muslimx.id — Identitas kampung Indonesia tidak hanya dibentuk oleh siapa yang tinggal di dalamnya, tetapi juga oleh ruang yang memungkinkan masyarakat saling bertemu. Dahulu, kehidupan kampung berlangsung tidak hanya di dalam rumah. Teras menjadi tempat berbincang, halaman menjadi tempat anak-anak bermain, jalan menjadi ruang warga bertegur sapa, sementara masjid menjadi tempat berkumpul sekaligus pusat kehidupan sosial.
Kini, banyak ruang tersebut perlahan berubah. Halaman rumah semakin sempit karena bangunan bertambah. Teras digantikan pagar tinggi. Jalan kampung semakin dipenuhi kendaraan. Lapangan berubah menjadi bangunan. Ruang terbuka yang dahulu menjadi milik bersama mulai berkurang. Kampung tetap dihuni banyak orang, tetapi ruang untuk mempertemukan mereka semakin sedikit.
Ketika Jalan Kampung Kehilangan Fungsi Sosial
Jalan kampung pada dasarnya bukan hanya jalur untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bagi masyarakat, jalan pernah menjadi ruang sosial yang sangat sederhana. Anak-anak bermain, orang tua duduk berbincang, pedagang lewat, dan warga saling menyapa ketika berpapasan. Tidak ada desain khusus yang membuatnya menjadi ruang publik, tetapi kehidupan masyarakat sendirilah yang memberikan fungsi tersebut.
Perubahan kebutuhan membuat fungsi itu semakin berkurang. Kendaraan semakin banyak, rumah semakin rapat, dan keamanan membuat sebagian warga memilih membatasi akses dengan pagar atau portal. Jalan akhirnya lebih banyak digunakan untuk kendaraan daripada pertemuan. Padahal, interaksi sosial sering kali tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil yang tidak direncanakan. Sapaan singkat di depan rumah, percakapan dengan tetangga, atau anak-anak yang bermain bersama dapat menjadi bagian penting dari terbentuknya rasa memiliki terhadap kampung.
Teras dan Halaman yang Dulu Menjadi Ruang Bersama
Dalam banyak kampung, teras rumah dahulu memiliki batas yang tidak terlalu tegas antara ruang pribadi dan ruang sosial. Orang dapat duduk di depan rumah sambil berbincang dengan tetangga. Anak-anak berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya. Orang tua dapat mengawasi anak-anak sambil berbicara dengan warga sekitar. Kehidupan berlangsung lebih terbuka.
Kini, bentuk rumah semakin banyak menyesuaikan kebutuhan privasi. Pagar menjadi lebih tinggi, halaman semakin sempit, dan ruang depan rumah lebih sering digunakan untuk kendaraan. Perubahan ini tentu memiliki alasan dan tidak selalu buruk. Setiap keluarga berhak memiliki privasi dan rasa aman. Namun, ketika hampir seluruh ruang kampung berubah menjadi ruang privat, masyarakat kehilangan tempat untuk berinteraksi secara alami.
Di sinilah pembangunan perlu melihat ruang dari sudut pandang yang lebih luas. Rumah memang milik keluarga, tetapi lingkungan di sekitarnya juga memiliki fungsi sosial. Sebuah kampung yang baik bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi manusia untuk bertemu dan membangun hubungan.
Masjid sebagai Jantung Kehidupan Kampung
Dalam tradisi masyarakat Muslim, masjid memiliki posisi yang sangat penting. Masjid bukan hanya tempat melaksanakan salat, tetapi juga dapat menjadi pusat pembentukan hubungan sosial. Setelah salat berjamaah, warga dapat saling menyapa. Anak-anak belajar mengaji. Orang tua bertemu. Kegiatan sosial dan keagamaan dapat tumbuh dari tempat tersebut.
Karena itu, keberadaan masjid dalam sebuah kampung tidak seharusnya hanya dilihat dari bentuk bangunannya. Yang lebih penting adalah apakah masjid benar-benar hidup bersama masyarakat. Masjid yang terbuka bagi kegiatan pendidikan, pengajian, sosial, dan pembinaan anak muda dapat menjadi salah satu penjaga identitas kampung di tengah perubahan zaman.
Allah berfirman dalam QS At-Taubah ayat 18 bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mendirikan salat dan menunaikan zakat. Pesan ini memperlihatkan bahwa memakmurkan masjid bukan sekadar membangun fisiknya, tetapi juga menghidupkan fungsi dan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Ketika Ruang Publik Semakin Sedikit
Kehilangan ruang bersama sering kali terjadi secara perlahan. Sebuah lapangan dianggap tidak produktif lalu dibangun. Sebuah lahan kosong digunakan untuk kepentingan komersial. Tepi jalan dipenuhi bangunan. Halaman fasilitas umum dipagari. Satu per satu ruang yang dahulu dapat digunakan masyarakat akhirnya berubah fungsi.
