muslimx.id — Makna kemajuan Indonesia selama ini sering kali diterjemahkan melalui sesuatu yang mudah dilihat dan dihitung. Gedung-gedung tinggi berdiri di tengah kota, jalan raya semakin lebar, kawasan industri berkembang, teknologi semakin canggih, investasi bertambah, dan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu ukuran utama keberhasilan pembangunan. Semua itu memang penting. Namun ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia Indonesia benar-benar menjadi lebih baik karena semua kemajuan tersebut?
Pertanyaan itu penting karena pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang benda yang dibangun, angka yang bertambah, atau teknologi yang semakin modern. Di balik setiap proyek pembangunan terdapat manusia yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama. Jika gedung semakin tinggi tetapi masyarakat semakin tertekan, ekonomi tumbuh tetapi ketimpangan semakin lebar, dan teknologi berkembang tetapi karakter manusia justru melemah, maka makna kemajuan perlu kembali diperiksa.
Kemajuan Tidak Cukup Hanya Terlihat dari Luar
Sebuah negara memang membutuhkan infrastruktur. Jalan, jembatan, bandara, kawasan industri, pusat pendidikan, fasilitas kesehatan, dan teknologi digital merupakan bagian penting dari pembangunan. Tanpa semua itu, sebuah negara akan kesulitan meningkatkan produktivitas dan menghadapi persaingan dunia yang semakin kompleks.
Namun pembangunan fisik hanyalah salah satu bagian dari kemajuan. Negara dapat terlihat modern dari luar tetapi menyimpan berbagai persoalan di dalam. Kualitas pendidikan belum merata, pelayanan publik masih menyulitkan, masyarakat kehilangan rasa aman, keluarga menghadapi tekanan ekonomi, dan ruang sosial semakin penuh ketegangan. Dalam kondisi seperti ini, pembangunan perlu diukur dengan ukuran yang lebih luas daripada sekadar apa yang terlihat oleh mata.
Kemajuan seharusnya membuat manusia memiliki kehidupan yang lebih layak. Jalan yang dibangun seharusnya mempermudah mobilitas masyarakat. Teknologi seharusnya membuat pelayanan semakin mudah. Pertumbuhan ekonomi seharusnya membuka kesempatan yang lebih luas. Pendidikan seharusnya meningkatkan kualitas manusia. Jika pembangunan tidak berujung pada perbaikan kehidupan manusia, maka pembangunan berisiko berubah menjadi tujuan pada dirinya sendiri.
Ketika Angka Ekonomi Menjadi Satu-Satunya Ukuran
Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting bagi sebuah negara. Namun angka pertumbuhan tidak selalu mampu menggambarkan keseluruhan pengalaman masyarakat. Di balik angka statistik terdapat keluarga yang membayar kebutuhan sehari-hari, anak muda yang mencari pekerjaan, pekerja yang berusaha mempertahankan penghasilan, dan masyarakat kecil yang berhadapan dengan kenaikan biaya hidup.
Karena itu, makna kemajuan Indonesia tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan berapa besar ekonomi tumbuh. Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut dan apakah hasil pembangunan benar-benar menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat luas.
Kemajuan juga harus dilihat dari kemampuan negara menciptakan kesempatan. Masyarakat harus memiliki akses terhadap pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak, layanan kesehatan, lingkungan yang aman, dan ruang untuk mengembangkan potensi. Jika berbagai kemajuan hanya dinikmati oleh sebagian kelompok sementara sebagian lainnya semakin sulit mengejar kehidupan yang layak, maka pembangunan masih menyisakan persoalan keadilan.
Islam Memandang Pembangunan sebagai Jalan Menuju Maslahah
Dalam perspektif Islam, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan manusia menguasai sumber daya. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kekuasaan, ilmu, teknologi, dan kekayaan digunakan bagi kemaslahatan.
Konsep maslahah mengajarkan bahwa sesuatu dinilai dari manfaat dan kebaikan yang dihadirkannya bagi kehidupan. Karena itu, pembangunan tidak cukup dinilai dari seberapa besar proyeknya, seberapa megah bangunannya, atau seberapa tinggi nilai investasinya. Yang juga harus ditanyakan adalah apakah pembangunan tersebut menghadirkan manfaat nyata, mengurangi kesulitan, menjaga kehidupan, dan menciptakan keadilan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Qashash ayat 77 agar manusia berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Prinsip ini memberikan landasan bahwa kemampuan manusia membangun kehidupan harus berjalan bersama tanggung jawab untuk menjaga kehidupan itu sendiri.
