliki pendidikan tinggi, karier yang baik, kekayaan, bahkan jabatan, tetapi tetap kehilangan arah apabila seluruh pencapaiannya tidak memiliki orientasi nilai,” katanya.
Prayogi menilai agama dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam memberikan orientasi tersebut. Agama, menurutnya, tidak harus dipertentangkan dengan kemajuan kehidupan modern.
“Agama memberikan kompas agar manusia tidak kehilangan tujuan ketika mendapatkan banyak pilihan dan pencapaian. Kemajuan tetap penting, tetapi kemajuan harus diarahkan kepada kemanfaatan dan tanggung jawab,” ujar Prayogi.
Penutup: Meluruskan Kembali Arah Kehidupan
Pada akhirnya, krisis arah hidup tidak selalu terlihat seperti seseorang yang tidak mempunyai cita-cita. Kadang-kadang krisis itu justru terlihat pada seseorang yang mempunyai terlalu banyak target, tetapi tidak pernah bertanya apakah target tersebut benar-benar layak menjadi tujuan hidup.
Ia bekerja keras, tetapi tidak tahu untuk apa, mengejar kekayaan, tetapi tidak tahu kemana kekayaan itu akan membawanya, mengejar jabatan, tetapi lupa bahwa jabatan adalah amanah, mengejar popularitas, tetapi lupa bahwa penilaian manusia tidak menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah, mengejar pencapaian, tetapi lupa bahwa kehidupan tidak berhenti ketika pencapaian itu diraih.
Karena itu, seorang Muslim perlu sesekali berhenti dari perlombaan dan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah kehidupan yang sedang saya bangun benar-benar mendekatkan saya kepada Allah?