Makna Kemajuan Indonesia dalam Islam: Ketika Teknologi Maju tetapi Kualitas Manusia Tertinggal

muslimX
By muslimX
8 Min Read

muslimx.id  — Makna kemajuan Indonesia pada era digital semakin sering dikaitkan dengan kemampuan sebuah negara menguasai teknologi. Kecerdasan buatan berkembang, layanan digital semakin luas, kendaraan listrik mulai menjadi bagian dari kehidupan, industri bergerak menuju otomatisasi, dan berbagai aktivitas masyarakat dapat dilakukan melalui perangkat yang berada di genggaman.

Semua perkembangan tersebut tentu merupakan pencapaian penting. Teknologi dapat membuat pekerjaan lebih cepat, membuka kesempatan ekonomi, memperluas akses pendidikan, dan mempermudah pelayanan. Namun di tengah perlombaan menuju masyarakat digital, ada pertanyaan yang tidak boleh dilupakan: apakah kualitas manusia berkembang secepat teknologi yang diciptakannya?

Sebab teknologi pada akhirnya hanyalah alat. Ia dapat digunakan untuk membangun kehidupan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebohongan, melakukan penipuan, memperbesar kebencian, atau menggantikan tanggung jawab manusia. Karena itu, ukuran kemajuan tidak cukup dilihat dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa dewasa manusia dalam menggunakannya.

Teknologi Semakin Canggih, Manusia Harus Semakin Bijak

Kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan. Masyarakat dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik, melakukan transaksi tanpa harus datang ke tempat tertentu, mengikuti pembelajaran dari jarak jauh, hingga menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu berbagai pekerjaan.

Namun kemudahan tidak selalu menghasilkan kedewasaan. Informasi yang cepat dapat membuat masyarakat semakin mudah terjebak pada informasi palsu. Media sosial dapat menghubungkan manusia sekaligus memperbesar konflik. Kecerdasan buatan dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat digunakan tanpa tanggung jawab. Teknologi komunikasi membuat manusia semakin mudah berbicara, tetapi belum tentu semakin mampu mendengarkan.

Di sinilah persoalan makna kemajuan Indonesia menjadi lebih dalam. Jika teknologi berkembang tetapi kemampuan manusia mengendalikan dirinya tidak ikut berkembang, maka kemajuan tersebut dapat menciptakan persoalan baru. Negara membutuhkan manusia yang bukan hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memiliki akal sehat, etika, tanggung jawab, dan kemampuan membedakan antara sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang merusak.

Kemajuan Digital Tidak Boleh Mengorbankan Karakter

Ada kecenderungan untuk mengukur kesiapan sebuah negara memasuki masa depan dari jumlah teknologi yang digunakan. Semakin banyak layanan digital, semakin modern sebuah kota. Ketikan banyak penggunaan kecerdasan buatan, semakin maju industrinya. Semakin cepat konektivitas internet, semakin siap masyarakat menghadapi masa depan.

Ukuran tersebut memang penting, tetapi tidak lengkap. Kemajuan teknologi tanpa karakter dapat menciptakan masyarakat yang semakin cepat tetapi kehilangan arah. Manusia dapat memperoleh informasi dengan sangat mudah tetapi tidak memiliki kemampuan menyaringnya. Orang dapat berkomunikasi dengan ribuan orang tetapi kehilangan kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan orang terdekat.

Karena itu, pembangunan teknologi harus berjalan bersama pembangunan manusia. Pendidikan digital harus disertai pendidikan etika. Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan harus diiringi kesadaran tentang tanggung jawab. Kemajuan industri harus berjalan bersama perlindungan terhadap manusia yang terdampak perubahan teknologi.

Islam Menempatkan Ilmu sebagai Jalan Menuju Kebaikan

Islam tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban. Sebaliknya, tradisi Islam memiliki sejarah panjang dalam pengembangan ilmu, pendidikan, kedokteran, matematika, astronomi, dan berbagai bidang pengetahuan. Namun ilmu dalam Islam tidak berdiri tanpa arah moral.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat tersebut menunjukkan kedudukan penting ilmu dalam Islam. Namun ilmu bukan sekadar alat untuk meningkatkan kemampuan manusia. Ilmu juga membawa tanggung jawab. Semakin besar kemampuan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula pertanyaan tentang bagaimana kemampuan tersebut digunakan.