Secara ekonomi, keputusan tersebut mungkin terlihat masuk akal. Tanah memiliki nilai dan kebutuhan pembangunan terus meningkat. Namun, masyarakat juga perlu mempertimbangkan nilai sosial sebuah ruang. Tidak semua ruang harus menghasilkan uang agar dianggap berguna. Tempat bermain anak, taman kecil, lapangan, halaman masjid, atau ruang terbuka dapat menghasilkan sesuatu yang tidak langsung terlihat, yaitu kesehatan sosial masyarakat.
Jika ruang bersama semakin sedikit, masyarakat akan semakin banyak menghabiskan kehidupan di ruang privat. Anak-anak berada di dalam rumah, orang tua sibuk dengan pekerjaan, dan interaksi warga berpindah ke layar telepon. Kampung kemudian kehilangan salah satu unsur penting yang membuatnya berbeda dari lingkungan perkotaan yang sangat individualistis.
Partai X: Jangan Mengukur Semua Ruang dengan Nilai Ekonomi
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, melihat bahwa salah satu persoalan pembangunan lingkungan adalah kecenderungan menilai ruang hanya berdasarkan fungsi ekonominya. Padahal, menurutnya, sebuah ruang yang tidak menghasilkan keuntungan finansial belum tentu tidak memiliki nilai bagi masyarakat.
“Lapangan kecil, teras, jalan kampung, halaman masjid, bahkan pohon besar bisa memiliki nilai sosial yang sangat besar. Jangan sampai semua ruang yang tidak menghasilkan uang dianggap tidak berguna. Ada ruang yang memang dibutuhkan masyarakat untuk bertemu, bermain, berbicara, dan membangun rasa kebersamaan,” ujar Rinto.
Menurutnya, perencanaan kampung perlu kembali memperhitungkan manusia sebagai pusat pembangunan. Sebuah lingkungan tidak cukup hanya aman dan tertata. Ia juga harus memungkinkan manusia berinteraksi. Ketika anak-anak memiliki tempat bermain, orang tua memiliki ruang untuk bertemu, dan masyarakat memiliki tempat untuk melakukan kegiatan bersama, identitas kampung akan lebih mudah dipertahankan.
Membangun Ruang yang Menghidupkan Manusia
Kampung masa depan tidak harus kembali persis seperti kampung puluhan tahun lalu. Tantangan masyarakat sudah berubah. Kendaraan bertambah, kebutuhan privasi meningkat, teknologi berkembang, dan pola pekerjaan menjadi semakin kompleks. Karena itu, ruang kampung juga harus menyesuaikan diri.
Namun, penyesuaian tidak berarti menghilangkan seluruh ruang sosial. Kampung dapat memiliki taman kecil, ruang bermain anak, lapangan multifungsi, teras komunitas, ruang kegiatan warga, atau halaman masjid yang dirancang agar lebih terbuka. Bahkan jalan kampung dapat ditata sehingga pada waktu tertentu tetap nyaman digunakan warga untuk berinteraksi.
Yang penting bukan bentuk ruangnya, tetapi fungsi sosial yang ingin dipertahankan. Pembangunan seharusnya bertanya bukan hanya berapa banyak rumah yang dapat dibangun, tetapi juga apakah masyarakat masih memiliki tempat untuk bertemu setelah semua rumah itu berdiri.
Kampung Bukan Sekadar Tempat Tinggal
Pada akhirnya, identitas kampung Indonesia sangat berkaitan dengan keberadaan ruang bersama. Sebuah kampung kehilangan sebagian karakternya ketika manusia tidak lagi memiliki tempat untuk saling bertemu secara alami. Rumah menjadi semakin nyaman, tetapi hubungan sosial semakin jauh. Jalan semakin tertata, tetapi tidak lagi menjadi ruang kehidupan. Bangunan semakin banyak, tetapi tempat masyarakat berkumpul semakin sedikit.
Islam mengajarkan pentingnya kehidupan sosial, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, membangun kampung seharusnya tidak hanya berarti memperbaiki bangunan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan nilai-nilai tersebut tumbuh.
Kampung yang baik bukanlah kampung yang seluruh ruangnya dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan ekonomi. Kampung yang baik adalah kampung yang masih menyisakan ruang bagi manusia untuk menjadi manusia: bertemu, berbicara, bermain, beribadah, membantu, dan hidup bersama.
Sebab ketika ruang bersama menghilang, yang perlahan hilang bukan hanya tempatnya. Yang ikut menghilang adalah kesempatan masyarakat untuk membangun hubungan. Dan ketika hubungan itu semakin lemah, identitas kampung Indonesia pun perlahan kehilangan jiwanya.