Dengan demikian, Islam tidak menolak kemajuan material. Justru ilmu, teknologi, perdagangan, pembangunan, dan pengelolaan sumber daya dapat menjadi bagian dari ikhtiar manusia. Yang perlu dijaga adalah arah kemajuan tersebut. Kemajuan harus menjadi sarana menghadirkan kebaikan, bukan sekadar simbol keberhasilan.
Manusia Harus Tetap Menjadi Pusat Pembangunan
Persoalan terbesar muncul ketika pembangunan terlalu berorientasi pada benda dan melupakan manusia. Sebuah kota dapat memiliki gedung pencakar langit, tetapi kualitas kehidupan warganya tetap harus menjadi perhatian. Daerah dapat memiliki kawasan industri besar, tetapi masyarakat di sekitarnya juga harus mendapatkan manfaat ekonomi dan sosial. Sebuah negara dapat memiliki teknologi mutakhir, tetapi pendidikan karakter dan kualitas manusianya tidak boleh ditinggalkan.
Pembangunan manusia memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat. Membangun karakter membutuhkan waktu. Meningkatkan kualitas pendidikan membutuhkan generasi. Membentuk budaya disiplin membutuhkan proses panjang. Membangun kepercayaan sosial juga tidak dapat dilakukan melalui satu proyek.
Namun justru hal-hal seperti itulah yang menentukan apakah pembangunan akan bertahan dalam jangka panjang. Infrastruktur dapat dibangun dalam beberapa tahun, tetapi manusia yang mampu merawat, mengembangkan, dan menggunakan seluruh kemajuan tersebut membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Partai X: Kemajuan Harus Diukur dari Perubahan Kehidupan Manusia
Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa Indonesia perlu memperluas cara memandang kemajuan. Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada pencapaian yang mudah dipamerkan, tetapi harus melihat perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak gedung yang dibangun, berapa besar investasi yang masuk, atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi lupa bertanya apakah manusia yang hidup di dalamnya menjadi lebih baik,” ujar Prayogi.
Menurutnya, kemajuan sebuah negara seharusnya terlihat dari kualitas manusianya. Pendidikan yang semakin baik, pelayanan publik yang semakin manusiawi, kesempatan ekonomi yang semakin terbuka, lingkungan sosial yang semakin sehat, dan masyarakat yang semakin memiliki kemampuan untuk berdiri mandiri merupakan bagian penting dari ukuran kemajuan.
Prayogi juga menekankan bahwa pembangunan fisik tetap penting, tetapi harus ditempatkan sebagai instrumen. “Gedung, jalan, teknologi dan investasi adalah alat. Tujuan akhirnya tetap manusia. Kalau alatnya semakin maju tetapi kehidupan manusianya tidak ikut membaik, kita perlu mengevaluasi kembali apa yang sebenarnya kita sebut sebagai kemajuan,” katanya.
Penutup: Indonesia Maju Bukan Sekadar Indonesia yang Modern
Pada akhirnya, makna kemajuan Indonesia perlu dikembalikan kepada pertanyaan paling sederhana: untuk apa pembangunan dilakukan? Jawabannya tidak boleh berhenti pada pertumbuhan angka, kemegahan kota, atau kemampuan bersaing dengan negara lain. Semua itu penting, tetapi tujuan akhirnya harus kembali kepada kehidupan manusia.
Indonesia yang maju bukan hanya Indonesia yang memiliki gedung tinggi, jalan besar, teknologi canggih, dan ekonomi yang kuat. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang mampu menggunakan seluruh kekuatan tersebut untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, berpendidikan, sejahtera, berkarakter, dan memiliki masa depan.
Dalam Islam, kemajuan yang memiliki nilai bukan hanya kemajuan yang menghasilkan banyak hal, tetapi kemajuan yang menghadirkan maslahah dan menjauhkan manusia dari kerusakan. Karena itu, pembangunan perlu terus bergerak, tetapi arah geraknya harus selalu diperiksa.
Sebab ukuran kemajuan yang paling penting pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi bangunan yang berhasil kita dirikan, tetapi seberapa tinggi kualitas manusia yang tumbuh di bawahnya.