Karena itu, makna kemajuan Indonesia dalam perspektif Islam tidak dapat dipisahkan dari kualitas manusia yang menguasai ilmu tersebut. Teknologi yang maju harus berada di tangan manusia yang memiliki tanggung jawab. Kecerdasan harus berjalan bersama akhlak. Kemampuan harus berjalan bersama amanah.

Jangan Sampai Manusia Hanya Menjadi Pengguna Teknologi

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah posisi manusia di tengah perkembangan teknologi. Ketika berbagai pekerjaan mulai mengalami otomatisasi, masyarakat perlu memikirkan bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan manusia tetap memiliki ruang untuk berkembang.

Teknologi seharusnya membantu manusia mengerjakan sesuatu dengan lebih baik, bukan membuat manusia kehilangan nilai dirinya. Efisiensi memang penting, tetapi manusia tidak hanya membutuhkan efisiensi. Manusia juga membutuhkan pendidikan, pekerjaan yang bermartabat, hubungan sosial, rasa memiliki, dan kesempatan untuk memberikan kontribusi.

Karena itu, kemajuan teknologi harus diikuti dengan kebijakan yang mempersiapkan manusia. Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja. Keterampilan baru perlu dikembangkan. Anak muda harus dibekali kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Pada saat yang sama, nilai-nilai moral tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang kuno.

Partai X: Teknologi Harus Membuat Manusia Lebih Berdaya

Direktur X-Institute, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada anggapan bahwa kepemilikan teknologi otomatis menunjukkan kemajuan sebuah bangsa.

“Teknologi adalah alat ukur kemampuan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kemajuan. Kita harus bertanya apakah teknologi membuat manusia Indonesia semakin berdaya, semakin produktif, semakin berpengetahuan, dan semakin bertanggung jawab,” ujar Prayogi.

Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya bagaimana mengadopsi teknologi baru, tetapi bagaimana mempersiapkan manusia agar mampu hidup berdampingan dengan perubahan tersebut. Teknologi akan terus berkembang, sementara manusia harus memiliki kemampuan untuk mengarahkan perkembangan itu agar memberikan manfaat.

“Kalau teknologinya semakin canggih tetapi manusianya kehilangan arah, maka kita hanya mengalami kemajuan teknis. Kita belum tentu mengalami kemajuan sebagai bangsa,” katanya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan teknologi. Keduanya harus berjalan bersama. Negara yang memiliki teknologi maju membutuhkan manusia yang mampu menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Penutup: Kemajuan Harus Membuat Manusia Lebih Baik

Pada akhirnya, makna kemajuan Indonesia tidak boleh berhenti pada kemampuan mengikuti perkembangan teknologi dunia. Indonesia memang harus menguasai kecerdasan buatan, membangun ekosistem digital, meningkatkan produktivitas industri, dan memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki pelayanan masyarakat.

Namun semua itu harus kembali kepada tujuan yang lebih besar: membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Dalam perspektif Islam, ilmu dan kemampuan merupakan amanah. Kemajuan akan memiliki nilai ketika ilmu digunakan untuk kemaslahatan, teknologi digunakan untuk mempermudah kehidupan, dan inovasi digunakan untuk mengurangi kesulitan manusia.

Karena itu, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu menciptakan teknologi. Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki kebijaksanaan untuk menentukan teknologi itu digunakan untuk apa dan untuk siapa.

Sebab bangsa yang benar-benar maju bukan hanya bangsa yang mampu menciptakan teknologi paling canggih, tetapi bangsa yang mampu memastikan bahwa semakin tinggi teknologi yang dimilikinya, semakin tinggi pula kualitas manusia yang menggunakannya.

Share This Article